Jelang Musim Hujan, Warga Kelud Diminta Waspadai Lahar

Kompas.com - 05/11/2014, 14:14 WIB
Beberapa wisatawan, Selasa (11/3/2014), melihat kawasan sekitar kawah Gunung Kelud dari jarak sekitar 4 kilometer di jalan utama menuju kawah di Desa Sugihwaras, Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sejak Sabtu pekan lalu, Pemerintah Kabupaten Kediri membuka obyek wisata Kelud meskipun masih dalam radius terbatas 3 kilometer dari kawah. KOMPAS/DEFRI WERDIONOBeberapa wisatawan, Selasa (11/3/2014), melihat kawasan sekitar kawah Gunung Kelud dari jarak sekitar 4 kilometer di jalan utama menuju kawah di Desa Sugihwaras, Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sejak Sabtu pekan lalu, Pemerintah Kabupaten Kediri membuka obyek wisata Kelud meskipun masih dalam radius terbatas 3 kilometer dari kawah.
|
EditorCaroline Damanik

KEDIRI, KOMPAS.com - Masyarakat di sekitar Gunung Kelud, Jawa Timur, diminta tetap waspada dari ancaman bencana, terutama risiko bencana lahar menjelang musim penghujan. Potensi terjadinya bencana itu tetap tinggi akibat masih banyaknya material sisa letusan 13 Februari lalu.

Diperkirakan masih ada 60 juta meter kubik material bebatuan dan pasir yang tersebar di sekitar puncak gunung sehingga jika sewaktu-waktu turun hujan, tumpukan material yang masih labil itu akan mudah tergerus dan menimbulkan gelombang longsoran yang membahayakan masyarakat sekitar gunung.

Camat Ngancar, Ngaseri, mengatakan, pihaknya terus menjalin komunikasi dengan segenap elemen masyarakat untuk mengantisipasi bencana lahar itu. Dari pemetaan yang ada, menurut dia, ada 15 desa di 4 kecamatan yaitu kecamatan Plosoklaten, kecamatan Kepung, Kecamatan Puncu, serta Kecamatan Ngancar yang masuk dalam kategori rawan.

"Semua elemen terus berkoordinasi untuk mengantisipasinya," kata Ngaseri, Rabu (5/11/2014).

Potensi titik bahaya, lanjutnya, relatif menyebar terutama terletak mulai dari daerah hulu hingga hilir sehingga beberapa sungai yang ada disekitar gunung terus dimaksimalkan fungsinya.

Selain itu, juga telah dipasang beberapa alat pemantau banjir lahar yang ditempatkan di beberapa titik pada empat sungai aliran lahar. Alat pendeteksi dini itu nantinya akan memberikan informasi terkait bencana sehingga masyarakat akan waspada.

Pola kerja alat itu, lanjut Ngaseri, terhubung dengan pos pengamatan gunung api milik Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi yang ada dikawasan puncak kelud. PVMBG kemudian meneruskan kepada publik.

"Dari PVMBG itu diteruskan ke saluran-saluran komunikasi yang ada, baik melalui Radio amatir maupun radio komunitas," pungkasnya.

Gunung yang berketinggian 1.721 meter di atas permukaan air laut itu meletus eksplosif pada Februari lalu dan menyebabkan 86.000 jiwa menjadi pengungsi. Tidak ada korban jiwa langsung dalam peristiwa alam itu.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jokowi Lantik Kabinet Indonesia Maju, Risma Berharap Indonesia Lebih Baik

Jokowi Lantik Kabinet Indonesia Maju, Risma Berharap Indonesia Lebih Baik

Regional
Jadi Kurir Sabu Jaringan Napi Lapas Madiun, Ibu Rumah Tangga Divonis 18 Tahun Penjara

Jadi Kurir Sabu Jaringan Napi Lapas Madiun, Ibu Rumah Tangga Divonis 18 Tahun Penjara

Regional
Rumah Sakit di Bangka Ingin Kembangkan Pengobatan Cuci Otak Menkes Terawan

Rumah Sakit di Bangka Ingin Kembangkan Pengobatan Cuci Otak Menkes Terawan

Regional
Fakta Syahrul Yasin Limpo, Miliki Banyak Prestasi hingga Ditunjuk Jadi Menteri Pertanian

Fakta Syahrul Yasin Limpo, Miliki Banyak Prestasi hingga Ditunjuk Jadi Menteri Pertanian

Regional
Acungkan Sabit, Preman Rampas Uang Wisatawan di Pantai Petanahan

Acungkan Sabit, Preman Rampas Uang Wisatawan di Pantai Petanahan

Regional
Fakta di Balik Nenek Luspina Hidup Menahan Lapar Digubuk Reyot Tanpa Listrik

Fakta di Balik Nenek Luspina Hidup Menahan Lapar Digubuk Reyot Tanpa Listrik

Regional
LIPI: Ikan Bertuliskan Kata 'Ambon' Bisa Dijelaskan secara Ilmiah

LIPI: Ikan Bertuliskan Kata "Ambon" Bisa Dijelaskan secara Ilmiah

Regional
2020, UMP Jateng Bakal Naik Jadi Rp 1,7 Juta

2020, UMP Jateng Bakal Naik Jadi Rp 1,7 Juta

Regional
2 Pendaki Hilang di Gunung Dempo, Basarnas Temukan Pakaian Korban

2 Pendaki Hilang di Gunung Dempo, Basarnas Temukan Pakaian Korban

Regional
Air Sumur Dikira Mendidih di Ambon, Ini Kata LIPI

Air Sumur Dikira Mendidih di Ambon, Ini Kata LIPI

Regional
Pemprov Kaltim Akan Undang Kerabat Kesultanan Kutai Bahas soal Ibu Kota Negara

Pemprov Kaltim Akan Undang Kerabat Kesultanan Kutai Bahas soal Ibu Kota Negara

Regional
Cerita Risma Hitung Untung Rugi Tolak Tawaran Jadi Menteri Jokowi

Cerita Risma Hitung Untung Rugi Tolak Tawaran Jadi Menteri Jokowi

Regional
Tersangka Kuras Dana Nasabah BNI Ambon dengan Tawarkan Produk Imbal Hasil. Ini Kronologinya...

Tersangka Kuras Dana Nasabah BNI Ambon dengan Tawarkan Produk Imbal Hasil. Ini Kronologinya...

Regional
Ganjar Pranowo Sebut Kabinet Indonesia Maju Sesuaikan Perkembangan Zaman

Ganjar Pranowo Sebut Kabinet Indonesia Maju Sesuaikan Perkembangan Zaman

Regional
Di Daerah Ini Warga Harus Inden Sepekan untuk Dapatkan Air Bersih

Di Daerah Ini Warga Harus Inden Sepekan untuk Dapatkan Air Bersih

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X