Ulama Tasikmalaya Nilai SDA Pemimpin Otoriter - Kompas.com

Ulama Tasikmalaya Nilai SDA Pemimpin Otoriter

Kompas.com - 19/04/2014, 21:57 WIB
TRIBUNNEWS/DANY PERMANA Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto (kanan), bersama Ketua Partai Persatuan Pembangunan Suryadharma Ali (tengah), menghadiri kampanye Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (23/3/2014).
TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Kekisruhan yang terjadi di tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) terus mendapatkan sorotan di berbagai pihak. Simpatisan partai dari kalangan ulama di Tasikmalaya, Jawa Barat, menilai Ketua Umum PPP Suryadharma Ali (SDA) adalah pimpinan otoriter karena memecat sejumlah elit politik partai di daerah tanpa prosedur.

"Pak SDA yang seenaknya pecat memecat. ini gaya otoriter," terang salah seorang ulama, Miftah Fariz, setelah menggelar pertemuan ulama simpatisan PPP di Pondok Pesantren Mabdaul Ulum, Tamansari, Kota Tasikmalaya, Sabtu (19/4/2014).

Fariz menambahkan, SDA dinilai tak memikirkan keutuhan internal partai, karena telah memecat beberapa elit politiknya di daerah yang meminta ketua umum mundur setelah hasil pemilu legislatif yang meleset dari target. "Seharusnya sebagai ketua umum lebih mementingkan keutuhan partainya," kata dia.

Saat ini ,lanjut Fariz, seluruh ulama, simpatisan PPP, dan partai Islam wajib bersatu, bukan malah pecat memecat. Sehingga dia mengusulkan segera dilakukan konsolidasi atau islah internap partai berlambang Kabah itu. "Saya minta diadakan islah antara elit partai yang sebenarnya," ungkap Fariz.

Selain itu, simpatisan ulama Tasikmalaya, kata Fariz, belum memberikan persetujuan terkait koalisi antara PPP dan Gerindra. Ia menilai keputusan partai dalam hal ini SDA terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan koalisi.

"Kalau koalisi kan nanti akan ditentukan saat rapimnas. Kita setuju saja dengan partai manapun PPP berkoalisi, Tapi alangkah baiknya PPP berkoalisi dengan partai Islam. Seperti dengan PKS, PAN, PBB dan PKB, akan sanggup menghasilan 32 persen suara," tambah dia.

Hal senada diungkapkan ulama simpatisan PPP lainnya Ateng Zaelani. Menurutnya, keinginan partai berkoalisi dengan Partai Gerindra terlalu dini untuk diputuskan. Seharusnya pimpinan partai bisa mengikuti dahulu perkembangan politik.

Ateng menilai putusan koalisi ini dilakukan ketua umum secara pribadi dan sudah keluar dari hasil permusyawaratan internal partai. "Saya kira koalisi dengan Gerindra dilakukan secara sendiri-sendiri oleh ketua umum. Harusnya kan lewat dulu rapimnas," tambah Ateng.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorErvan Hardoko

Terkini Lainnya

Kerugian Negara Dikembalikan, Pejabat Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Dana Sampah Tidak Ditahan

Kerugian Negara Dikembalikan, Pejabat Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Dana Sampah Tidak Ditahan

Regional
Alasan 6 KPU Provinsi Belum Selesaikan Pemutakhiran Data Pemilih

Alasan 6 KPU Provinsi Belum Selesaikan Pemutakhiran Data Pemilih

Nasional
Universitas Brawijaya Raih Juara Umum UTU Award 2018

Universitas Brawijaya Raih Juara Umum UTU Award 2018

Edukasi
Sebuah Gudang Bank BNI di Kota Palopo Terbakar

Sebuah Gudang Bank BNI di Kota Palopo Terbakar

Regional
KPK Telusuri Pembahasan Rencana Tata Ruang Terkait Proyek Meikarta

KPK Telusuri Pembahasan Rencana Tata Ruang Terkait Proyek Meikarta

Nasional
Pekerja Proyek Pembangunan Bandara NYIA Tewas Setelah Terjatuh ke Saluran Air

Pekerja Proyek Pembangunan Bandara NYIA Tewas Setelah Terjatuh ke Saluran Air

Regional
Saat Ketua KPK Blusukan ke Sungai Mahakam dan Temukan Penumpukan Batubara Ilegal

Saat Ketua KPK Blusukan ke Sungai Mahakam dan Temukan Penumpukan Batubara Ilegal

Regional
Tim Mapagama UGM Siap Arungi Sungai Franklin Australia

Tim Mapagama UGM Siap Arungi Sungai Franklin Australia

Edukasi
Kasus Jamal Khashoggi, Saudi Tak Bakal Turuti Permintaan Turki

Kasus Jamal Khashoggi, Saudi Tak Bakal Turuti Permintaan Turki

Internasional
Poster Jokowi-Ma'ruf Dipasang di Tempat Ibadah di Garut, Tim Lakukan Investigasi

Poster Jokowi-Ma'ruf Dipasang di Tempat Ibadah di Garut, Tim Lakukan Investigasi

Nasional
6 Provinsi Belum Selesaikan Pemutakhiran Data Pemilih Pemilu

6 Provinsi Belum Selesaikan Pemutakhiran Data Pemilih Pemilu

Nasional
Kronologi Pelaku Perampokan Sopir Taksi 'Online' Serahkan Diri karena Takut Ditembak Polisi

Kronologi Pelaku Perampokan Sopir Taksi "Online" Serahkan Diri karena Takut Ditembak Polisi

Regional
Kelompok Kerja Guru Mandiri Melawan 'Efek Mattew' di Kaltara

Kelompok Kerja Guru Mandiri Melawan 'Efek Mattew' di Kaltara

Edukasi
Jika Perang Lawan Rusia dan China, AS Terancam Kalah

Jika Perang Lawan Rusia dan China, AS Terancam Kalah

Internasional
Kisah Henita Cari Anak Pasca-gempa di Petobo, Melacak dengan Cinta hingga Ucapan Ulang Tahun

Kisah Henita Cari Anak Pasca-gempa di Petobo, Melacak dengan Cinta hingga Ucapan Ulang Tahun

Regional

Close Ads X