2017, Jawa Tengah Diprediksi Krisis Listrik

Kompas.com - 28/04/2014, 16:01 WIB
Burung-burung bertengger di kabel listrik. ABC AustraliaBurung-burung bertengger di kabel listrik.
|
EditorCaroline Damanik

UNGARAN, KOMPAS.com - Jawa Tengah diprediksi menghadapi ancaman krisis listrik pada tahun 2017. Perkiraan ini didasarkan pada pertumbuhan konsumsi listrik di Jawa Tengah yang terus mengalami kenaikan hingga 10 persen per tahun.

Sementara itu terkait pembangkit, Jawa Tengah dinilai masih tertinggal dibandingkan dengan daerah lain seperti Jawa Timur dan Jawa Barat.

"Beban puncak listrik di Jawa Tengah saat ini mencapai 4.000 megawatt (mw). Sedang kapasitas terpasang di Jawa Tengah hanya 2.000-an mw. Saat ini pasokan listrik kita selalu tergantung dengan interkoneksi Jawa- Bali. Padahal interkoneksi Jawa- Bali tidak hanya memasok Jawa Tengah saja," kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Teguh Dwi Paryono, usai Seminar Menggagas Raperda Pengelolaan Energi di Jawa Tengah, di Ungaran, Senin (28/4/2014) siang.

Menurut Teguh, jika Jawa Tengah ingin terbebas dari krisis listrik harus ada pembangkit baru. Di lain pihak, masyarakat belum paham bahwa listrik sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebab 1 persen pertumbuhan ekonomi membutuhkan 1,3 persen pasokan energi listrik.

"Meski pembangkit 2 x1.000 mw sudah terbangun di Batang, namun sudah habis karena sudah banyak yang antre, misalnya industri semen di Rembang, Cilacap, Banyumas dan Wonogiri. Belum lagi industri tekstil yang eksodus ke Jawa Tengah. Jika hal ini tak dapat terpenuhi Jawa Tengah akan tertinggal dari daerah lain,” tambahnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, gagasan raperda pengelolaan energi di Jawa Tengah memiliki momentum penting bagi kemandirian energi Jawa Tengah. Selain akan menjadi payung hukum, Raperda energi akan menjadi instrumen regulasi dalam mengoptimalkan potensi pemanfaatan sumber energi yang ada di Jawa Tengah.

“Ini bagian dari mewujudkan gagasan gubernur dalam daulat energi di Jawa Tengah,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D, DPRD Provinsi Jawa Tengah, Sasmito mengungkapkan pentingnya produk hukum daerah sebagai acuan dalam mengelola potensi energi. Sebab selama ini upaya pengelolaan energi di Jawa Tengah belum optimal.

“Untuk itu kita harus memiliki pegangan dalam pengelolaan energi yang memihak kepentingan Jawa Tengah,” ujarnya.

Melalui Perda ini, kata Sasmito, nantinya juga bisa menjadi acuan masing-masing daerah dalam pengelolaan enegeri. Ia mencontohkan energi panas bumi dan lainnya masih belum tergarap seperti di Guci Kabupaten Tegal, Purwokerto dan Kabupaten Semarang Selain itu juga ia melihat pentingnya kantor-kantor pemerintahan dapat memberikan contoh penggunaan pemanfaatan energi terbarukan.

“Seperti pemanfaatan panel tenaga surya, semestinya gedung-gedung pemerintah sudah mengawali. Jangan hanya mewacanakan saja,” ungkapnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Nyinyir di Facebook soal Penusukan Wiranto, Pegawai Undip Dipolisikan

Nyinyir di Facebook soal Penusukan Wiranto, Pegawai Undip Dipolisikan

Regional
Penghuni Rumah Tidak Tahu Barang yang Dititip R Adalah Bahan Pembuat Bom

Penghuni Rumah Tidak Tahu Barang yang Dititip R Adalah Bahan Pembuat Bom

Regional
Kisah Sebuah Sumur Kecil di Ladang yang jadi Asa Ratusan KK

Kisah Sebuah Sumur Kecil di Ladang yang jadi Asa Ratusan KK

Regional
Rabu Pagi, Kualitas Udara Sumbar Masuk Level Tidak Sehat

Rabu Pagi, Kualitas Udara Sumbar Masuk Level Tidak Sehat

Regional
Kronologi Pembunuhan 'Debt Collector' yang Tubuhnya Terpisah dari Kepala

Kronologi Pembunuhan "Debt Collector" yang Tubuhnya Terpisah dari Kepala

Regional
183 Warganya Keracunan Makanan, Bupati TTS Tetapkan Status Kejadian Luar Biasa

183 Warganya Keracunan Makanan, Bupati TTS Tetapkan Status Kejadian Luar Biasa

Regional
Siswi SMP yang Dicabuli Guru Les Vokal Sembunyikan Kehamilan hingga 8 Bulan

Siswi SMP yang Dicabuli Guru Les Vokal Sembunyikan Kehamilan hingga 8 Bulan

Regional
Virus Flu Burung Merebak di Tegal, 150 Unggas Mati Mendadak

Virus Flu Burung Merebak di Tegal, 150 Unggas Mati Mendadak

Regional
Kasus Pembunuhan 'Debt Collector': Kepala Korban Ditemukan Terpisah dari Tubuhnya

Kasus Pembunuhan "Debt Collector": Kepala Korban Ditemukan Terpisah dari Tubuhnya

Regional
4 Fakta Suami Bakar Istri di Surabaya, Terlibat Cekcok hingga Kabur Bawa Motor Pemilik Kos

4 Fakta Suami Bakar Istri di Surabaya, Terlibat Cekcok hingga Kabur Bawa Motor Pemilik Kos

Regional
Terduga Teroris AK dari Sukoharjo Dikenal Jarang Bergaul dan Tertutup

Terduga Teroris AK dari Sukoharjo Dikenal Jarang Bergaul dan Tertutup

Regional
Lurah Way Halim: Nenek Nurhasanah Tidak Terlibat Terorisme

Lurah Way Halim: Nenek Nurhasanah Tidak Terlibat Terorisme

Regional
Menyoal Gibran Maju Pilkada Solo, Bukan Pilihan PDI-P Solo hingga Anjuran Ganjar

Menyoal Gibran Maju Pilkada Solo, Bukan Pilihan PDI-P Solo hingga Anjuran Ganjar

Regional
Nekat Keluyuran Saat Jam Kerja, 14 ASN Kena Razia

Nekat Keluyuran Saat Jam Kerja, 14 ASN Kena Razia

Regional
Susahnya Hidup Nenek Paulina: Tinggal Sendiri di Gubuk Reyot, Jual Kelapa untuk Beli Beras

Susahnya Hidup Nenek Paulina: Tinggal Sendiri di Gubuk Reyot, Jual Kelapa untuk Beli Beras

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X