Limbah PT Kaltim Prima Coal Cemari Sungai Sangatta

Kompas.com - 16/01/2015, 17:00 WIB
Bupati Kutai Timur, Isran Noor. Tribun Kaltim/Kholish CheredBupati Kutai Timur, Isran Noor.
|
EditorFarid Assifa
SAMARINDA, KOMPAS.com - Lagi, Sungai Sangatta, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim) tercemar oleh limbah aktivitas pertambangan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Akibatnya, Sungai Sangatta menjadi kotor dan berwarna coklat. Padahal, sungai tersebut digunakan masyarakat Sangatta untuk kebutuhan sehari-hari.

Bupati Kutai Timur Isran Noor membenarkan hal itu. Dia mengatakan, peristiwa pencemaran oleh perusahaan tambang KPC, diakibatkan dari limbah yang keluar sebelum diolah. Penyebab utamanya karena dorongan dari hujan lebat, sedangkan kolam penampungan terus meluber dan tidak bisa menampung limbah.

“Iya, benar terjadi pencemaran, yang berasal dari pengolahan limbah itu tidak sesuai kapasitas air. Saat hujan turun, air melimpah. Sedangkan limbah yang belum diolah tumpah, padahal belum diproses. Jadi mestinya diolah dulu, belum sempat diproses,” kata Isran, Jumat (16/1/2015).

Seharusnya, kata dia, sebelum limbah-limbah hasil tambang dilepas ke sungai, harus disimpan di sed pon atau kolam pengendap untuk diolah. Sehingga, jika air limbah sudah sesuai dengan baku mutu air, baru boleh dilepas ke sungai.

“Saya pikir, ini murni karena hujan lebat dan tidak ada unsur kesengajaan. Limbah tersebut belum sempat diolah, tapi sudah keluar duluan karena hujan,” ujarnya.

Isran juga membenarkan, akibat dari pencemaran itu, PDAM Kutai Timur sempat mengurangi produksinya.

“Jadi warga harus rela kekurangan air bersih karena PDAM menggilir aliran air. Karena Sungai Sangatta adalah sumber air baku PDAM. Jadi, karena pencemaran itu, kapasitas produksi diturunkan sampai 60 persen dan masyarakat harus bergiliran,” ungkap bupati yang juga ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) itu.

Diketahui, laporan tersebut bermula dari keluhan masyarakat Sangatta yang tidak bisa menggunakan air sungai lantaran berwarna coklat. Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kutim memeriksa dan menguji laboraturium kadar air tersebut, serta menemukan tingkat kekeruhan Sungai Sangatta yang sangat tinggi pada akhir November 2014 lalu. Setelah ditelusuri, penyebab utama pencemaran tersebut terletak dari Sungai Bendili, yang merupakan anak Sungai Sangatta. Di hulu Sungai Bendili berada aktivitas pertambangan batu bara milik KPC, yang diketahui merupakan kawasan Pit Pelikan SP, dan menjadi pintu air terakhir sebelum dilepas ke Sungai.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X