Bupati Semarang: Sulit Pantau TKI yang Berangkat dengan PJTKI di Luar Daerah

Kompas.com - 14/11/2014, 16:46 WIB
Bupati Semarang, H Mundjirin.
KOMPAS.com/ SYAHRUL MUNIRBupati Semarang, H Mundjirin.
|
EditorCaroline Damanik

UNGARAN, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Semarang mengaku kesulitan mengawasi dan memantau keberadaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri karena banyak yang berangkat melalui penyalur di luar Kabupaten Semarang.  

Ihwal keberadaan TKI asal Kabupaten Semarang tersebut biasanya diketahui setelah yang bersangkutan berurusan dengan hukum atau mengalami musibah di negeri orang tempatnya bekerja.  

“Seperti Satinah yang berurusan hukum di Arab, awalnya kita tidak tahu kalau yang beliau warga Kabupaten Semarang,” kata Bupati Semarang, Mundjirin, Jumat (14/11/2014).  

Menurut Bupati, sudah seyogyanyalah pihaknya berkewajiban melindungi dan mengawasi warganya yang berada di luar negeri. Namun jika keberangkatannya melalui daeah lain justru akan menyulitkan dalam pemantauan.


Sebab dengan berangkat melalui PJTKI daerah lain, Pemkab Semarang tidak bisa mengawasi apakah bekal ketrampilan yang diberikan sudah memenuhi kebutuhan di negara tempatnya.

“Yang menjadi soal, para TKI ini kadang hanya memilih mana yang mudah dan cepat memberangkatkan mereka ke luar negeri, meski PJTKI ini berasal dari luar daerah,” tegas Mundjirin.  

Bupati juga mengakui, ada sejumlah PJTKI di Kabupaten Semarang yang bagus dalam mengelola, mempersiapkan  dan memberangkatkan para tenaga kerja ke sejumlah negara.  

Secara terpisah, Direktur PJTKI Al Whidah Jaya Sentosa, Endar Susilo mengakui, semua calon tenaga kerja yang akan bekerja di luar negeri harus melalui sejumlah mekanisme yang sudah ditentukan. Mekanisme ini harus dipenuhi agar instansi terkait dapat memantau dan mengetahui tenaga kerja asal daerah tertentu yang ada di luar negeri.  

Dia juga mengakui, PJTKI dapat merekrut calon tenaga kerja dari daerah manapun, sepanjang memiliki rekom rekruitmen. Menurut Endar, jika semua prosedur ditempuh maka kecil kemungkinan tenaga kerja yang bersangkutan tidak terpantau ke mana negara tujuannya bekerja, termasuk masa kerjanya.  

“Kalau ada tenaga kerja yang tak terpantau, ditengarai akibat ketentuan dan prosedurnya ilegal,” tegasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fakta Lengkap Mahasiswi Bengkulu Ditemukan Tewas Terkubur di Belakang Kos, Pelaku Sakit Hati hingga Polisi Bentuk Tim Khusus

Fakta Lengkap Mahasiswi Bengkulu Ditemukan Tewas Terkubur di Belakang Kos, Pelaku Sakit Hati hingga Polisi Bentuk Tim Khusus

Regional
Gibran Resmi Maju Pilkada 2020, Pesan dari Jokowi hingga Dikritik Terlalu Ngebet

Gibran Resmi Maju Pilkada 2020, Pesan dari Jokowi hingga Dikritik Terlalu Ngebet

Regional
Sebelum Dicabuli, Siswi SMK Dicekoki Miras oleh Gurunya

Sebelum Dicabuli, Siswi SMK Dicekoki Miras oleh Gurunya

Regional
Sampai Akhir Penutupan, 97 Balon Pilkada 2020 Tercatat di DPD PDI-P Jateng

Sampai Akhir Penutupan, 97 Balon Pilkada 2020 Tercatat di DPD PDI-P Jateng

Regional
5 Fakta Seputar UN Dihapus, Dukungan Kepala Daerah hingga Dikritik Jusuf Kalla

5 Fakta Seputar UN Dihapus, Dukungan Kepala Daerah hingga Dikritik Jusuf Kalla

Regional
Evakuasi Kereta Api Anjlok Rampung, Perbaikan Rel Selesai Hari Ini

Evakuasi Kereta Api Anjlok Rampung, Perbaikan Rel Selesai Hari Ini

Regional
4 Fakta Oknum Guru Pendamping Olimpiade Sains Cabuli Siswinya, Dilakukan di Hotel hingga Berhasil Ditangkap

4 Fakta Oknum Guru Pendamping Olimpiade Sains Cabuli Siswinya, Dilakukan di Hotel hingga Berhasil Ditangkap

Regional
4 Sungai di Surabaya Dikembangkan Jadi Transportasi Air, Apa Saja?

4 Sungai di Surabaya Dikembangkan Jadi Transportasi Air, Apa Saja?

Regional
Korban Banjir di Kampar Mulai Terserang Penyakit

Korban Banjir di Kampar Mulai Terserang Penyakit

Regional
Eks Rumah Dinas PT KAI di Cihampelas Bakal Dibangun Masjid

Eks Rumah Dinas PT KAI di Cihampelas Bakal Dibangun Masjid

Regional
Jasad Balita Tanpa Kepala Diduga Yusuf, Orangtua Jalani Tes DNA

Jasad Balita Tanpa Kepala Diduga Yusuf, Orangtua Jalani Tes DNA

Regional
Kata FX Hadi Rudyatmo soal Gibran Mencalonkan Diri Melalui DPD PDI-P Jateng

Kata FX Hadi Rudyatmo soal Gibran Mencalonkan Diri Melalui DPD PDI-P Jateng

Regional
Mari Bantu Kesembuhan Nadia dan Vika, Kakak Beradik Asal Sumsel yang Terkena Penyakit Kulit Langka

Mari Bantu Kesembuhan Nadia dan Vika, Kakak Beradik Asal Sumsel yang Terkena Penyakit Kulit Langka

Regional
Tengah Tertidur, Ayah dan Anak di Sigi Tewas Saat Banjir Bandang Datang

Tengah Tertidur, Ayah dan Anak di Sigi Tewas Saat Banjir Bandang Datang

Regional
2020, Pemkot Surabaya Bangun Sekolah di Eks Lokalisasi Dolly

2020, Pemkot Surabaya Bangun Sekolah di Eks Lokalisasi Dolly

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X