Kompas.com - 02/04/2014, 11:55 WIB
Salah satu terumbu karang yang mulai rusak akibat bom ikan di gugusan kepulaun Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. istimewa/ dok. MAPALA UNTANSalah satu terumbu karang yang mulai rusak akibat bom ikan di gugusan kepulaun Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.
|
EditorCaroline Damanik

FLORES TIMUR, KOMPAS.com- Di tengah upaya pemerintah untuk menekan kerusakan terumbu karang oleh bom ikan dan potas melalui pengawasan di lapangan, muncul ide untuk mengenakan hukum adat pada para pelaku. Ide tersebut tengah dirintis tahun ini.

"Masyarakat masih segan dan patuh terhadap unsur adat," kata Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Flores Timur, Ignasius Usen Aliandu, Rabu (2/3).

Wacana ini bertujuan agar para nelayan yang melanggar dalam penangkapan ikan bisa dikenai hukuman sesuai adat yang berlaku sanksi seperti gading atau sarung adat. Biasanya cara tersebut bisa langsung dieksekusi dan pelaku menerima sanksi sosial maupun finansial.

Menurut Ignasius, ada dua pemimpin adat yang masih disegani di daerah Flores Timur yakni Raja Larantuka dan Raja Sagu. Raja Larantuka memiliki pengaruh di Kabupaten Flores Timur di Pulau Flores sementara Raja Sagu disegani masyarakat yang tinggal di Pulau Adonara.

Cara ini diharapkan bisa mengimbangi langkah pemerintah dalam menekan laju kerusakan terumbu karang seperti pembentukan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas). Namun, sebanyak 17 Pokwasmas yang ada di Kabupaten Flores Timur kurang efektif karena keterbatasan dana. Tugas mereka umumnya melaporkan setiap penyimpangan yang ditemui hingga penindakan bersama penyidik PNS (PPNS).

Lontaran tersebut mengemuka di sela pelaksanaan Ekspedisi Pemantauan Terumbu Karang untuk Evaluasi Dampak di Flores Timur dan Alor. Dimulai sejak tanggal 13 Maret, Kapal Layar Motor FRS Menami membawa peneliti dari World Wide Funds for Nature (WWF), Wildlife Conservartion Society (WCS), dan Kementerian Kelautan dan Perikanan mengitari Pulau Alor, Solor, Pantar, Flores dan Adonara.

Selama ekspedisi berlangsung, para peneliti mendapati kerusakan terumbu karang di berbagai lokasi pemantauan. Kebanyakan hancur berantakan dan mati akibat bom ikan dan potas. (eld)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Regional
Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Regional
Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Regional
Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Regional
Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Regional
Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Regional
Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Regional
Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Regional
Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Regional
Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.