Korban Abrasi Pantura Hidup dengan Utang Beras ke Tetangga

Kompas.com - 08/02/2014, 09:16 WIB
Warga Desa Tlonto Rajeh, Kecamatan Pasean, Pamekasan, Jawa Timur, belum menerima bantuan dari Pemkab Pamekasan. KOMPAS.com/TaufiqurrahmanWarga Desa Tlonto Rajeh, Kecamatan Pasean, Pamekasan, Jawa Timur, belum menerima bantuan dari Pemkab Pamekasan.
|
EditorFarid Assifa

PAMEKASAN, KOMPAS.com - Sebanyak 20 kepala keluarga yang jadi korban abrasi laut di Desa Tlonto Rajeh, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan, sampai hari ini belum menerima bantuan dari Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Mereka hidup dengan utang karena mereka juga tidak bisa melaut.

Jumaani, salah satu warga mengatakan, untuk menyambung hidupnya, seminggu dua kali harus pinjam beras ke tetangganya. Hidup menjanda selama tiga tahun, membuat Jumaani kebingungan mencari uang. Satu-satunya harapan yakni menunggu kiriman uang dari anak pertamanya yang menjadi tenaga kerja di Malaysia.

"Kadang seminggu dua kali atau tiga kali saya pinjam beras ke tetangga karena tak punya uang," terangnya, Sabtu (8/2/2014).

Selain meminjam ke tetangganya, Jumaani selalu menunggu bantuan beras untuk rakyat miskin (raskin) yang turun tiap bulan. Namun turunnya bantuan raskin itu juga tidak menentu. Terkadang sebulan ada dan bulan berikutnya tidak ada raskin.

Bagi warga Desa Tlonto Rajeh, ketika cuaca ekstrem seperti dua bulan terakhir ini, menjadi ancaman jiwa. Sebab rumah-rumah mereka setiap hari dihantam ombak dengan ketinggian mencapai 4 meter. Sudah ada 50 lebih bangunan yang rusak karena dihantam ombak. Ketika malam hari, mereka juga mengungsi karena rumahnya dimasuki air laut.

Wakil Ketua DPRD Pamekasan, Khairul Kalam, mengatakan, warga yang tinggal di wilayah pantai utara (Pantura) Pamekasan sangat layak menerima bantuan bencana. Sebab selain sudah dua bulan lebih tidak melaut, rumah-rumah mereka juga banyak yang ambruk karena diterjang ombak.

"Pemerintah harus memberikan bantuan kepada mereka melalui beras cadangan untuk bencana dimana sisa tahun 2013 kemarin masih 50 ton lebih," terangnya kepada Kompas.com via ponselnya.

Setidaknya, kata politisi Partai Demokrat ini, bantuan beras itu bisa meringankan beban hidup mereka setelah ada bantuan. Apalagi Pemerintah Kabupaten Pamekasan memiliki beras cadangan yang melimpah. Namun pemberian bantuan kepada mereka harus prosedural agar tidak terjadi persoalan hukum di kemudian hari.

Pemerintah, kata Khairul, tidak harus menunggu laporan dari warga ketika ada bencana. "Pemerintah harus jemput bola ketika ada bencana. Jangan menunggu adanya laporan baru akan bertindak," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sosial, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Pamekasan, Ahmad Subaidi, ketika dikonfirmasi belum menerima laporan bencana di daerah pantura. "Kalau tidak ada laporan, saya tidak berani menyalurkan bantuan," ujarnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wali Kota Solo 'Bermain' Medsos: Tujuan Utama Bukan untuk Pencitraan...

Wali Kota Solo "Bermain" Medsos: Tujuan Utama Bukan untuk Pencitraan...

Regional
Seorang Pria Tewas di Tangan Ayah dan Anak Saat Menghadiri Sebuah Pesta

Seorang Pria Tewas di Tangan Ayah dan Anak Saat Menghadiri Sebuah Pesta

Regional
Abrasi Pantai Rusak 10 Warung Seafood di Kabupaten Bantul

Abrasi Pantai Rusak 10 Warung Seafood di Kabupaten Bantul

Regional
Pengacara Bahar bin Smith: Yang Isi BAP dan yang Tanda Tangan Siapa?

Pengacara Bahar bin Smith: Yang Isi BAP dan yang Tanda Tangan Siapa?

Regional
Sukarelawan Covid-19 di Papua 'Menjerit' Uang Lelah Sejak Maret Belum Dibayar

Sukarelawan Covid-19 di Papua "Menjerit" Uang Lelah Sejak Maret Belum Dibayar

Regional
Dramatis, Upaya Damkar Evakuasi Sapi 3,5 Kuintal dari Dalam Sumur, Tali Membelit Leher Hewan

Dramatis, Upaya Damkar Evakuasi Sapi 3,5 Kuintal dari Dalam Sumur, Tali Membelit Leher Hewan

Regional
Libur Panjang, Volume Kendaraan yang Melintas di Klaten Menurun 5 Persen

Libur Panjang, Volume Kendaraan yang Melintas di Klaten Menurun 5 Persen

Regional
Kebakaran Hanguskan 150 Rumah di Kotabaru Kalsel, Api Muncul dari Bangunan Kosong

Kebakaran Hanguskan 150 Rumah di Kotabaru Kalsel, Api Muncul dari Bangunan Kosong

Regional
Kronologi Terbongkarnya Ayah Cabuli Anak Kandung, Aksinya Direkam Tetangga

Kronologi Terbongkarnya Ayah Cabuli Anak Kandung, Aksinya Direkam Tetangga

Regional
16 Narapidana Lapas Pekanbaru Positif Corona, 1 Meninggal Dunia

16 Narapidana Lapas Pekanbaru Positif Corona, 1 Meninggal Dunia

Regional
Ganjar Umumkan UMP Jateng Tahun 2021 Naik 3,27 Persen

Ganjar Umumkan UMP Jateng Tahun 2021 Naik 3,27 Persen

Regional
Mayat Pria Misterius Mengapung di Kubangan Air, Tangan dan Kakinya Terikat

Mayat Pria Misterius Mengapung di Kubangan Air, Tangan dan Kakinya Terikat

Regional
Tren Ikan Cupang yang Jadi Hobi Sekaligus Bisnis Menguntungkan

Tren Ikan Cupang yang Jadi Hobi Sekaligus Bisnis Menguntungkan

Regional
Angin Kencang di Sleman, Pohon Tumbang dan Atap Rumah Beterbangan

Angin Kencang di Sleman, Pohon Tumbang dan Atap Rumah Beterbangan

Regional
Intensitas Gempa Gunung Merapi Kembali Dilaporkan Meningkat

Intensitas Gempa Gunung Merapi Kembali Dilaporkan Meningkat

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X