Petisi Bayi Naila Bergulir di Dunia Maya

Kompas.com - 01/11/2013, 21:07 WIB
Kasus buruknya layanan Rumah Sakit Umum Lasinrang yang berujung pada meninggalnya bayi Naila memicu petisi di dunia maya. Change.orgKasus buruknya layanan Rumah Sakit Umum Lasinrang yang berujung pada meninggalnya bayi Naila memicu petisi di dunia maya.
Penulis Hindra Liauw
|
EditorHindra Liauw

JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus buruknya layanan Rumah Sakit Umum Lasinrang yang berujung pada meninggalnya bayi Naila memicu petisi di dunia maya. Sebuah petisi tuntutan perbaikan layanan kesehatan di rumah sakit itu muncul di laman Change.org, Jumat (1/11/2013).

Petisi ini dipelopori seorang warga Makassar, Fandi Andi S. Ia berharap kasus ini memperoleh perhatian dari pemerintah dan warga. "Jika Anda menganggap nyawa seseorang itu adalah suatu hal yang sangat penting, maka Anda perlu menandatangani petisi ini. Bisa jadi, Anda, keluarga Anda, atau bahkan saya menjadi korban berikutnya," tulis Fandi.

Ia mengatakan, kejadian tersebut menunjukkan bahwa sebagian rumah sakit pemerintah masih mengutamakan hal-hal yang bersifat administratif ketimbang rasa kemanusiaan. Ia menyayangkan sikap birokratis petugas rumah sakit yang menyebabkan satu nyawa melayang.

"Apa pun alasannya, kehilangan nyawa akibat kesalahan, keteledoran, kekurangan pengetahuan ataupun ketidaksengajaan lainnya sangat tidak bisa ditoleransi sama sekali," kata Fandi.

Naila adalah pasien yang ditolak petugas RSU Lasinrang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Rabu (30/10/2013). Dia meninggal di pangkuan ibunya di depan loket pendaftaran rumah sakit karena terlambat mendapatkan penanganan. Bayi berusia dua bulan ini merupakan putri pasangan Mustari dan Nursia asal Dusun Patommo, Desa Kaliang, Kecamatan Duampanua.

Bayi malang itu meninggal saat sang ayah sedang berdebat dengan petugas rumah sakit. Petugas menolak menangani Naila lantaran berkas keterangan tanda lahir bayi tersebut tidak lengkap. Naila didiagnosis sebagai pasien terduga gangguan pernapasan.

Terkait hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Rahmat Latief, menyayangkan kelalaian petugas rumah sakit. Dinkes mengancam akan memberhentikan petugas tersebut.

"Tidak ada alasan mengatakan administrasi atau prosedur. Dalam surat peraturan gubernur, (dalam keadaan darurat) surat rujukan diabaikan, termasuk juga soal pembayaran. Yang terpenting, selamatkan nyawa dulu, baru administrasi menyusul. Jadi, otomatis, meninggalnya bayi depan loket disebabkan human error," kata Rahmat saat dihubungi Kompas.com, Jumat (1/11/2013).

Kecaman juga disuarakan parlemen. "Direktur RSU harus bertanggung jawab," kata Wakil Ketua Komisi IX Nova Riyanti Yusuf di Jakarta, Selasa (1/11/2013).

Ia menegaskan, UU Nomor 36/2009 tentang Kesehatan serta UU 44/2009 tentang Rumah Sakit menyatakan, dalam kasus gawat darurat, penanganan pasien harus diutamakan. Rumah sakit juga tidak boleh meminta uang muka, apalagi menghambat proses penanganan akibat masalah kelengkapan administrasi berupa sepucuk surat kelahiran.

"Apalagi sang bayi tersebut sudah dilengkapi dengan rujukan dari puskesmas asal. Saya meminta Kementerian Kesehatan untuk menyelidiki kasus tersebut dan memberikan sanksi yang sesuai dengan peraturan yang ada," kata Nova.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan didesak melakukan investigasi terkait kasus ini. Jika terbukti terjadi pelanggaran, kepala rumah sakit harus dicopot. Bahkan, harus ada pertanggungjawaban secara pidana.

"Kenapa orang yang sakit di depan mata masih diganjal administrasi? Harusnya kedepankan pertolongan. Kita seperti keledai, akibat masalah prosedural yang tak substantif, akhirnya mengorbankan nyawa orang," kata anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat, Indra, saat dihubungi, Jumat.

Klik petisi bayi Naila di sini

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Purwakarta Batasi Hilir Mudik Kendaraan AKDP dan Bolehkan Angkot Tetap Beroperasi

Purwakarta Batasi Hilir Mudik Kendaraan AKDP dan Bolehkan Angkot Tetap Beroperasi

Regional
Dituding Nikahi Anak 7 Tahun, Syekh Puji Sebut Hanya Skenario Anggota Keluarga untuk Memeras Uang

Dituding Nikahi Anak 7 Tahun, Syekh Puji Sebut Hanya Skenario Anggota Keluarga untuk Memeras Uang

Regional
'Rapid Test', 11 Warga Sumedang Positif Covid-19 dan 4 di Antaranya Tenaga Medis

"Rapid Test", 11 Warga Sumedang Positif Covid-19 dan 4 di Antaranya Tenaga Medis

Regional
Puluhan Santri di Kaltim Berstatus ODP, Pernah Hadir di Ijtima Ulama Gowa

Puluhan Santri di Kaltim Berstatus ODP, Pernah Hadir di Ijtima Ulama Gowa

Regional
RSU dr Slamet Garut Minta Tempat Tinggal Sementara untuk Tenaga Medis

RSU dr Slamet Garut Minta Tempat Tinggal Sementara untuk Tenaga Medis

Regional
Hadapi Corona, Ganjar Minta Desa Hidupkan Lagi Tradisi Jimpitan untuk Lumbung Pangan

Hadapi Corona, Ganjar Minta Desa Hidupkan Lagi Tradisi Jimpitan untuk Lumbung Pangan

Regional
9 Kasus Positif Covid-19 di Jayapura, Pemda Pertimbangkan Karantina Wilayah

9 Kasus Positif Covid-19 di Jayapura, Pemda Pertimbangkan Karantina Wilayah

Regional
Meski Ditolak Warga, Pasien Positif Covid-19 Tetap Dimakamkan di Lahan Pemprov Sulsel di Gowa

Meski Ditolak Warga, Pasien Positif Covid-19 Tetap Dimakamkan di Lahan Pemprov Sulsel di Gowa

Regional
Gedung Bekas Rumah Sakit di Kota Kediri Kembali Difungsikan Rawat ODP

Gedung Bekas Rumah Sakit di Kota Kediri Kembali Difungsikan Rawat ODP

Regional
Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sebut Anggaran untuk Corona Sekitar Rp 200 Miliar

Ketua DPRD Kabupaten Bogor Sebut Anggaran untuk Corona Sekitar Rp 200 Miliar

Regional
Masker Langka dan Mahal, Alumni BLK di Pekalongan Jahit 1000 Lembar

Masker Langka dan Mahal, Alumni BLK di Pekalongan Jahit 1000 Lembar

Regional
Mayoritas Pasien Corona di RSHS Berusia 50 Tahun dan Punya Riwayat Penyakit

Mayoritas Pasien Corona di RSHS Berusia 50 Tahun dan Punya Riwayat Penyakit

Regional
Pemkot Pontianak Kucurkan Dana Rp 37 Miliar untuk Tangani Virus Corona

Pemkot Pontianak Kucurkan Dana Rp 37 Miliar untuk Tangani Virus Corona

Regional
5 Hal Penting Soal Dua Pocong yang Viral hingga Korea Selatan, Foto Tahun 2019 dan Hanya Iseng

5 Hal Penting Soal Dua Pocong yang Viral hingga Korea Selatan, Foto Tahun 2019 dan Hanya Iseng

Regional
Cegah Corona di Lapas Tegal, 57 Narapidana Dibebaskan

Cegah Corona di Lapas Tegal, 57 Narapidana Dibebaskan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X