Pasca-putusan MK, Soekarwo Banyak Melucu

Kompas.com - 08/10/2013, 18:45 WIB
Gubernur Jawa Timur, Soekarwo usai melantik Wali Kota-Wakil Wali Kota Malang Malang M Anton-Sutiaji, di di gedung DPRD Kota Malang, Jumat (13/7/2013). KOMPAS.com/Yatimul AinunGubernur Jawa Timur, Soekarwo usai melantik Wali Kota-Wakil Wali Kota Malang Malang M Anton-Sutiaji, di di gedung DPRD Kota Malang, Jumat (13/7/2013).
EditorKistyarini

SURABAYA, KOMPAS.com — Gubernur Jawa Timur Soekarwo atau akrab disapa Pakde Karwo kembali bekerja dan tampak ceria. Ia menjadi tuan rumah dalam Rapat Kerja Gubernur Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama XIII di Surabaya, Selasa (8/10/2013).

Pertemuan itu dihadiri Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan, serta beberapa gubernur dan wakil gubernur dari sejumlah daerah. Agenda utama rapat kerja itu adalah pengembangan ketahanan pangan dan infrastruktur dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN.

Dalam sambutannya, Soekarwo banyak melontarkan lelucon dan membuat para hadirin tertawa. Ia juga sesekali berkelakar tentang Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Wakil Gubernur Jatim. ”Gus Ipul itu juga profesor, tapi protolan (cabutan) pemuda Ansor,” kata Soekarwo yang disambut gelak tawa hadirin.

Soekarwo juga berkelakar mengapa Gus Ipul tidak hadir dalam acara rapat kerja itu. ”Gus Ipul, katanya, kakinya keseleo karena kemarin terlalu senang mendengar putusan MK, lalu loncat-loncat,” ujarnya.


Gamawan dalam sambutannya juga langsung memberi selamat kepada Soekarwo. ”Semoga selalu sukses dalam memimpin Jawa Timur,” katanya.

Soekarwo-Saifullah sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jatim petahana dipastikan tetap memimpin Jatim. Kepastian itu diperoleh melalui putusan MK, Senin (7/10).

MK dalam sidang sengketa Pilkada Jatim menolak semua permohonan calon gubernur dan wakil gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja. Dalam permohonannya, Khofifah-Herman menyampaikan bahwa Soekarwo-Saifullah memanfaatkan posisinya sebagai kepala daerah untuk menggunakan dana APBD secara sistematis dan terencana.

Pembelajaran politik

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, Umar Sholahudin, mengatakan, putusan MK ini menjadi pembelajaran politik yang positif bagi Jawa Timur. ”Meski ada gejolak yang berlangsung lama dan melelahkan, tetapi hanya terjadi di tingkat elite dan tidak menyebabkan kerusuhan atau bentrokan di tingkat masyarakat,” katanya.

Umar pun menilai bahwa putusan MK yang menolak gugatan Khofifah-Herman merupakan putusan yang obyektif. Alasannya, gugatan Khofifah-Herman disertai dengan beberapa bukti yang lemah.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X