Harga Jual Tinggi, Telur Penyu dari Paloh Dijual ke Malaysia - Kompas.com

Harga Jual Tinggi, Telur Penyu dari Paloh Dijual ke Malaysia

Kompas.com - 06/10/2013, 18:18 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Tukik penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di pusat pelestarian Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Selasa (20/4/2010).
SAMBAS, KOMPAS.com - Tingginya harga jual telur penyu asal Paloh ke Malaysia menjadi pemicu semakin maraknya aksi perburuan ilegal telur satwa yang dilindungi tersebut.

Secara geografis, wilayah pesisir pantai Paloh terletak di sebelah utara Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia.

Pesisir pantai yang panjangnya mencapai 100 kilometer ini, 63 kilometer di antaranya merupakan habitat peneluran bagi penyu Hijau (Chelonia Mydas) dan Penyu sisik (Eretmochelys imbricate).

Rilis yang dikeluarkan WWF Program Kelautan Kalimantan Barat menyebutkan, lebih dari 2.000 sarang Penyu Hijau dari 500 betina lebih per tahun yang dijumpai di Pantai Paloh. Namun, telur tersebut di eksploitasi secara besar-besaran oleh masyarakat lokal karena tergiur harga jual yang tinggi.

Koordinator Konservasi Penyu WWF Indonesia Program Kalbar, Dwi Suprapti menyebutkan, dari hasil investigasi menunjukkan tingginya angka penjualan telur penyu tersebut ke wilayah Teluk Melano, Malaysia.

Telur tersebut, lanjut Dwi, dijual pemburu dengan harga 80 sen Ringgit Malaysia per butirnya atau setara dengan Rp 2.600 kepada pengepul. Kemudian dari pengepul menjual kembali dengah harga pasar 3 butir per 10 ringgit.

"Untuk harga lokal hanya Rp 1.500 saja per butir, kemudian dijual lagi dengan harga kisaran Rp 2.500-3.500 per butirnya. Kondisi tersebut menjadikan Malaysia sebagai target pasar penjualan telur Penyu asal Paloh, karena selain harga jual yang lebih mahal, secara geografis lokasinya lebih dekat dan terjangkau," kata Dwi, Minggu (6/10/2013).

Dwi memaparkan, berdasarkan data dari hasil pemantauan terhadap intensitas ancaman, di tahun 2009 menunjukkan, hampir seluruh sarang telur penyu (2146 sarang) diambil oleh masyarakat.

Kemudian pada tahun 2010 jumlah ini menurun menjadi 1849 sarang. "Secara proporsional, sarang telur yang diambil masyarakat pada tahun 2009 dan 2010 berkisar 99 persen dan 95 persen," ujar Dwi.

Kemudian, proporsi pengambilan ilegal ini menurun drastis di dua tahun berikutnya, yaitu pada tahun 2012 berkisar 26 persen dan tahun 2012 berkisar 22 persen sarang yang hilang diburu.

Penurunan secara drastis tingkat perburuan telur penyu tersebut tak lepas dari peranan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) “Kambau Borneo”. Mereka lah yang membantu memonitor pantai peneluran penyu di Paloh sepanjang hari selama musim puncak peneluran berlangsung yang terjadi selama bulan Juni hlingga Oktober.

"Namun prestasi Kambau Borneo ini tak bertahan lama. Di musim puncak 2013 perburuan telur penyu kembali meningkat lebih dari 40 persen di Wilayah Desa Sebubus. Dan hampir 95 persen di wilayah desa Temajuk," kata Dwi.

Meskipun keberadaan Pokmaswas Kambau Borneo yang berupaya keras menjaga dan mengawasi pantai, namun luasnya pantai dan akses yang terbuka tidak sebanding dengan jumlah pengawas. Kondisi inilah yang kemudian menjadi pemicu keberanian sejumlah pihak untuk mengambil telur penyu dengan berbagai modus. 


EditorGlori K. Wadrianto

Close Ads X