Badai Sebulan, Ribuan Nelayan Bengkulu Tak Melaut

Kompas.com - 06/09/2013, 18:16 WIB
Kondisi Badai dengan ketinggian ombak hingga tiga meter satu bulan terakhir di perairan laut Bengkulu mengakibatkan ribuan kepala keluarga nelayan tidak berani melaut, untuk bertahan hidup para nelayan terpaksa harus berhutang kepada rentenir atau lintah darat Firmansyah.com/K83-13Kondisi Badai dengan ketinggian ombak hingga tiga meter satu bulan terakhir di perairan laut Bengkulu mengakibatkan ribuan kepala keluarga nelayan tidak berani melaut, untuk bertahan hidup para nelayan terpaksa harus berhutang kepada rentenir atau lintah darat
|
EditorFarid Assifa

BENGKULU, KOMPAS.com - Satu bulan badai melanda perairan laut Bengkulu mengakibatkan ribuan kepala keluarga nelayan di daaerah ini tidak berani turun ke laut mencari ikan. Kondisi badai ini diperkirakan akan terus berlangsung dalam satu bulan ke depan.

Imbas dari tidak melaut, ratusan nelayan di daerah ini terpaksa menggantungkan hidupnya dari menjual barang, hingga berutang kepada rentenir atau lintah darat.

"Hampir genap satu bulan tidak melaut dikarenakan badai. Untuk mempertahankan hidup keluarga, kami terpaksa menjual barang-barang seperti televisi, emas, bahkan berutang kepada rentenir karena tidak ada pilihan lain," Kata M Nasir, salah satu nelayan Kelurahan Malabero, Kota Bengkulu, Jumat (6/9/2013).

Menurutnya, jika dipaksakan melaut, risiko yang dihadapi para nelayan sangat besar. Perahu bisa karam akibat tergulung ombak. Selain itu, hasil tangkapannya pun sedikit, sementara modal yang dikeluarkan cukup besar, yakni sekitar Rp 140.000.

"Kami perkirakan badai seperti ini akan berlangsung hingga satu bulan ke depan, artinya selama itu pula kami harus mencari alternatif matapencaharian lain," tambah Nasir.

Tagih janji kampanye

Para nelayan juga mengaku sejauh ini tidak ada bantuan dari pemerintah setempat. Mereka berharap Wali Kota Bengkulu, Helmi Hasan dapat merealisasikan janji kampanyenya dahulu untuk menyiapkan 50 ribu lapangan pekerjaan sebagai akses mendapatkan pekerjaan alternatif.

"Kami tidak butuh bantuan sembako dari pemerintah, tetapi pemerintah, khususnya wali kota dapat merealisasikan (janji) menyediakan lapangan pekerjaan seperti janji kampanyenya dahulu," timpal Agus, nelayan lain.

Sementara itu, menurut data Badan Meterologi Klimatologi, ketinggian air laut di perairan Bengkulu hingga kepualaun Enggano menuju Lampung akan terus berada pada posisi 2,5 meter hingga 3 meter dalam satu pekan ke depan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tak Kuat Lewati Jalan Rusak, Wahyuni Menepi dan Melahirkan di Jalan Berlumpur

Tak Kuat Lewati Jalan Rusak, Wahyuni Menepi dan Melahirkan di Jalan Berlumpur

Regional
Ini Daftar 12 Daerah dan Paslon yang Mengikuti Pilkada Serentak Sulsel 2020

Ini Daftar 12 Daerah dan Paslon yang Mengikuti Pilkada Serentak Sulsel 2020

Regional
Wali Kota Tegal Mengaku Tak Tahu Ada Panggung Dangdut Megah di Hajatan Wakil Ketua DPRD

Wali Kota Tegal Mengaku Tak Tahu Ada Panggung Dangdut Megah di Hajatan Wakil Ketua DPRD

Regional
Marak Atraksi Topeng Monyet di Semarang, Satpol PP Gandeng Komunitas Pencinta Hewan

Marak Atraksi Topeng Monyet di Semarang, Satpol PP Gandeng Komunitas Pencinta Hewan

Regional
Jadi Tim Pengacara Bambang Trihatmodjo, Busyro Muqoddas Dikritik Pukat UGM

Jadi Tim Pengacara Bambang Trihatmodjo, Busyro Muqoddas Dikritik Pukat UGM

Regional
30 Nakes di Sorong Terpapar Covid-19, Rumah Sakit dan 3 Puskesmas Ditutup

30 Nakes di Sorong Terpapar Covid-19, Rumah Sakit dan 3 Puskesmas Ditutup

Regional
'Tiba-tiba Ada Mobil Oleng dan Menabrak Mereka, Istri Saya Langsung Meninggal'  

"Tiba-tiba Ada Mobil Oleng dan Menabrak Mereka, Istri Saya Langsung Meninggal"  

Regional
Detik-detik Keluarga Pengemis Ditabrak Mobil Saat Gelar Tikar Duduk di Pinggir Jalan

Detik-detik Keluarga Pengemis Ditabrak Mobil Saat Gelar Tikar Duduk di Pinggir Jalan

Regional
Terobos IGD Covid-19 di Bali, WNA Ini Mengamuk dan Nyaris Pukul Dokter, Ini Penyebabnya

Terobos IGD Covid-19 di Bali, WNA Ini Mengamuk dan Nyaris Pukul Dokter, Ini Penyebabnya

Regional
Diduga Kampanye Terselubung, Calon Bupati Petahana di Ogan Ilir Dilaporkan ke Bawaslu

Diduga Kampanye Terselubung, Calon Bupati Petahana di Ogan Ilir Dilaporkan ke Bawaslu

Regional
Soal Dangdutan yang Digelar Wakil Ketua DPRD Tegal, Ini Penjelasan Wali Kota ke Ganjar

Soal Dangdutan yang Digelar Wakil Ketua DPRD Tegal, Ini Penjelasan Wali Kota ke Ganjar

Regional
Adik Ratu Atut Paling Tajir pada Pilkada Serang, Ini Jumlah Harta Kekayaannya

Adik Ratu Atut Paling Tajir pada Pilkada Serang, Ini Jumlah Harta Kekayaannya

Regional
Produksi Jamu Siap Saji untuk Bertahan di Tengah Pandemi

Produksi Jamu Siap Saji untuk Bertahan di Tengah Pandemi

Regional
Kisah Syamsuddin Hilang 8 Hari di Hutan Perbatasan Malaysia, Dihantui Suara Hewan Buas, Ditemukan Lemas

Kisah Syamsuddin Hilang 8 Hari di Hutan Perbatasan Malaysia, Dihantui Suara Hewan Buas, Ditemukan Lemas

Regional
Kisah Cak In'am, Lewat Kedai Kopi Kenalkan Kebinekaan Indonesia kepada Eks Napi Terorisme

Kisah Cak In'am, Lewat Kedai Kopi Kenalkan Kebinekaan Indonesia kepada Eks Napi Terorisme

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X