Kompas.com - 13/08/2014, 13:37 WIB
|
EditorCaroline Damanik

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com
- Cicci Pondi (70), nenek dari desa terpencil di Luyo, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang separuh kepalanya habis digerogoti belatung sejak bertahun-tahun tanpa perawatan medis karena tak punya biaya dan jauh dari akses sarana kesehatan sempat ditangani oleh perawat swasta yang disewa petugas desa setempat (baca juga: Tak Punya Biaya Berobat, Nenek Ini Pasrah Kepalanya Digerogoti Belatung).

Namun, kini perawatan dihentikan sementara karena Cicci berutang ke perawat hingga jutaan rupiah. Pasalnya, dana yang dihimpun dari swadaya warga dan sanak tetangga untuk membantunya telah habis.

Jika dihitung, biaya perjalanan perawat setiap kali membersihkan dan mengganti perban di kepala Cicci plus biaya sejumlah obat mencapai Rp 200.000. Agar lukanya bisa mengering, perban di kepala Cicci diganti petugas perawat paling sedikit enam kali dalam sebulan. Itu artinya, aparat desa setempat harus menyediakan dana sedikitnya Rp 1,2 juta setiap bulannya.

Kini, dana swadaya masyarakat sudah habis. Mandaali, salah satu tokoh masyarakat Desa Pangadala, Kecamatan Luyo, yang bersimpati membantu Cicci, mengaku berutang Rp 1,3 juta kepada petugas perawat swasta yang disewa dari Kabupaten Majene itu.

“Karena berutang lebih satu juta perawatannya kita hentikan sementara sampai ada sumbangan warga lagi,” ujar Mandaali.

Sejumlah tetangga yang dulu kerap bersilaturahim ke rumah mengaku jarang menghampiri Cicci. Bahkan ada tetangga yang beralasan tak ingin mendekat karena percaya bahwa penyakit yang diderita Cicci merupakan penyakit kutukan. Sebagian tetangga lagi beralasan enggan mampir ke rumah Cicci karena tak kuat mencium aroma busuk dari luka di kepalanya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan, meski dalam kondisi sakit, Cicci mengurus segala kebutuhan hidupnya sendiri, termasuk memasak dan mencari potongan kayu bakar untuk menjalankan aktivitas di dapur.

Cicci yang tak punya sumber pendapatan ini juga bergantung pada pemberian tetangga. Jika tak punya beras, Cicci terpaksa memasak gesara, sejenis makanan dari jagung yang ditumbuk sebagai pengganti beras.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wagub Jabar: Harkitnas Jadi Momentum Bangkitkan Semangat Usai Terpukul Pandemi

Wagub Jabar: Harkitnas Jadi Momentum Bangkitkan Semangat Usai Terpukul Pandemi

Regional
Gawai Adat Dayak: Melihat Manusia sebagai Makhluk Berdimensi Vertikal dan Horizontal

Gawai Adat Dayak: Melihat Manusia sebagai Makhluk Berdimensi Vertikal dan Horizontal

Regional
Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Serahkan Bantuan ke Korban Banjir di Desa Paledah, Wagub UU: Perlu Kolaborasi untuk Tanggulangi Banjir

Regional
Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Tanahnya Diganti Rugi Miliaran Rupiah oleh Pemerintah, Warga Wadas Mendadak Jadi Miliarder

Regional
Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Peringati HUT Ke-281 Wonogiri, Bupati Jekek Ajak Masyarakat Bangkit dengan Harapan Baru

Regional
Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Kasus PMK Hewan Ternak di Wonogiri Masih Nol, Ini Penjelasan Bupati Jekek

Regional
Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Jatim Raih 2 Penghargaan SPM Kemendagri, Gubernur Khofifah Sampaikan Hal Ini

Regional
BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

BUMDes di Klaten Diminta PT KAI Bayar Rp 30 Juta Per Tahun, Gus Halim Minta Keringanan

Regional
Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Indeks Reformasi Birokrasi Jabar Lampaui Target 78,68, Sekda Setiawan Sampaikan Pesan Ini

Regional
Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Fashion Show Batik Daur Ulang Warnai Penutupan KKJ dan PKJB, Atalia Kamil: Ini Tanda Ekraf Jabar Bergerak Kembali

Regional
Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Proses Geotagging Rumah KPM di Bali Capai 65 Persen, Ditargetkan Rampung Akhir Mei 2022

Regional
Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Peringati Trisuci Waisak, Ganjar Sebut Candi Borobudur Tak Hanya Sekadar Destinasi Wisata

Regional
Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Jabar Triwulan I-2022 Capai 5,62 Persen, Lebih Tinggi dari Nasional

Regional
KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

KKJ dan PKJB Digelar, Kang Emil Minta Pelaku UMKM Jabar Hemat Karbon

Regional
Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Cegah Wabah PMK, Jabar Awasi Lalu Lintas Peredaran Hewan Ternak Jelang Idul Adha

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.