Pemilik Wisma Dolly: Jumlah Uang Kompensasi Tak Masuk Akal (7)

Kompas.com - 18/06/2014, 13:30 WIB
Anak-anak melintas di depan kawasan bordil di Dolly, Surabaya, 19 Mei 2014. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini telah menetapkan menutup kawasan bordil di Dolly pada 18 Juni 2014. AFP PHOTO / JUNI KRISWANTOAnak-anak melintas di depan kawasan bordil di Dolly, Surabaya, 19 Mei 2014. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini telah menetapkan menutup kawasan bordil di Dolly pada 18 Juni 2014.
EditorCaroline Damanik

SURABAYA, KOMPAS.com — Deklarasi penutupan lokalisasi prostitusi Dolly dan Jarak yang akan berlangsung, Rabu (18/6/2014) malam, baru berupa seremoni semata. Selama acara deklarasi berlangsung, bisa dipastikan kegiatan di lokalisasi prostitusi Dolly-Jarak tetap berlangsung seperti biasa. Tidak ada rencana pengerahan petugas keamanan untuk menutup wisma-wisma Dolly-Jarak dalam waktu seketika (baca juga: Penutupan Dolly Baru Sebatas Seremoni (1).

Jelang penutupan, perwakilan warga Dolly mendatangi anggota dewan untuk hearing. Mereka mengaku belum pernah sekali pun diajak bicara (baca juga: Warga Paksa Anggota Dewan Lihat Situasi Dolly Jarak (3).

Hari-hari menjelang penutupan di Dolly diisi dengan berbagai unjuk rasa oleh pelaku prostitusi dan warga sekitar. Sekalipun mereka sudah dijanjikan berbagai kompensasi, mereka tak ingin Dolly ditutup (baca juga: Penutupan Dolly Jadi Sorotan, Warga Pun Kelelahan (6).


Bagi warga Dolly, terutama para penentang penutupan, acara deklarasi penutupan lokalisasi prostitusi benar-benar membuat suasana lokalisasi pelacuran terasa mendidih, sekalipun deklarasi itu tidak dipusatkan di luar lokalisasi prostitusi, tepatnya di Islamic Centre.

Pasalnya, sejumlah pihak, terutama pemilik wisma, merasa belum pernah diajak bicara.

"Cuma ada satu pemilik yang bersedia menutup wisma," ujar Andre, anggota Paguyuban Pekerja Lokalisasi (PPL) Dolly, Senin (16/6/2014).

Yang dimaksudkan Andre adalah pemilik Wisma Barbara yang tersohor di Dolly.

Menurut Andre, pemilik wisma itu telah menyatakan kesiapan untuk tak lagi beroperasi setelah 18 Juni 2014.

"Kabarnya sudah negosiasi sama Pemkot dan sudah pindah usaha ke tempat lain. Tapi, saya tidak tahu dapat uang pengganti berapa," lanjutnya.

Pernyataan Andre itu dibenarkan Johantoro (46), Ketua PPL Dolly, sekaligus pemilik satu wisma. Menurut Johantoro, dari 48 wisma, hanya satu yang menyatakan siap berhenti beroperasi. Pemilik dari 47 wisma lainnya merasa tak pernah diajak bicara secara langsung oleh Pemkot.

Halaman:
Baca tentang


Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fenomena Desa Miliarder, Adakah yang Berubah di Masyarakat?

Fenomena Desa Miliarder, Adakah yang Berubah di Masyarakat?

Regional
Cerita Penjual Es Krim di Lampung, Kestabilan Pasokan Listrik Pengaruhi Omzet Penjualan

Cerita Penjual Es Krim di Lampung, Kestabilan Pasokan Listrik Pengaruhi Omzet Penjualan

Regional
Wali Kota Semarang Kaget Pompa di Trimulyo Berkurang

Wali Kota Semarang Kaget Pompa di Trimulyo Berkurang

Regional
Bocah 7 Tahun di Kotabaru Kalsel Tewas Digigit King Kobra Saat Mandi di Sungai

Bocah 7 Tahun di Kotabaru Kalsel Tewas Digigit King Kobra Saat Mandi di Sungai

Regional
447 Rumah Rusak akibat Gempa M 5,2 di Halmahera Selatan

447 Rumah Rusak akibat Gempa M 5,2 di Halmahera Selatan

Regional
Rahvana Sveta di Atas Panggung Gedung Wayang Orang Sriwedari, Memukau...

Rahvana Sveta di Atas Panggung Gedung Wayang Orang Sriwedari, Memukau...

Regional
Banjir Surut, Arus Lalin di Bawah Jembatan Tol Kaligawe Bisa Dilewati Kendaraan

Banjir Surut, Arus Lalin di Bawah Jembatan Tol Kaligawe Bisa Dilewati Kendaraan

Regional
Fakta Seputar Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Kelainan Genetik dan Sempat Buat Takut Nelayan

Fakta Seputar Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Kelainan Genetik dan Sempat Buat Takut Nelayan

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Febuari 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Febuari 2021

Regional
Menikmati Nasi Minyak, Makanan Khas Palembang yang Dulu Disantap Keluarga Sultan

Menikmati Nasi Minyak, Makanan Khas Palembang yang Dulu Disantap Keluarga Sultan

Regional
Tak Tertampung, Ratusan Pelajar SMP di Nunukan Bakal Belajar di SD

Tak Tertampung, Ratusan Pelajar SMP di Nunukan Bakal Belajar di SD

Regional
Masih Ingat Ibu di Cianjur yang Viral Hamil 1 Jam lalu Melahirkan, Ternyata Dihamili Mantan Suami

Masih Ingat Ibu di Cianjur yang Viral Hamil 1 Jam lalu Melahirkan, Ternyata Dihamili Mantan Suami

Regional
Respons PDI-P soal OTT Gubernur Sulsel: Orang Baik Tak Cukup, Kadang Lupa Diri

Respons PDI-P soal OTT Gubernur Sulsel: Orang Baik Tak Cukup, Kadang Lupa Diri

Regional
Perjuangan Driver Ojol di Semarang Terobos Banjir Demi Antar Makanan ke Pelanggan

Perjuangan Driver Ojol di Semarang Terobos Banjir Demi Antar Makanan ke Pelanggan

Regional
16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X