Dibangun pada 1784, Kelenteng Ho Tong Bio Banyuwangi Ludes Terbakar - Kompas.com

Dibangun pada 1784, Kelenteng Ho Tong Bio Banyuwangi Ludes Terbakar

Kompas.com - 13/06/2014, 08:35 WIB
Kompas.com/Ira Rachmawati Kelenteng Ho Tong Bio, di Banyuwangi, Jawa Timur, terbakar pada Jumat (13/06/2014) pagi.
BANYUWANGI, KOMPAS.com - Kelenteng Ho Tong Bio, salah satu bangunan tua di Kabupaten Banyuwangi ludes terbakar, Jumat (13/6/2014). Diduga kebakaran dari bangunan dengan dominasi warna merah itu bermula dari altar sembahyangan di sisi selatan.

"Kejadiannya sekitar jam 6 pagi. Saya pertama kali tahu api dari altar sembayangan sebelah selatan. Tungku dupanya sudah terbakar. Saya sempat menyiram tapi tungkunya sudah terlanjur pecah dan minyaknya meluber akhirnya api menjalar kemana-mana," kata Abas, salah satu penjaga kelenteng kepada Kompas.com, Jumat.

Sementara itu Syaiful, penjaga malam kelenteng kepada Kompas.com juga mengatakan persembahyangan terakhir dilakukan pada Kamis (12/6/2014) pukul 22.00 WIB. "Setelah persembahyangan kami selalu mematikan semua lilin yang berada di bangunan utama termasuk tadi malam," ujar dia.

Akibat kebakaran ini, semua barang di dalam kelenteng tak terselamatkan. "Termasuk patung Kongco Tan Hu Cin Jin," ujar Saiful dengan mata berkaca-kata. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, 80 persen bangunan yang dibangun pada 14 Maret 1784 tersebut ludes. Kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Kelenteng Ho Tong Bio berada di kawasan Pecinan Kelurahan Karangrejo, Banyuwangi. Nama kelenteng ini berarti "Kuil Perlindungan Chinesse". Pembangunan kelenteng ini juga merupakan persembahan kepada leluhur mereka, Kongco Ta Hu Cin Jin, yang dipercaya melindungi orang-orang tionghoa di Blambangan, wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Banyuwangi.

Selain itu Kelenteng Ho Tong Bio juga dikenal sebagai "ibu" dari 8 klenteng Tan Hu Cin Jin yang tersebar di beberapa lokasi di sekitar Banyuwangi, sekaligus kelenteng tertua. Kelenteng lain berlokasi di Besuki (Situbondo), Probolinggo, Jembrana, Tabanan, Kuta, dan Buleleng.


EditorPalupi Annisa Auliani

Close Ads X