Kompas.com - 16/10/2013, 16:40 WIB
Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam oleh kamera jebakan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat, 1 November 2012. CIFORMacan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam oleh kamera jebakan di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Jawa Barat, 1 November 2012.
EditorKistyarini

SUKABUMI, KOMPAS.com —  Konflik antara macan tutul jawa (Panthera pardus melas) dan manusia di Jawa Barat bagian selatan terus terjadi. Konflik tersebut bakal terus terjadi jika tidak ada perlindungan kawasan hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

”Pertemuan macan tutul jawa dan manusia saat ini mudah terjadi. Penyebab utama kemungkinan adalah akibat pembukaan hutan untuk lahan perkebunan dan pertanian,” kata Hendra W, perwakilan Tim Penyelamatan Satwa dari Taman Safari Indonesia, di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (15/10/2013).

Sehari sebelumnya, Tim Penyelamatan Satwa Taman Safari Indonesia (TSI) bekerja sama dengan Forum Konservasi Satwa Liar (Foksi) menangkap seekor macan tutul jawa jantan yang kerap berkeliaran di sekitar permukiman masyarakat Kampung Ciangsana, Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. Macan tutul jawa bernama Jampang ini berjenis kelamin jantan berusia 7-8 tahun dengan bobot sekitar 50 kilogram.

Jampang adalah macan tutul jawa keempat yang dijumpai masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Tiga ekor lain bernasib buruk setelah dituduh mencuri dan membunuh ternak peliharaan warga setempat. Mereka dijerat dan dibunuh oknum warga yang belum paham pentingnya pelestarian satwa dilindungi.

Sesuai data International Union for Conservation of Nature tahun 2008, macan tutul jawa tinggal 250 ekor di habitatnya. Sebagian besar macan tutul jawa berada di hutan-hutan selatan Jawa Barat. Di Indonesia, keberadaan macan tutul jawa dilindungi UU No 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati.

Hendra mengatakan, kematian macan tutul jawa membuat penangkapan ini mendesak dilakukan. Masyarakat setempat semakin kesal dan ketakutan macan tutul jawa akan terus membunuh hewan peliharaan.

Karena itu, selain terus menyampaikan pengetahuan perlindungan satwa langka kepada warga, penangkapan dilakukan dengan aturan ketat dan meminimalkan risiko macan tutul jawa terluka. Diperkirakan di sekitar pegunungan dan hutan di Ciemas terdapat 4-5 ekor macan tutul jawa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Si Jampang selanjutnya dititipkan di TSI. Kami sudah mendapatkan izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kabupaten Sukabumi untuk menyelamatkan kehidupan Jampang sebelum dilepasliarkan ke daerah yang layak dan aman,” katanya.

Koordinator Komunikasi Foksi Ully Rangkuti mengatakan, kehidupan macan tutul jawa di Ciemas tidak lagi mudah. Pembukaan lahan hutan untuk perkebunan teh dan karet hingga lahan pertanian warga setempat membuat babi hutan mendekati permukiman untuk memakan padi dan tanaman budidaya lain.

Hal itu memaksa macan tutul jawa mendekati daerah yang sama. Sejauh ini, babi hutan adalah satwa buruan utama macan tutul jawa. ”Penting juga dipikirkan sumber mata pencarian alternatif bagi masyarakat agar mereka tidak mudah membuka lahan baru tempat satwa liar hidup,” katanya.

Manajer Taman Satwa Cikembulan Rudi Arifin menilai, penyebab banyak macan tutul jawa mendatangi permukiman antara lain diduga akibat kerusakan habitat, semakin minimnya hewan buruan, dan kekeringan beberapa waktu terakhir. Di pegunungan Syawal diperkirakan populasi macan tutul jawa hanya tersisa 20-30 ekor. Jumlah ini terus menurun. (CHE)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

 Dorong Perputaran Ekonomi, Kang Emil Targetkan Seluruh Desa Miliki BUMDes pada 2023

Dorong Perputaran Ekonomi, Kang Emil Targetkan Seluruh Desa Miliki BUMDes pada 2023

Regional
Luncurkan Kredit Tanpa Agunan untuk Ibu-ibu Pedagang, Ganjar: Bunga Hanya 2 Persen Per Tahun

Luncurkan Kredit Tanpa Agunan untuk Ibu-ibu Pedagang, Ganjar: Bunga Hanya 2 Persen Per Tahun

Regional
Dikunjungi Gus Halim, Ketua Adat Tidung Minta Salimbatu Dijadikan Desa Religi

Dikunjungi Gus Halim, Ketua Adat Tidung Minta Salimbatu Dijadikan Desa Religi

Regional
Cegah Jual Beli Jabatan, Bupati Wonogiri Optimalkan Penerapan Sistem Meritokrasi

Cegah Jual Beli Jabatan, Bupati Wonogiri Optimalkan Penerapan Sistem Meritokrasi

Regional
Walkot Bobby Ajak HMI Sumut Berkolaborasi Dukung Program Pembangunan

Walkot Bobby Ajak HMI Sumut Berkolaborasi Dukung Program Pembangunan

Regional
Panen Raya, Pimpinan DPRD Kota Bogor Turun ke Sawah Bersama Petani

Panen Raya, Pimpinan DPRD Kota Bogor Turun ke Sawah Bersama Petani

Regional
Wonogiri Juara Satu IDSD, Bupati Jekek: Berkat Semangat Reformasi Pemangku Kepentingan

Wonogiri Juara Satu IDSD, Bupati Jekek: Berkat Semangat Reformasi Pemangku Kepentingan

Regional
Tunjukkan Kinerja Baik Bangun Kota Semarang, Walkot Hendi Dapat Penghargaan Pembangunan Daerah 2021

Tunjukkan Kinerja Baik Bangun Kota Semarang, Walkot Hendi Dapat Penghargaan Pembangunan Daerah 2021

Regional
Jabar Kerja Sama dengan Provinsi Chungcheongnam, Korsel, Kang Emil: Semoga Dongkrak Potensi Ekonomi

Jabar Kerja Sama dengan Provinsi Chungcheongnam, Korsel, Kang Emil: Semoga Dongkrak Potensi Ekonomi

Regional
Bupati Banjar Akui PAD Berkurang akibat UU Minerba

Bupati Banjar Akui PAD Berkurang akibat UU Minerba

Regional
Bobby Buka Balai Kota Medan untuk Warga, Dosen UINSU Berikan Apresiasi

Bobby Buka Balai Kota Medan untuk Warga, Dosen UINSU Berikan Apresiasi

Regional
Memahami Gaya Komunikasi 'Parkir Mobil' ala Gibran

Memahami Gaya Komunikasi "Parkir Mobil" ala Gibran

Regional
Tunjukkan Prestasi dalam Penanganan Pandemi, Kang Emil Raih 2 Penghargaan People of the Year 2021

Tunjukkan Prestasi dalam Penanganan Pandemi, Kang Emil Raih 2 Penghargaan People of the Year 2021

Regional
Berkat Ganjar, Gaji Guru Honorer yang Dahulu Rp 200.000 Kini Rp 2,3 Juta

Berkat Ganjar, Gaji Guru Honorer yang Dahulu Rp 200.000 Kini Rp 2,3 Juta

Regional
Dukung UMKM Jabar, Kang Emil Ikut Mendesain dan Pasarkan Produk di Medsos

Dukung UMKM Jabar, Kang Emil Ikut Mendesain dan Pasarkan Produk di Medsos

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.