Kompas.com - 13/03/2014, 12:05 WIB
Ratusan petani yang berdemo ini menuntut pertanggung jawaban Polhut yang menebang pohon cengkeh mereka, aksi ini sempat rusuh. KOMPAS.com/ SUPARMAN SULTANRatusan petani yang berdemo ini menuntut pertanggung jawaban Polhut yang menebang pohon cengkeh mereka, aksi ini sempat rusuh.
|
EditorCaroline Damanik

KOLAKA, KOMPAS.com — Ratusan masyarakat dan petani dari daerah Lalomba dan Sabilambo, Kolaka, Sulawesi Tenggara, terlibat kerusuhan dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satol PP) dan pasukan anti-huru-hara Polres Kolaka, Kamis (13/3/2014). Para petani dan masyarakat yang awalnya berdemo tiba-tiba berusaha mendobrak pagar besi yang dipalang oleh aparat di pintu timur kompleks Kantor Bupati Kolaka.

Kerusuhan terus meluas saat sejumlah massa terlibat aksi dorong-dorongan dengan aparat dan sebagian dari mereka nekat memanjat pagar kantor Pemda Kolaka. Sejumlah petani tampak melemparkan tanaman cengkeh kering yang sebenarnya dibawa sebagai simbol protes mereka ke arah petugas yang berjaga. Pohon cengkeh kering yang dibawa juga dibakar bersama dengan baliho Bupati Kolaka yang dibuka secara paksa.

Pihak keamanan tampak kewalahan dalam menghalau aksi massa ini. Untuk mengantisipasi kerusuhan agar tidak lebih parah, setiap koordinator massa turun tangan meredam emosi pendemo.

Turunnya ratusan petani ke jalanan ini dipicu oleh razia polisi hutan bersama sejumlah pihak untuk menertibkan pemanfaatan kawasan hutan lindung yang berubah fungsi menjadi lokasi perkebunan. Massa mendesak agar Bupati Kolaka, Ahmad Safei, bertanggung jawab terhadap razia itu. Pasalnya, SK penertiban ditandatangani langsung oleh Bupati.

Jabir, kordinator utama aksi, mengatakan, tugas pokok pemerintah adalah melindungi masyarakat, termasuk petani. Langkah pemda melakukan penertiban dinilainya sebagai suatu kesalahan.

"Petani ini butuh hidup. Razia yang dilakukan polhut bersama tim itu tidak manusiawi. Pohon cengkeh petani dicabut, ditebang bahkan bibit cengkeh pun dirusak. Sikap pemda hari ini adalah sikap yang ingin mematikan petani. Sudah jelas aturannya siapa pun berhak mengolah kawasan hutan menjadi kebun sesuai dengan aturan yang berlaku, petani di sana sudah mengikuti aturan," tegasnya.

Setelah menyampaikan aspirasi di depan kantor Bupati Kolaka, massa melanjutkan aksi ke kantor DPRD Kolaka. Di tempat itu, massa ditemui oleh sejumlah pejabat muspida dan dewan. Ketua DPRD Kolaka, Parmin Dasir menjelaskan bahwa pihak DPRD telah menyurati pemda untuk menghentikan sementara penertiban kawasan hutan.

“Kita tunggu hasil rapat bersama yang terdiri dari DPRD, Bupati, Wakil Bupati, Kapolres, Dandim, Kejari, dan sejumlah pihak terkait, apa hasilnya,” katanya.

Di tempat yang sama, Wakil Bupati Kolaka, Muhammad Jayadin, menemui massa dengan membawa hasil rapat bersama. Menurutnya, dalam rapat disepakati penertiban kawasan hutan dihentikan sementara dan pemda akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Kehutanan guna pemberian izin kelola.

“Ada dua poin yang kita sepakati dalam pertemuan tadi. Yang pertama operasi ini kita hentikan untuk sementara. Yang kedua pemda akan melakukan koordinasi kepada Kementerian Kehutanan untuk memberikan izin atau penurunan status di daerah yang telanjur dibuat kebun oleh warga dan petani. Saya rasa tujuan semua ini baik dan saya harap masyarakat mendukung upaya pemda ini,” tegasnya.

Seusai mendengarkan kabar tersebut, petani membubarkan diri. Namun, mereka mengancam akan kembali menggelar aksi dengan massa yang lebih besar jika janji pemda tidak diwujudkan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Regional
Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Dukung Pemerintah, Shopee Hadirkan Pusat Vaksinasi Covid-19 di Bandung

Regional
Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Lewat EDJ, Pemrov Jabar Berkomitmen Implementasikan Keterbukaan Informasi Publik

Regional
Pemkot Tangsel Sampaikan LPPD 2020, Berikut Beberapa Poinnya

Pemkot Tangsel Sampaikan LPPD 2020, Berikut Beberapa Poinnya

Regional
Kang Emil Paparkan Aspirasi Terkait RUU EBT, Berikut 2 Poin Pentingnya

Kang Emil Paparkan Aspirasi Terkait RUU EBT, Berikut 2 Poin Pentingnya

Regional
Diluncurkan, Program SMK Membangun Desa di Jabar Gandeng 27 Desa

Diluncurkan, Program SMK Membangun Desa di Jabar Gandeng 27 Desa

Regional
Ganjar Ingatkan Para Guru Berikan Contoh Disiplin Terapkan Prokes

Ganjar Ingatkan Para Guru Berikan Contoh Disiplin Terapkan Prokes

Regional
Pembunuh Berantai di Kulon Progo Ternyata Residivis Kasus Pencurian

Pembunuh Berantai di Kulon Progo Ternyata Residivis Kasus Pencurian

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X