Kompas.com - 09/12/2014, 09:10 WIB
Ernawati Waer (59), warga Kampung Ciwalengke, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memperlihatkan air selokan (kanan) dan air hasil penyaringan di sumur resapan yang biasa dipakai warga desanya. KOMPAS.com/Reni SusantiErnawati Waer (59), warga Kampung Ciwalengke, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memperlihatkan air selokan (kanan) dan air hasil penyaringan di sumur resapan yang biasa dipakai warga desanya.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
BANDUNG, KOMPAS.com – Air berwarna cokelat mengalir deras di selokan Kampung Ciwalengke, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sekilas, selokan selebar setengah meter ini tampak sama dengan selokan pada umumnya. Namun, saat musim kemarau tiba, selokan ini adalah satu-satunya andalan sumber air bagi warga Desa Sukamaju.

Hanya pada saat musim penghujan seperti sekarang, tutur Pepen (40), salah satu warga RW 07 Ciwalengke, sebagian warga saja yang masih memanfaatkan air dari selokan tersebut. Namun, begitu musim kemarau tiba, berbondong-bondonglah warga membendung selokan berair cokelat tersebut untuk dialirkan ke rumah mereka.

“Sumur kami kurang dalam, jadinya air gampang kering. Untuk memenuhi kebutuhan air, biasanya kami membendung selokan dan mengalirkannya ke sumur resapan yang ada di tiap rumah,” tutur Pepen kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Sumur resapan yang dimaksud Pepen adalah sebuah bak atau tempat penampungan air yang di dalamnya sengaja diberi tanah. Untuk mengurangi kadar zat berbahaya dari air selokan, warga menggunakan tanah di sumur resapan itu sebagai penyaring, sebelum memakai air bersumber dari selokan itu untuk mandi atau mencuci.

Berubah sesuai warna limbah

“Sekarang air selokannya sedang berwarna cokelat terang, tapi kalau pabrik sedang buang limbah warnanya bisa berubah menjadi merah, biru, hitam, atau cokelat pekat,” tutur Pepen. Dia mengatakan, air selokan andalan kampungnya ini memang kerap bercampur dengan limbah dari pabrik kain.

Ketika pabrik sedang mencelup kain berwarna merah, kata Pepen, maka air selokan pun bakal turut berwarna merah. Pun ketika pencelup yang dipakai pabrik berwarna hitam, tak urung air selokan juga berubah menjadi kehitaman.

Soal bahaya menggunakan air bercampur limbah ini bukan tak disadari warga. Itulah kenapa, kata Pepen, warga menyaring air selokan di sumur resapan bertanah, yang itu pun belum pernah diuji ada atau tidak gunanya untuk membuat air lebih aman digunakan.

Untuk memasak dan minum, kata Pepen, warga memang tak memakai air selokan tetapi membeli air isi ulang dalam kemasan galon. "Kami juga takut kalau minum air dari selokan," ujar dia. Alternatif selain air galon, hanyalah minta air dari rumah yang sudah berlangganan air dari jaringan PDAM.

Tak kunjung bersolusi

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Zakat ASN Pemprov Jateng 2021 Terkumpul Rp 57 Miliar, Berikut Rincian Penyalurannya

Regional
Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-'bully' Warganet

Berencana Kembalikan Bantuan dari Ganjar, Fajar Malah Di-"bully" Warganet

Regional
Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Cegah Omicron di Jateng, Ganjar: Tolong Prokes Dijaga Ketat

Regional
Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Sambut Tahun Baru, Dompet Dhuafa Gelar Doa Bersama di Lapas Narkotika Gunung Sindur

Regional
Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Bantuan Tunai Kurang Efektif Entaskan Kemiskinan, Pemprov Jateng Genjot Pembangunan RSLH

Regional
Hasil Monitor Dishub, Ada 162 Truk Angkutan Batu Bara Lintasi Underpass Banjarsari Per Jam

Hasil Monitor Dishub, Ada 162 Truk Angkutan Batu Bara Lintasi Underpass Banjarsari Per Jam

Regional
Cek Langsung ke Pasar Sukomoro, Wagub Emil Dapati Harga Bawang Merah Turun

Cek Langsung ke Pasar Sukomoro, Wagub Emil Dapati Harga Bawang Merah Turun

Regional
Indeks Kebahagiaan Jateng Meningkat, Ganjar: Semua Tak Lepas dari Peran Masyarakat

Indeks Kebahagiaan Jateng Meningkat, Ganjar: Semua Tak Lepas dari Peran Masyarakat

Regional
Lewat JIF, Ridwan Kamil Terima Gagasan Program Stratregis Jabar dari 32 Profesional Muda

Lewat JIF, Ridwan Kamil Terima Gagasan Program Stratregis Jabar dari 32 Profesional Muda

Regional
Libur Tahun Baru, Pemprov Jabar Perketat Penjagaan Tempat-tempat Viral Pariwisata

Libur Tahun Baru, Pemprov Jabar Perketat Penjagaan Tempat-tempat Viral Pariwisata

Regional
Pemprov Jabar Gagas Program Kualifikasi Kepsek Berintegritas Pertama di Indonesia

Pemprov Jabar Gagas Program Kualifikasi Kepsek Berintegritas Pertama di Indonesia

Regional
Program 'Jangkar', Upaya Dompet Dhuafa Berdayakan Perajin Rotan di Majalengka

Program "Jangkar", Upaya Dompet Dhuafa Berdayakan Perajin Rotan di Majalengka

Regional
Tanggapi Hasil Pemeriksaan BPK, Wagub Jabar: Insya Allah Akan Saya Sampaikan kepada Pimpinan

Tanggapi Hasil Pemeriksaan BPK, Wagub Jabar: Insya Allah Akan Saya Sampaikan kepada Pimpinan

Regional
Lewat Teman Bus Trans Metro Pasundan, Wagub Jabar Ajak Masyarakat Naik Transportasi Umum

Lewat Teman Bus Trans Metro Pasundan, Wagub Jabar Ajak Masyarakat Naik Transportasi Umum

Regional
Tingkatkan Pendapatan Daerah, Pemprov Jabar Luncurkan 'Bapenda Kapendak'

Tingkatkan Pendapatan Daerah, Pemprov Jabar Luncurkan "Bapenda Kapendak"

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.