Memasak Orangutan, 3 Warga Pontianak Jadi Tersangka

Kompas.com - 11/11/2013, 05:39 WIB
Bayi orangutan sumatera bernama Gokong Puntung yang diselamatkan setelah ibunya dipukuli pemburu, dirawat di pusat karantina Program Konservasi Orangutan Sumatera di Sibolangit, 8 April 2013. AFP PHOTO / ROMEO GACADBayi orangutan sumatera bernama Gokong Puntung yang diselamatkan setelah ibunya dipukuli pemburu, dirawat di pusat karantina Program Konservasi Orangutan Sumatera di Sibolangit, 8 April 2013.
|
EditorPalupi Annisa Auliani
PONTIANAK, KOMPAS.com — Kasus kematian tragis orangutan masih saja terjadi. Secara angka tidak besar, tetapi tetap mengenaskan, termasuk yang di Pontianak, Kalimantan Barat. Pada kasus terakhir, tiga orang ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus kematian orangutan itu.

"Terakhir di Kota Pontianak, Minggu (3/11/2013), orangutan dimakan warga setempat," ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Kalimantan Barat Siti Chadidjah Kaniawati, saat dihubungi di Pontianak, Minggu (10/11/2013).

Peristiwa ini terjadi di Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak. Orangutan yang kondisinya lemah kemudian disembelih oleh warga dan dagingnya dimakan beramai-ramai setelah dimasak dengan bumbu pedas.

Tiga orang jadi tersangka karena terlibat langsung dalam pembunuhan orangutan. Mereka juga kedapatan menyimpan organ atau bagian tubuh dari hewan langka tersebut.

Bukan kematian tragis pertama

Siti mengatakan adanya beberapa kasus lain kematian orangutan di wilayahnya. Pada 2010, dia menyebutkan, tercatat kasus kematian induk orangutan di Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak.

Sebelumnya, induk orangutan itu ditangkap warga bersama anaknya. Sang induk, yang kabarnya "marah" dan mengamuk, sempat direndam warga di sungai. Induk orangutan ini pun mengalami kekerasan fisik. Induk itu akhirnya tewas, sedangkan anaknya selamat dan dirawat di Kabupaten Ketapang oleh organisasi penyelamat hewan.

Pada 2012, satu orangutan mendekati perkampungan di Parit Wak Dongkak, Wajok, Kabupaten Pontianak. Orangutan tersebut tewas setelah mengalami luka bakar parah karena pohon tempatnya bersembunyi dibakar warga. Pembakaran pohon itu semula diniatkan untuk mengusir orangutan itu.

Lalu, pada Oktober 2013, di Desa Peniraman, juga di Kabupaten Pontianak, satu orangutan tewas. Hasil pemeriksaan BKSDA menunjukkan, orangutan itu mengalami patah di tulang tengkorak karena aksi kekerasan. Orangutan jantan itu diduga merupakan pasangan dari induk orangutan yang tewas pada tahun 2010.



Sumber ANT
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pembuangan Limbah Pabrik di Jalanan Cianjur Berpotensi Mencemari DAS Citarum

Pembuangan Limbah Pabrik di Jalanan Cianjur Berpotensi Mencemari DAS Citarum

Regional
Wali Kota Hendi Pastikan Jokowi Akan Tinjau Vaksinasi Tahap 2 di Kota Semarang

Wali Kota Hendi Pastikan Jokowi Akan Tinjau Vaksinasi Tahap 2 di Kota Semarang

Regional
Kasus Covid-19 di Jateng Melandai, Ganjar Minta Upaya 3T Terus Digenjot

Kasus Covid-19 di Jateng Melandai, Ganjar Minta Upaya 3T Terus Digenjot

Regional
Resmikan Tempat Fisioterapi, Wali Kota Hendi Motivasi Penderita Cerebral Palsy

Resmikan Tempat Fisioterapi, Wali Kota Hendi Motivasi Penderita Cerebral Palsy

Regional
KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

Regional
Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Regional
'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X