Karena Asap, Penerbangan dari dan ke Pekanbaru Distop sampai 15 Maret - Kompas.com

Karena Asap, Penerbangan dari dan ke Pekanbaru Distop sampai 15 Maret

Kompas.com - 13/03/2014, 12:22 WIB
MELVINAS PRIANANDA Pesawat komersil terbang sebelum Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru lumpuh selama tiga jam akibat pekatnya kabut asap, Kamis (20/6/2013). Kabut asap akibat kebakaran lahan dan hutan yang melanda wilayah Riau menyebabkan jarak pandang hanya mencapai 750 meter sehingga sejumlah penerbangan terpaksa ditunda dan dialihkan. TRIBUN PEKANBARU/MELVINAS PRIANANDA

PEKANBARU, KOMPAS.com - Sebanyak 16 maskapai, yang tergabung dalam Komite Operator Maskapai Penerbangan (Airlines Operator Comittee/AOC) Pekanbaru menghentikan seluruh penerbangan ke Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru hingga tanggal 15 Maret. Penerbangan distop sementara akibat makin tebalnya asap yang menyelimuti Riau.

"Seluruh penerbangan dihentikan hingga 15 Maret, dan ada kemungkinan diperpanjang apabila kondisi asap tidak kunjung membaik," kata Ketua AOC Pekanbaru, Ahmad Nixon, di Pekanbaru, Rabu (12/3/2014).

Ia mengatakan, ada sembilan penerbangan reguler yang dipastikan berhenti beroperasi untuk sementara, yaitu Garuda Indonesia, Lion Air, Batik Air, Firefly, Air Asia, Tiger Air Mandala, Citilink, Silk air, dan Sky Aviation. Sisanya yang ikut berhenti beroperasi adalah maskapai penerbangan carter.

Ahmad mengaku bahwa keputusan berhenti terbang itu terpaksa diambil karena atas pertimbangan keselamatan penumpang dan demi menghindari kerugian bisnis yang makin besar. Pasalnya, sudah sekitar sebulan terakhir, aktivitas penerbangan di Pekanbaru terganggu karena asap memperpendek jarak pandang.

Oleh karena itu, saat ini, tiket untuk penerbangan dari dan menuju Pekanbaru tidak dijual hingga tanggal 15 Maret. Penumpang yang terlanjur membeli tiket, penerbangannya akan dijadwalkan ulang.

"Atas keputusan ini kami meminta maaf kepada penumpang. Dan ini terpaksa dilakukan karena maskapai lebih mengutamakan prinsip keselamatan dalam penerbangan," tambahnya.

Station Manager Garuda Indonesia Pekanbaru, Irawan Suryadi, mengatakan asap kebakaran Riau sudah menghancurkan iklim investasi di bisnis penerbangan. Ia mengatakan, setiap pembatalan dan penundaan terbang mengakibatkan kerugian bagi maskapai berkisar Rp 8 juta hingga Rp 11 juta per pesawat.

"Kalau pesawat dialihkan bisa lebih mahal lagi karena bisa sampai Rp 80 juta kerugiannya," katanya.

Kerugian itu berasal dari pengembalian uang tiket penumpang, bahan bakar, kompensasi untuk penundaan, hingga kekacauan dalam rotasi pesawat.

"Diperkirakan dalam tiga minggu ini, kerugian Garuda sudah lebih dari Rp20 miliar," katanya.

Sementara itu, Airport Duty Manager SSK II Ibnu Hasan mengatakan, sudah ada 64 penerbangan dari dan menuju Pekanbaru yang terpaksa batal akibat pekatnya asap. Ia mengatakan, asap membuat jarak pandang turun hingga di bawah batas aman minimal. Sejak pagi hari, rata-rata jarak pandang hanya berkisar 300-700 meter.

"Artinya jarak padang di bawah batas minimal, hanya bisa pesawat untuk lepas landas, tapi untuk mendarat tidak bisa karena sesuai aturan minimal adalah 1.000 meter," katanya.

Ia menjelaskan Bandara SSK II di bawah naungan PT Angkasa Pura II, melayani 78 penerbangan domestik dan internasional setiap hari dalam kondisi normal.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorCaroline Damanik
SumberAntara

Terkini Lainnya


Close Ads X