Kompas.com - 01/05/2014, 19:57 WIB
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Arist Merdeka Sirait, menjenguk Puvelia Audriana Putri (5) di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Kamis (1/5/2014). KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANAKetua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Arist Merdeka Sirait, menjenguk Puvelia Audriana Putri (5) di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Kamis (1/5/2014).
|
EditorFarid Assifa

BANDUNG, KOMPAS.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bakal mendesak Joko, ayah dari Puvelia Audriana Putri (5), untuk menandatangani izin tindakan amputasi terhadap putrinya oleh tim dokter Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Sebab, hingga kini kedua tangan Puvelia kondisinya semakin parah.

Seperti diketahui, Puvelia menderita infeksi kulit berat akibat terkena bakteri yang tergolong ganas, yakni Pseudomonas aeruginosa. Bakteri ini yang menyebabkan infeksi sehingga kedua tangan Puvelia membusuk dan terlihat seperti hangus terbakar. Bahkan, bocah asal Purwakarta itu harus segera diamputasi karena tangan kirinya putus digerogoti bakteri jahat tersebut.

"Untuk ayahnya, ini juga termasuk tugas Komnas Perlindungan Anak agar ayahnya membubuhkan tanda tangan agar tindakan medis itu (amputasi) segera dilakukan," kata ketua KPAI, Arist Merdeka Sirait saat menjenguk Puvelia di RSHS Bandung, Kamis (1/5/2014).

Lebih lanjut Arist menambahkan, ayah Puvelia diketahui tidak memberikan tanda tangan lantaran dia dan istrinya, SH, sedang terlibat percekcokan rumah tangga yang mengakibatkan keduanya memutuskan pisah ranjang.

"Tentu saya akan mengunjungi bapaknya dalam minggu ini. Bapaknya itu kok kayaknya tidak bertanggung jawab," tegasnya.

Jika ayah Puvelia tidak juga memberikan izin, Arist menilai hal itu masuk kategori pidana dengan tuduhan penelantaran anak.

"Kalau tidak bertanggung jawab juga bisa masuk kategori penelantaran mengakibatkan anak secara psikologis terganggu moril. Itu ditur dalam Pasal 77 (UU Perlindungan Anak). Itu yang mau saya ingatkan kepada bapaknya," bebernya.

Menurut Arist, tidak diberikannya izin tersebut memberikan dampak lain di luar medis terhadap Puvelia.

"Mengakibatkan anak rugi secara moril, kemudian juga terhambat fungsi sosialnya. Maka dalam minggu ini kita akan bertemu dengan ayahnya," ucapnya.

Di tempat yang sama, Kepala Staf Medik Fungsional (SMF) Ilmu Kesehatan Anak, Djatnika Setiabudi, mengatakan, RSHS bisa saja mengamputasi kedua tangan Puvelia tanpa persetujuan dari ayahnya. Namun, RSHS tidak mau ambil risiko ada tuntutan dari pihak keluarga.

"Bisa saja, cuma kita upayakan dulu. Kita juga tidak mau kita di kemudian hari malah dituntut. Kita bermaskud baik, tapi takutnya bapaknnya malah nuntut kita," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Regional
Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Regional
Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Regional
Pemkot Tangsel Sampaikan LPPD 2020, Berikut Beberapa Poinnya

Pemkot Tangsel Sampaikan LPPD 2020, Berikut Beberapa Poinnya

Regional
Kang Emil Paparkan Aspirasi Terkait RUU EBT, Berikut 2 Poin Pentingnya

Kang Emil Paparkan Aspirasi Terkait RUU EBT, Berikut 2 Poin Pentingnya

Regional
Diluncurkan, Program SMK Membangun Desa di Jabar Gandeng 27 Desa

Diluncurkan, Program SMK Membangun Desa di Jabar Gandeng 27 Desa

Regional
Ganjar Ingatkan Para Guru Berikan Contoh Disiplin Terapkan Prokes

Ganjar Ingatkan Para Guru Berikan Contoh Disiplin Terapkan Prokes

Regional
Pembunuh Berantai di Kulon Progo Ternyata Residivis Kasus Pencurian

Pembunuh Berantai di Kulon Progo Ternyata Residivis Kasus Pencurian

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X