21 Lokomotif Kuno di Stasiun Ambarawa Direhabilitasi

Kompas.com - 28/01/2015, 15:00 WIB
seorang pekerja tengah mengecat ulang salah satu lokomotif uap koleksi Museum Ambarawa, Rabu (28/1/2015) siang.
kompas.com/ syahrul munirseorang pekerja tengah mengecat ulang salah satu lokomotif uap koleksi Museum Ambarawa, Rabu (28/1/2015) siang.
|
EditorGlori K. Wadrianto
AMBARAWA, KOMPAS.com - Sebanyak 21 lokomotif uap kuno yang menjadi koleksi Museum Kereta Api Ambarawa, Kabupaten Semarang diperbaiki bagian yang rusak dan dicat ulang sesuai warna aslinya.

Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari revitalisasi Stasiun Ambarawa, yang dilakukan oleh Ditjen Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan RI. "Jadi selain memperbaiki bangunan dan fasilitas fisik dari Stasiun Ambarawa, kami juga sedang melakukan pengecetan dan perbaikan fisik dari 21 koleksi loko," kata Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Suprapto, Rabu (28/1/2015) siang.

Pekerjaan pengecatan dan perbaikan benda pajang koleksi museum ini telah dimulai sekitar bulan November lalu, dan ditargetkan selesai pada akhir bulan Maret 2015 mendatang.

Melalui proyek ini, diharapkan masyarakat akan menjadi lebih tertarik untuk berkunjung ke Museum Ambarawa yang menyatu dengan Stasiun Ambarawa ini. "Selain itu masyarakat juga bisa lebih menikmati keindahan lokomotif uap yang telah menghiasi sejarah transportasi di Indonesia selama puluhan tahun, dalam kondisi seperti diawal-awal kejayaannya," tambah dia.

Saat ini, jumlah koleksi lokomotif di Stasiun Ambarawa ada 26 buah. Terdiri dari 21 lokomotif uap sebagai benda pajang Museum dan lima lokomotif yang masih bisa beroperasi. Kelima lokomotif yang masih bisa beroperasi itu terdiri dari 3 lokomotif uap dan 2 lokomotif diesel.

"Tiga loko uap yang aktif masing-masing berseri B5112, B2502 dan B2503 dan dua lokomotif jenis diesel yang aktif berseri D 30023 dan D 30124," kata Suprapto.

Menurut Suprapto, diharapkan proyek revitalisasi Stasiun Ambarawa akan selesai seiring dengan beroperasinya program reaktivasi jalur kereta api Kedungjati (Kabupaten Grobogan) – Tuntang (Kabupaten Semarang) pada Mei 2015.

Logam rapuh  
Prioses perbaikan lokomotif yang sudah berusia puluhan tahun membutuhkan ketelatenan dan ketelitian. Ismail, salah seorang pekerja mengakui, selama memperbaiki loko uap kuno ini dia sangat berhati-hati. Selain banyak detail bagian bodi yang rumit, bagian bodi juga banyak yang rapuh karena dimakan usia.

Alhasil, proses perbaikan ini lebih banyak dilakukan dengan mengganti bagian yang usang. "Kalau yang masih bagus cuma di amplas terus dicat. Tapi yang rapuh harus ditambal dengan pelat besi baru, sebelum dicat ulang sesuai warna aslinya. Kebanyaan pelat bodinya sudah berusia 80 tahun ke atas,” kata Ismail, salah satu petugas.

Perbaikan dan pengecatan kembali loko uap kuno ini disambut baik oleh masyarakat. Wisnu warga Gunungpati, Kota Semarang salah satu pengunjung Museum Kereta Api Ambarawa mengatakan, perbaikan seperti ini akan membuat lokomotif kuno semakin terawat.

"Dulu pernah ke sini, banyak koleksi kereta yang tampak rusak karena dipajang di ruang terbuka. Mungkin kena panas hujan lansung, jadinya berkarat dan besinya mulai rapuh," ujar Wisnu.

Meski senang, namun Wisnu juga menyimpang rasa was-was seandainya perbaikan dan pengecatan lokomotif uang kuno ini dilakukan secara serampangan. Sebab setahu dia, koleksi museum kereta api Ambarawa ini paling lengkap dan paling terawat di Indonesia. "Selama perbaikan ini tak merubah bentuk dan warna aslinya, lokomotif tua ini tetap menarik, karena sudah langka,” tegasnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polisi Aceh Perketat Wilayah Laut, Antisipasi TKI dari Malaysia

Polisi Aceh Perketat Wilayah Laut, Antisipasi TKI dari Malaysia

Regional
Masuk ke Kota Padang Wajib Gunakan Masker jika Tak Ingin Kena Denda

Masuk ke Kota Padang Wajib Gunakan Masker jika Tak Ingin Kena Denda

Regional
Kegigihan Napi Perempuan, Produksi Masker di Tengah Wabah Corona

Kegigihan Napi Perempuan, Produksi Masker di Tengah Wabah Corona

Regional
Ditemukan 21 Klaster Penyebaran Virus Corona di Jatim, Pelatihan Petugas Haji Terbesar

Ditemukan 21 Klaster Penyebaran Virus Corona di Jatim, Pelatihan Petugas Haji Terbesar

Regional
Dalam 3 Hari, Tiga PDP di Banjarmasin Meninggal, 2 Orang Positif Covid 19

Dalam 3 Hari, Tiga PDP di Banjarmasin Meninggal, 2 Orang Positif Covid 19

Regional
Sumbangan Berdatangan, Ribuan APD Siap Dibagikan kepada Tim Medis

Sumbangan Berdatangan, Ribuan APD Siap Dibagikan kepada Tim Medis

Regional
Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Halmahera Barat, Maluku Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Halmahera Barat, Maluku Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Regional
Pasien Positif Corona di Riau Bertambah Jadi 11 Orang

Pasien Positif Corona di Riau Bertambah Jadi 11 Orang

Regional
Kisah Haru Tiga Bocah di Makassar Bongkar Celengan untuk Tenaga Medis Beli Masker

Kisah Haru Tiga Bocah di Makassar Bongkar Celengan untuk Tenaga Medis Beli Masker

Regional
Bocah 5 Tahun Tiba-tiba Menghilang Saat Diajak Ibunya Isi Pulsa, Besoknya Ditemukan Tewas di Gorong-gorong

Bocah 5 Tahun Tiba-tiba Menghilang Saat Diajak Ibunya Isi Pulsa, Besoknya Ditemukan Tewas di Gorong-gorong

Regional
Gempa 6,1 M Guncang Maluku Utara, Warga di Sitaro, Sulut, Sempat Keluar Rumah

Gempa 6,1 M Guncang Maluku Utara, Warga di Sitaro, Sulut, Sempat Keluar Rumah

Regional
Cegah Corona, Pemkab Nias Selatan Tutup Akses Masuk Wilayah

Cegah Corona, Pemkab Nias Selatan Tutup Akses Masuk Wilayah

Regional
Tak Bayar Rp 700.000, Penumpang Ojol Ini Hanya Tinggalkan Sandal Jepit, Begini Ceritanya

Tak Bayar Rp 700.000, Penumpang Ojol Ini Hanya Tinggalkan Sandal Jepit, Begini Ceritanya

Regional
2 Desa di Rokan Hulu Dilanda Banjir

2 Desa di Rokan Hulu Dilanda Banjir

Regional
PDP di RSUD Sambas Meninggal, Riwayat Perjalanan Berobat Kanker di Malaysia

PDP di RSUD Sambas Meninggal, Riwayat Perjalanan Berobat Kanker di Malaysia

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X