Jusuf Kalla: Ganti Rugi PLTU Batang, Harus Jadi "Ganti Untung"

Kompas.com - 23/09/2013, 12:32 WIB
Wakil Presiden 2004-2009 M Jusuf Kalla TRIBUNNEWS/HERUDINWakil Presiden 2004-2009 M Jusuf Kalla
Penulis Suhartono
|
EditorGlori K. Wadrianto
BATANG, KOMPAS.com - Warga di sekitar lokasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga  Uap (PLTU) Batang di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tak boleh dirugikan. Mereka justru harus mendapat keuntungan dari tanah yang mereka serahkan untuk lokasi pembangunan PLTU.  

"Kalau masih ada warga yang menolak pembangunan karena tanahnya dibebaskan pemerintah untuk PLTU Batang, mereka harus mendapat ganti untung, dan bukan ganti rugi. Dengan ganti untung, kehadiran PLTU Batang akan memberikan keuntungan bagi daerah yang memerlukan listrik dan warga Batang," ujar mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla, saat ditanya pers di sela-sela kunjungan kerjanya, Minggu (22/9/2013) kemarin di Kota Batang, Batang, Jawa Tengah.

Menurut Kalla, energi listrik sangat penting bagi masyarakat dan sebuah kota. "Kota bisa maju jika ada listrik. Tanpa listrik, kota tak bisa maju. Jika Batang mau bangkit, Batang harus punya PLTU. Oleh sebab itu, PLTU Batang harus didukung siapapun," tandasnya.

Saat memberi ceramah di Masjid Tazakka, Kecamatan Bandar, Batang, Kalla menyatakan, jika ada proyek listrik untuk menghidupkan kota, maka masyarakatnya harus mendukung. "Karena PLTU penting," tambahnya.

Ditanya bagaimana dengan warga yang masih menolak PLTU Batang? Kalla meminta pemerintah harus segera menyelesaikannya agar pembangunan PLTU Batang segera dimulai. "Ya, penyelesaiannya, lahan mereka harus dibayar dengan ganti untung," tandasnya lagi.

Pembangunan PLTU Batang sejauh ini ditolak sebagian warga karena dianggap mengorbankan lahan mereka.

Berdasarkan data Kementerian Perekonomian, PLTU Batang berkapasitas 2X1000 Megawatt (MW), dengan biaya Rp 35 triliun akan pencanangan tiang pancang pada tahun depan. Beberapa hambatan yang masih ada di antaranya penyelesaian aspek finansial yang terkait pembebasan lahan.

Total lahan yang telah dibebaskan adalah 186,2 hektar dari total 314,6 hektar. Sejauh ini masih kurang 59 persen lahan. Proyek PLTU ini akan mampu memenuhi kebutuhan daya listrik untuk menutupi kebutuhan listrik Jawa-Bali yang tumbuh delapan persen per tahun di 2016.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kepada Warga, Pemudik Asal Jakarta yang Terlantar 3 Hari di Tasikmalaya Sempat Mencari Neneknya hingga Pasar Cikurubuk

Kepada Warga, Pemudik Asal Jakarta yang Terlantar 3 Hari di Tasikmalaya Sempat Mencari Neneknya hingga Pasar Cikurubuk

Regional
Video Ucapan Selamat Idul Fitri Berbahasa Arab Uskup Purwokerto Viral

Video Ucapan Selamat Idul Fitri Berbahasa Arab Uskup Purwokerto Viral

Regional
Potret Kacaunya Data Bansos di NTT, ASN dan 2 Anaknya Masuk Daftar, Ketua RT Protes Keras

Potret Kacaunya Data Bansos di NTT, ASN dan 2 Anaknya Masuk Daftar, Ketua RT Protes Keras

Regional
Kasus Positif Covid-19 dari Klaster Baru Salatiga Bertambah 6

Kasus Positif Covid-19 dari Klaster Baru Salatiga Bertambah 6

Regional
Rayakan Idul Fitri di Tengah Pandemi, Warga Semarang Tetap Jalankan Tradisi Ziarah Makam

Rayakan Idul Fitri di Tengah Pandemi, Warga Semarang Tetap Jalankan Tradisi Ziarah Makam

Regional
Duduk Perkara Ibu dan Anak Sewa Ambulans untuk Mudik, Ternyata Bukan Sakit Covid-19

Duduk Perkara Ibu dan Anak Sewa Ambulans untuk Mudik, Ternyata Bukan Sakit Covid-19

Regional
[POPULER NUSANTARA] Ganjar Puji Suster Katolik Nyanyi Idul Fitri | Ibu dan Anak Sewa Ambulans untuk Mudik

[POPULER NUSANTARA] Ganjar Puji Suster Katolik Nyanyi Idul Fitri | Ibu dan Anak Sewa Ambulans untuk Mudik

Regional
Kisah Pilu Mbah Deman, Belasan Tahun Hidup Segubuk Bareng Ayam dan Bebek

Kisah Pilu Mbah Deman, Belasan Tahun Hidup Segubuk Bareng Ayam dan Bebek

Regional
Fakta di Balik Benda Misterius di Langit Gunungkidul dan Solo Saat Idul Fitri, Ternyata...

Fakta di Balik Benda Misterius di Langit Gunungkidul dan Solo Saat Idul Fitri, Ternyata...

Regional
Pasien Covid-19 Klaster Pasar Pinasungkulan Manado Bertambah 5 Orang

Pasien Covid-19 Klaster Pasar Pinasungkulan Manado Bertambah 5 Orang

Regional
Tambah 12, Jumlah Pasien Sembuh Covid-19 di Kaltim Jadi 117 Orang

Tambah 12, Jumlah Pasien Sembuh Covid-19 di Kaltim Jadi 117 Orang

Regional
Warga Kerap Salah Paham dengan Petugas, Posko Covid-19 ini Dibongkar Kepala Desa

Warga Kerap Salah Paham dengan Petugas, Posko Covid-19 ini Dibongkar Kepala Desa

Regional
Terjangkit dari Ayah, Bayi 12 Bulan di Kutai Kertanegara Positif Covid-19

Terjangkit dari Ayah, Bayi 12 Bulan di Kutai Kertanegara Positif Covid-19

Regional
AirNav: Benda Misterius di Langit Kota Solo Balon Udara

AirNav: Benda Misterius di Langit Kota Solo Balon Udara

Regional
'Tahun Ini Lebih Parah, Belum Lebaran Sudah Banjir'

"Tahun Ini Lebih Parah, Belum Lebaran Sudah Banjir"

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X