Masih Suasana Bencana, Malam Imlek di Manado Sepi

Kompas.com - 31/01/2014, 07:35 WIB
Dua orang warga Tionghoa memasang ratusan lilin berukuran besar di halaman Vihara Dharma Ramsi, Gang Ibu Aisah, Jalan Cibadak, Kota Bandung, Rabu (29/1/2014). Kegiatan ini sebagai salah satu persiapan menyambut tahun baru Imlek 2565 yang jatuh pada 31 Januari 2014. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN GANI KURNIAWANDua orang warga Tionghoa memasang ratusan lilin berukuran besar di halaman Vihara Dharma Ramsi, Gang Ibu Aisah, Jalan Cibadak, Kota Bandung, Rabu (29/1/2014). Kegiatan ini sebagai salah satu persiapan menyambut tahun baru Imlek 2565 yang jatuh pada 31 Januari 2014. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
|
EditorPalupi Annisa Auliani
MANADO, KOMPAS.com — Tidak seperti pada tahun-tahun sebelumnya, perayaan malam tahun baru China atau Imlek tahun ini terasa sangat berbeda di Manado, Sulawesi Utara. Masyarakat Tionghoa di kota ini merayakan Imlek dengan sangat sederhana.

Dalam pantauan Kompas.com di pecinan Kota Manado, Kamis (30/1/2014) malam, perayaan Imlek tak lagi seramai tahun-tahun lalu. Jika biasanya di Kelenteng Ban Hing Kiong terdapat panggung utama, misalnya, kini panggung pertunjukan berbagai atraksi tersebut tidak ada.

Kesederhanaan perayaan malam Imlek tersebut karena Kota Manado baru saja dilanda bencana banjir bandang. Walaupun sudah dua pekan berlalu, tetapi suasana duka masih sangat terasa.

"Upacara sembahyang tetap dilaksanakan, tetapi acara meriah seperti pasang bunga api tidak ada karena kami masih dalam suasana prihatin," ujar salah satu tokoh Tionghoa, Sofyan Jimmy Yosadi, Kamis.


Menurut Sofyan, beberapa rumah warga Tionghoa, terutama yang berada di Kelurahan Calaca, ikut terendam air sewaktu banjir bandang, Rabu (15/1/2014). Bahkan hingga kini beberapa rumah tersebut masih digenangi endapan lumpur tebal.

"Tadi pagi di rumah-rumah yang masih ada lumpurnya tidak ada sembahyang leluhur. Malam ini sembahyang dipusatkan di kelenteng-kelenteng," tambah Sofyan. Beberapa warga Tionghoa juga menyatakan tidak akan melakukan open house sebagai bentuk keprihatinan terhadap bencana.

Sewaktu banjir bandang menerjang, kawasan pecinan termasuk tiga buah kelenteng di kawasan itu ikut terendam air hingga mencapai tiga meter. Kondisi tersebut membuat warga Tionghoa tidak melakukan kegiatan berlebihan pada malam Imlek.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X