Kompas.com - 26/09/2013, 15:17 WIB
Untuk pertama kalinya Yani Mulyani (33) melihat putra ketiganya, Ginan Septian Nugraha pasca operasi pemisahan antara tubuh sehat dengan bayi parasit (tumor teratoma epignathus), Kamis (26/9/2013) KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANAUntuk pertama kalinya Yani Mulyani (33) melihat putra ketiganya, Ginan Septian Nugraha pasca operasi pemisahan antara tubuh sehat dengan bayi parasit (tumor teratoma epignathus), Kamis (26/9/2013)
|
EditorGlori K. Wadrianto
BANDUNG, KOMPAS.com - Sebelum melakukan rekonstruksi rahang bawah bayi Ginan Septian Nugraha harus dipenuhi syarat medis dengan istilah 'rule of ten'. Seperti yang diberitakan sebelumnya, rahang bayi kembar parasit ini tak bisa menutup setelah bayi parasit yang menempel di mulut dilepaskan dalam operasi kemarin.

Dokter bedah anak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung Dicky Drajat menjelaskan, syarat pertama adalah berat badan bayi harus lebih dari 10 pounds atau sekitar 5 kilogram.

Lalu, usia bayi lebih dari 10 minggu, kadar hemoglobin darah lebih dari 10 gr persen yang menunjukkan kemampuan oksigenasi anak baik. Kemudian, sel darah putih kurang dari 10.000 per mL.

Jika prasyarat ini terpenuhi, maka Ginan akan terjamin dalam suatu operasi yang aman. Selain itu, risiko pembiusan dan risiko pembedahan bisa diminimalisasi dengan prediksi kesembuhan yang baik.  

"Saya sudah ngobrol dengan ahli bedah plastik. Persyaratannya harus dipenuhi," kata Dicky saat ditemui di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSHS Bandung, Kamis (26/9/2013).

Dicky mengatakan, operasi rekonstruksi dan perbaikan rahang bawah Ginan akan diserahkan sepenuhnya kepada tim bedah plastik RSHS Bandung untuk mengetahui metode dan teknik yang akan digunakan.

"Selain spesialis operasi plastik, teknik operasi rahang bisa juga dilakukan oleh spesialis bedah mulut," sambung Dicky.

Dicky menambahkan, operasi tersebut tidak harus dilakukan terburu-buru jika sifatnya hanya memperbaiki penampilan. Namun jika sifatnya untuk mengembalikan fungsi, kata dia, maka operasi tersebut memang patut untuk segera dilakukan.

"Minimal poin-poin tadi tercapai agar anak bisa melalui suatu trauma operasi. Tapi sebenarnya tidak urgent, kalau operasi kemarin memang harus segera dilakukan karena mengancam jiwa. Operasi rekonstruksi kita lakukan untuk memperbaiki fungsi seperti menelan, menyedot dan lain-lain," imbuhnya.

Seperti diberitakan, Ginan Septian Nugraha terlahir dengan kondisi conjoined twin parasitic atau kembar siam parasit. Saudara kembarnya yang memiliki bentuk tidak sempurna, menempel dan keluar dari mulut bayi yang sehat. Dokter menyebut bayi parasit tersebut sebagai tumor epignathus teratoma.

Setelah dilakukan operasi pemisahan, mulut Ginan tidak bisa menutup lantaran rahang bawahnya sudah terbiasa menahan beban kembarannya yang bersifat parasit itu. Sendi rahang Ginan tidak berada pada tempatnya. 

---

Informasi penyaluran bantuan untuk Keluarga Ginan Septian Nugraha dapat menghubungi e-mail: redaksikcm@kompas.com



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Hari Pertama Lebaran, Bobby dan Kahiyang Datangi Lokasi Banjir Luapan Sungai Deli

Regional
Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Gelar Open House Virtual, Ganjar Sapa Warga Jateng di Banten hingga Sudan

Regional
Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Penyakit Syaraf Kambuh, Bupati Bener Meriah Dilarikan ke Medan

Regional
H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

Regional
12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

Regional
Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Regional
Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Regional
Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Regional
Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Regional
Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Regional
Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Regional
Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi 'Landscape' Menarik

Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi "Landscape" Menarik

Regional
Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Regional
Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X