461 Hektar Lahan Pertanian Tercemar Limbah Batu Alam

Kompas.com - 09/10/2014, 11:22 WIB
Limbah Industri Batu Alam, mengaliri areal persawahan di Desa Kapunduan, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Selasa siang (7/10/2014). Distanbunakhut menyebutkan, 641 hektar lahanpersawahan di tiga Kecamatan, tercemar limbah industri batu alam, dengan kategori cukup parah. KOMPAS TV/ Muhamad Syahri RomdhonLimbah Industri Batu Alam, mengaliri areal persawahan di Desa Kapunduan, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Selasa siang (7/10/2014). Distanbunakhut menyebutkan, 641 hektar lahanpersawahan di tiga Kecamatan, tercemar limbah industri batu alam, dengan kategori cukup parah.
|
EditorGlori K. Wadrianto
CIREBON, KOMPAS.com - Lahan pertanian seluas 461 hektar di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dinyatakan positif tercemar limbah industri batu alam. Pencemaran yang terbilang parah itu mengakibatkan, lahan pertanian rusak, tanah tidak subur, dan penurunan kualitas dan kuantitas produksi pertanian.

Sekretaris Dinas Pertanian, Perkebunan, Peterakan,Dan Perhutanan (Distanbunakhut), Kabupaten Cirebon, Muhidin, beberapa waktu lalu menyebutkan, situasi pencemaran lingkungan industri batu alam, bagi lahan pertanian di lokasi sekitar sudah sangat parah. Sebanyak 461 lahan pertanian di tiga kecamatan, tercemar limbah tersebut.

Muhidin menyebutkan, limbah industri batu alam mencemari, persawahan di Desa Dukupuntang, Kecamatan Dukupuntang sebesar 20 hektar. Limbah juga mencemari, Kecamatan Depok yang melingkupi Desa Warujaya, Warugede, Depok, Kasugengan Lor, dan Kasugengan Kidul, dengan jumlah 161 hektar.

Pencemaran terbesar terasa di Kecamatan Palimanan Plumbon, yang melintasi desa Purbawinangun, Kebarepan, Pesanggrahan, Kedung Sana, dan Dana Mulya, dengan luas 280 hektar lahan pertanian. Total lahan pertanian yang terkena limbah industri batu alam mencapai 461 hektar.

Pencemaran limbah, yang berbentuk cairan itu, memasuki areal persawahan melalui selokan, kali dan juga sungai. Pencemaran berlangsung setiap hari, hingga limbahnya menutupi tanah permukaan persawahan hingga tebal.

Kandungan limbah industri batu alam, menyebabkan persawahan cepat mengering, dan mengeras. Para petani tidak sedikit mengeluhkan gangguan kulit tiap kali selepas dari sawah.

Gangguan yang dirasa akibat pencemaran limbah tersebut juga menurunnya hasil produksi pertanian. Pada normalnya, satu hektar dapat memproduksi padi sebanyak 6-7 ton dengan kualitas bagus. Namun setelah terkena limbah, menurun, hingga sekitar 4 ton, dengan kualitas yang jelek.

“Pembangunan industri batu alam di Kabupaten Cirebon, sudah berlangsung sejak tahun 2005. Semakin tahun, semakin bertambah. Dan hingga 2014, pencemarannya semakin parah,” kata Muhidin yang juga menjabat sekretaris Camat Dukupuntan, tahun 2005 lalu.

Ia mengakui, ratusan petani di tiga kecamatan lahan pertanian yang terkena pencemaran limbah tersebut selalu mengeluh, dan meminta solusi. Namun, diakuinya, penyelesaian tidak hanya dari Distanbunakhut, namun dari seluruh instansi pemerintahan yang terkait.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

RSU dr Slamet Garut Minta Tempat Tinggal Sementara untuk Tenaga Medis

RSU dr Slamet Garut Minta Tempat Tinggal Sementara untuk Tenaga Medis

Regional
Hadapi Corona, Ganjar Minta Desa Hidupkan Lagi Tradisi Jimpitan untuk Lumbung Pangan

Hadapi Corona, Ganjar Minta Desa Hidupkan Lagi Tradisi Jimpitan untuk Lumbung Pangan

Regional
9 Kasus Positif Covid-19 di Jayapura, Pemda Pertimbangkan Karantina Wilayah

9 Kasus Positif Covid-19 di Jayapura, Pemda Pertimbangkan Karantina Wilayah

Regional
Meski Ditolak Warga, Pasien Positif Covid-19 Tetap Dimakamkan di Lahan Pemprov Sulsel di Gowa

Meski Ditolak Warga, Pasien Positif Covid-19 Tetap Dimakamkan di Lahan Pemprov Sulsel di Gowa

Regional
Gedung Bekas Rumah Sakit di Kota Kediri Kembali Difungsikan Rawat ODP

Gedung Bekas Rumah Sakit di Kota Kediri Kembali Difungsikan Rawat ODP

Regional
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sebut Anggaran untuk Corona Sekitar Rp 200 Miliar

Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sebut Anggaran untuk Corona Sekitar Rp 200 Miliar

Regional
Masker Langka dan Mahal, Alumni BLK di Pekalongan Jahit 1000 Lembar

Masker Langka dan Mahal, Alumni BLK di Pekalongan Jahit 1000 Lembar

Regional
Mayoritas Pasien Corona di RSHS Berusia 50 Tahun dan Punya Riwayat Penyakit

Mayoritas Pasien Corona di RSHS Berusia 50 Tahun dan Punya Riwayat Penyakit

Regional
Pemkot Pontianak Kucurkan Dana Rp 37 Miliar untuk Tangani Virus Corona

Pemkot Pontianak Kucurkan Dana Rp 37 Miliar untuk Tangani Virus Corona

Regional
5 Hal Penting Soal Dua Pocong yang Viral hingga Korea Selatan, Foto Tahun 2019 dan Hanya Iseng

5 Hal Penting Soal Dua Pocong yang Viral hingga Korea Selatan, Foto Tahun 2019 dan Hanya Iseng

Regional
Cegah Corona di Lapas Tegal, 57 Narapidana Dibebaskan

Cegah Corona di Lapas Tegal, 57 Narapidana Dibebaskan

Regional
KNPI Jabar Siapkan Pilot untuk Drone Penyemprot Disinfektan

KNPI Jabar Siapkan Pilot untuk Drone Penyemprot Disinfektan

Regional
ODP Covid-19 yang Meninggal Saat Hendak Melahirkan Diduga Keracunan, Bukan Positif Corona

ODP Covid-19 yang Meninggal Saat Hendak Melahirkan Diduga Keracunan, Bukan Positif Corona

Regional
Sempat Ingin Lari, Pasien Sembuh Covid-19: Saya Harus Menyelamatkan Diri, Keluarga, Masyarakat

Sempat Ingin Lari, Pasien Sembuh Covid-19: Saya Harus Menyelamatkan Diri, Keluarga, Masyarakat

Regional
Pemda DIY Siapkan Dua lokasi untuk Karantina Pasien Covid-19

Pemda DIY Siapkan Dua lokasi untuk Karantina Pasien Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X