Abu Kelud Tak Bahayakan Candi Borobudur

Kompas.com - 14/02/2014, 18:50 WIB
AFP PHOTO / SURYO WIBOWO Anggota TNI menutupi stupa Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (14/2/2014), agar tidak terkena abu vulkanik hasil letusan Gunung Kelud.

MAGELANG, KOMPAS.com — Berdasarkan analisis tim Balai Konservasi Borobudur, kadar keasaman (pH) abu vulkanis Gunung Kelud yang menutupi Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, masih dalam taraf aman.

Analisis tersebut dilakukan menggunakan kertas indikator pH oleh tim khusus sejak Jumat (14/2/2014) pagi. Marsis Sutopo, Kepala Balai Konservasi Borobudur, memaparkan, dua titik sampel diambil dari Candi Borobudur, yaitu undak dengan hasil pH 5, dan stupa dengan hasil pH 6.

Hasil pH 6 pada stupa ini kemungkinan karena abu telah bercambur dengan air hujan. Adapun sampel untuk Candi Mendut dan Candi Pawon, lanjut Marsis, masing-masing satu titik, yaitu di selasar, dengan hasil pH 5.

"Normalnya pH 7, berarti kadar pH abu Kelud masih tergolong aman. Kecil kemungkinan menyebabkan batu andesit candi akan lapuk dan rusak," ujar Marsis, dalam keterangan pers di Manohara Hotel, Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Magelang, Jumat (14/2/2014) sore.


Menurut Marsis, hasil pH tersebut masih lebih tinggi dari abu vulkanis Gunung Merapi yang memiliki pH 4. Pada hasil penelitian Balai Konservasi Borobudur pada 2011 lalu, batu andesit candi akan lapuk lebih cepat bila terkena abu dengan pH 3.

Dibanding abu Merapi, kata Marsis, ketebalan abu Kelud yang menutupi ketiga candi tersebut hanya 3-5 milimeter, sedangkan abu Merapi dulu mencapai 3 sentimeter.

Selain menganalisis kadar keasaman, tim juga menganalisis XRF (X-ray flourescence) atau zat kimia yang terkandung pada abu Kelud. Hasilnya diketahui bahwa abu Kelud yang menempel di seluruh permukaan batu candi terdiri dari unsur silika (70,6 persen) persen, aluminium (9 persen), besi (5,7 persen), kalsium (0,7 persen), dan sulfur (0,1 persen).

"Unsur silika ini jika dihirup manusia, maka akan menyebabkan gangguan pernapasan, sedangkan unsur sulfur akan berdampak langsung pada kerusakan batu, tapi unsur sulfur ternyata cukup sedikit, kemungkinan karena jarak antara Gunung Kelud dan Candi Borobudur cukup jauh," papar Marsis.

Kendati masih dalam taraf aman, pihak Balai Konservasi Borobudur tetap melakukan antisipasi dan menetapkan siaga bencana untuk ketiga cagar budaya dunia itu.

Stupa-stupa di empat tingkat teratas dari candi telah ditutup memakai plastik tarpaulin raksasa yang diimpor dari Jerman. Penutupan dilakukan untuk 72 stupa kecil dan 1 stupa besar, serta lantainya.

"Penutupan stupa candi dan kunjungan wisata untuk sementara ini (diberlakukan) karena kami ingin menjaga kelestarian candi agar tidak rusak, serta (demi) kesehatan wisatawan tentunya," ujar Marsis.

Setelah penutupan dilakukan, sebut Marsis, mulai Minggu mendatang akan ada pengadaan alat kebersihan, yang dilanjutkan dengan pemulihan atau pembersihan.

Tahapan ini diharapkan tidak berlangsung lama sehingga tidak berdampak pada aktivitas wisata dan perekonomian masyarakat sekitar candi.

"Kami perkirakan recovery (pemulihan) akan memakan waktu 7-10 hari. Recovery akan lebih cepat jika dibantu oleh relawan," ujar Marsis.

Marsis berujar, semua tahapan penanganan bencana di tiga candi itu dipantau langsung oleh UNESCO. Oleh karena itu, pihaknya harus bersikap tegas terhadap kebijakan penutupan ini.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorKistyarini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X