RB Ungkap Komunitas Siswi Penjaja Diri di Balikpapan

Kompas.com - 08/10/2013, 17:13 WIB
RB, 33 tahun, tersangka yang menggauli siswi Balikpapan beberapa waktu lalu. RB bersaksi bahwa dirinya bisa memperoleh siswi yang bisa dikencaninya semalaman itu setelah ditawari pelajar lain. Praktek ini, menurut RB, ada dan karena terlibat sebagai konsumennya, ia bersedia bertanggung jawab di hadapan hukum. (K71-12) KOMPAS.com/Dani JRB, 33 tahun, tersangka yang menggauli siswi Balikpapan beberapa waktu lalu. RB bersaksi bahwa dirinya bisa memperoleh siswi yang bisa dikencaninya semalaman itu setelah ditawari pelajar lain. Praktek ini, menurut RB, ada dan karena terlibat sebagai konsumennya, ia bersedia bertanggung jawab di hadapan hukum. (K71-12)
|
EditorFarid Assifa

BALIKPAPAN, KOMPAS.com — Kota Balikpapan menamai dirinya "Madinatul Iman". Namun jangan salahkan slogannya bila ternyata ada komunitas pelajar putri di kota ini yang menjajakan diri untuk ditiduri.

Pengakuan ini muncul dari RB (33), warga dari sebuah kawasan elite di Kompleks Balikpapan Baru di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa, 8 Oktober 2013. Polisi menangkap RB dengan tuduhan menggauli gadis di bawah umur yang masih berstatus siswi sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Balikpapan. Dalam pengakuannya, siswi ini diperoleh melalui penawaran khusus temannya yang juga berstatus pelajar SMK. Menurutnya, ada komunitas siswi SMK yang siap ditiduri.

Polisi menangkap RB pada Minggu, 6 Oktober 2013, dini hari, tak jauh dari rumahnya. RB mengungkapkan, lantaran komunitas inilah ia akhirnya berurusan dengan hukum.

"Bukan saya yang sengaja mencari perawan. Bukan seperti yang ditulis di koran-koran. Saya ini hanya ditawari untuk cewek-cewek. Saat itu, termasuk ditawari, ada perawan seharga Rp 17.000.000," kata RB.

Aparat Kepolisian Balikpapan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak, beberapa waktu lalu, mengungkap praktik empat siswi yang menjual kegadisan teman sekolahnya kepada seorang pengusaha muda di Balikpapan. Mereka yang ditangkap itu adalah Hd (17), SL, dan Zn yang berusia 16 tahun, dan Na yang masih 15 tahun. Keempatnya ditangkap beberapa hari setelah menjual Ty (16) kepada RB yang kabarnya seorang pengusaha muda.

Berawal dari pertemuan di mal

RB mengatakan, semua berawal dari pertemuan dirinya dengan SL. Perkenalan mereka berlangsung tidak sengaja tiga bulan lalu di sebuah mal terbesar di Balikpapan. Dalam perkenalan itulah SL menawarkan foto-foto perempuan muda yang katanya bisa menemani semalam. Mereka pun bertukar PIN BlackBerry.

"Seperti jual barang. Ada yang harga Rp 600.000. Sedangkan yang perawan di atas Rp 10 juta. Pada dasarnya saya juga tidak tertarik, termasuk dengan SL, bagi saya dia tidak menarik," kata RB.

RB tidak menganggap serius pertemuan itu. Namun, tak berapa lama, SL menawarkan lagi "dagangannya" via Blackberry Messenger (BBM). Lantaran tidak ditanggapi, SL terus menurunkan harga tawar hingga Rp 12.000.000.

"Semula saya tidak menanggapi, hingga dia terus menurunkan harga. Setelah beberapa bulan kemudian, ketika saya ada masalah pribadi dan saya sedikit khilaf, mulai ada sedikit ketertarikan. Tapi, sejak semula bukan perawan yang saya cari," kata RB.

Ketertarikan itu pun berlanjut dengan pertemuan di sebuah pusat karaoke antara RB dan SL dkk. Ty ada di antara mereka saat itu. Saat tawar-menawar terungkap bahwa Ty masih pelajar berusia 16 tahun. Ty inilah yang akhirnya bertemu lagi dengan RB di sebuah hotel berbintang yang sudah lebih dulu dipesannya. Semuanya berlangsung cepat. CCTV hotel merekam keberadaan RB dan Ty di hotel itu tak lebih dari 20 menit.

"Saat hendak berhubungan dia kesakitan. Saya jadi tidak tega, terlebih saya teringat anak perempuan saya sendiri. Saya sudahi saja dan tidak terjadi apa-apa. Dia saya kasih semua uang yang tersisa dalam dompet lalu pulang," katanya.

RB ditangkap dua minggu kemudian di dekat rumahnya pada dini hari. RB akan dijerat Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 tahun 2002 Pasal 88 tentang eksploitasi ekonomi dan seksual anak di bawah umur dan Pasal 81 tentang persetubuhan dengan anak di bawah umur. “Ancamannya tidak main-main maksimal 15 tahun,” kata Kepala Unit PPA, Iptu Munjaini.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X