Kasus Paedofilia Sukabumi Jadi KLB, Wali Kota Bikin SK

Kompas.com - 06/05/2014, 11:15 WIB
Wali Kota Sukabumi  Mohamad Muraz KOMPAS/HERLAMBANG JALUARDIWali Kota Sukabumi Mohamad Muraz
EditorGlori K. Wadrianto
SUKABUMI, KOMPAS.com -- Pemerintah Kota Sukabumi, Jawa Barat, menetapkan kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh tersangka AS alias Emon dengan jumlah korban lebih dari 80 anak sebagai kejadian luar biasa.

"Bahkan dengan adanya kejadian ini kami langsung membuat Surat Keputusan Wali Kota Nomor 92 Tahun 2014 tentang Pencegahan dan Penanganan Dampak Kekerasan Seksual terhadap Anak," kata Wali Kota Sukabumi, M Muraz, Selasa (6/5/2014).

Muraz mengaku tidak menyangka kasus ini kemudian menyedot perhatian publik. "Bahkan sampai pejabat nasional pun datang ke Kota Sukabumi. Maka dari itu, kami menyebut kasus Emon ini adalah kejadian luar biasa," tambahnya. 

Muraz mengaku tidak pernah menyangka akan ada kasus seperti ini terjadi di kota yang dipimpinnya tersebut, dan bahkan dengan jumlah korban yang banyak, dan seluruhnya adalah bocah laki-laki berusia rata-rata di bawah 13 tahun.

Ia mengungkapkan, sampai saat ini pihak pemerintah baru melakukan upaya pencegahan tindak asusila terhadap anak laki-laki dengan perempuan dan kenakalan remaja. Pemantauan dan pengawasan yang dilakukan pihak pemerintah saat ini baru antara komunitas kaum sejenis, seperti gay dan lesbian, serta pencegahan penyakit menular seksual.

Ke depan, lanjutnya, Pemkot akan membuat pola pencegahan dengan berkoordinasi dengan dengan semua tokoh dan pihak keamanan. Hal ini demi menanggulangi penurunan akhlak dan moralitas masyarakat agar bisa kembali ke jalan agama yang dirahmati oleh Tuhan yang Maha Esa.

Sementara itu, anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh Emon akan dilakukan penanganan satu atap.

Semua korban akan ditempatkan di satu tempat tertutup atau tidak terjamah oleh masyarakat umum dan media. Tujuan dari penanganan ini adalah untuk menjaga privasi atau perasaan keluarga yang dipastikan trauma dengan kejadian ini dan yang terpenting agar si anak tersebut terlepas dari traumanya serta sehat baik jasmani maupun kejiwaannya.

"Di ruang satu atap tersebut adalah nantinya si anak akan di-BAP oleh polwan yang tidak menggunakan seragam dinas dan diberikan kenyamanan sedemikian rupa dan juga didampingi oleh keluarganya. Selain itu, untuk penanganan medis dan psikologisnya juga ditempatkan di satu tempat yang sama itu, kami juga merahasiakan tempat itu dari umum," kata Muraz.

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Sumber Antara
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pukuli dan Masukkan Pelajar SMK ke Bagasi Mobil, 4 Pria Ngaku Polisi Ternyata Salah Sasaran

Pukuli dan Masukkan Pelajar SMK ke Bagasi Mobil, 4 Pria Ngaku Polisi Ternyata Salah Sasaran

Regional
Kronologi 4 Pria Ngaku Polisi Pukuli dan Seret Pelajar SMK dari Kelas, Kemudian Dimasukkan ke Bagasi Mobil

Kronologi 4 Pria Ngaku Polisi Pukuli dan Seret Pelajar SMK dari Kelas, Kemudian Dimasukkan ke Bagasi Mobil

Regional
Pemkot Semarang: Dengan Jaga Kerukunan, Warga Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Pemkot Semarang: Dengan Jaga Kerukunan, Warga Dukung Pertumbuhan Ekonomi

Regional
Dua Mantan Pejabat Tinggi Tambelan Dukung Robby Maju di Pilkada Bintan

Dua Mantan Pejabat Tinggi Tambelan Dukung Robby Maju di Pilkada Bintan

Regional
Pelajar SMK di Gowa Diseret dari Kelas oleh 4 Pria Ngaku Polisi, Dipukuli dan Dimasukkan ke Bagasi Mobil

Pelajar SMK di Gowa Diseret dari Kelas oleh 4 Pria Ngaku Polisi, Dipukuli dan Dimasukkan ke Bagasi Mobil

Regional
Kisah Pria Gangguan Jiwa di Manggarai Timur, Lima Tahun Tinggal di Tebing Gua Penuh Sampah

Kisah Pria Gangguan Jiwa di Manggarai Timur, Lima Tahun Tinggal di Tebing Gua Penuh Sampah

Regional
Kesaksian Kodir Saat Selamatkan Belasan Siswa Korban Susur Sungai Sempor

Kesaksian Kodir Saat Selamatkan Belasan Siswa Korban Susur Sungai Sempor

Regional
[POPULER NUSANTARA] Pembina Pramuka Susur Sungai Diperingatkan Warga | Cemburu, Nenek 62 Tahun Tusuk Suami

[POPULER NUSANTARA] Pembina Pramuka Susur Sungai Diperingatkan Warga | Cemburu, Nenek 62 Tahun Tusuk Suami

Regional
Setelah Bunuh dan Curi Emas Milik Ibu Kos, Pria Ini Pelesir ke Bali dan Bayar Kos Pacar

Setelah Bunuh dan Curi Emas Milik Ibu Kos, Pria Ini Pelesir ke Bali dan Bayar Kos Pacar

Regional
4 Fakta Penemuan Jenazah di Bondowoso, Mayat Tanpa Kepala hingga Polisi Kerahkan Anjing Pelacak

4 Fakta Penemuan Jenazah di Bondowoso, Mayat Tanpa Kepala hingga Polisi Kerahkan Anjing Pelacak

Regional
Cerita Putra Amrozi Pelaku Bom Bali I, Sempat Dikucilkan, Tak Ingin Anak Alami Hal Sama

Cerita Putra Amrozi Pelaku Bom Bali I, Sempat Dikucilkan, Tak Ingin Anak Alami Hal Sama

Regional
BNN Amankan 3 Juta Pil PCC dari Pabrik Narkoba di Lahan Pemkot Bandung

BNN Amankan 3 Juta Pil PCC dari Pabrik Narkoba di Lahan Pemkot Bandung

Regional
KPK Soroti Pengelolaan Aset di Kepri Usai Rapat Evaluasi di Batam

KPK Soroti Pengelolaan Aset di Kepri Usai Rapat Evaluasi di Batam

Regional
IAIN Surakarta Akan Berubah Nama Jadi UIN Raden Mas Said

IAIN Surakarta Akan Berubah Nama Jadi UIN Raden Mas Said

Regional
Kronologi Penemuan KM Beringin Jaya, Delapan Hari Terombang-ambing dan Ditarik Kapal Nelayan

Kronologi Penemuan KM Beringin Jaya, Delapan Hari Terombang-ambing dan Ditarik Kapal Nelayan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X