Korban Cebongan Patah Kaki dan Tangan Tak Diungkap dalam Sidang

Kompas.com - 06/09/2013, 09:39 WIB
Sebanyak 12 anggota Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan, terdakwa kasus penyerangan LP Kelas IIB Cebongan dielukan massa pendukung mereka seusai  sidang vonis di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (5/9/2013). TRIBUN JOGJA / FERGANATA INDRA RIATMOKOSebanyak 12 anggota Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan, terdakwa kasus penyerangan LP Kelas IIB Cebongan dielukan massa pendukung mereka seusai sidang vonis di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (5/9/2013).
|
EditorGlori K. Wadrianto
KEFAMENANU, KOMPAS.com — Keluarga korban penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DIY, menilai tidak ada hal yang istimewa dalam proses sidang pembacaan vonis oleh Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta yang menjatuhkan vonis 6 hingga 11 tahun kepada tiga anggota Kopassus yang menjadi terdakwa.

“Dengan hanya sebagian fakta permukaan yang diungkap dalam persidangan, ya memang vonis maksimalnya seperti yang telah diputuskan. Memang tidak ada hal istimewa dalam proses persidangan militer ini, dan tentunya hal ini menunjukkan memang negara kita dalam kondisi mati suri dalam penegakan hukum,” kata juru bicara empat korban, Viktor Manbait, kepada Kompas.com, Kamis (5/9/2013).

Menurut Viktor, persidangan hanya menyentuh kulit luarnya dan fakta-fakta di persidangan diungkap sesuai dengan opini publik yang dibentuk bahwa keempat korban adalah preman yang sangat menakutkan dan para pembantai adalah kesatria.

“Dengan tidak dilakukannya rekonstruksi secara menyeluruh proses pembantaian itu maka telah menghilangkan banyak fakta penting dengan maksud untuk memutus mata rantai pertanggungjawaban," kata dia.

Disebutkan, pembantaian dilakukan satu orang dengan senjata mesin AK. "Tetapi dari kondisi korban pembantaian, semua tembakan terarah pada tempat mematikan,” kata Viktor.

Viktor mengatakan, fakta kondisi korban pembantaian jika dilihat dari foto yang beredar di internet, baju yang dikenakan korban tidak ada lubang bekas tembakan, hal itu menunjukkan bahwa korban dieksekusi dalam keadaan tidak berpakaian.

Apalagi, kondisi korban Juan, tangan dan kakinya patah. Begitu juga dengan Deki yang kakinya patah. Hal itu menunjukkan para korban dianiaya sebelum dieksekusi, dan ini tidak diungkapkan dalam sidang.

“Tidak dihadirkannya Kapolda DIY dan Pangdam sebagai saksi, padahal ada pertemuan sebelum dilakukan pemindahan keempat korban ke Cebongan, jelas persidangan militer ini tidak ingin mengungkap fakta peristiwa yang sebenarnya terjadi,” tegas Viktor.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wali Kota Salatiga Perintahkan Pendampingan Disabilitas Dilakukan Menyeluruh

Wali Kota Salatiga Perintahkan Pendampingan Disabilitas Dilakukan Menyeluruh

Regional
Debat Pilkada Putaran Kedua, Gibran Ingin Solo Utara Jadi Pusat Perdagangan, Bajo Bangun Jalan Layang

Debat Pilkada Putaran Kedua, Gibran Ingin Solo Utara Jadi Pusat Perdagangan, Bajo Bangun Jalan Layang

Regional
Tenda Terendam Air Hujan, Ribuan Pengungsi Erupsi Gunung Ile Lewotolok Direlokasi

Tenda Terendam Air Hujan, Ribuan Pengungsi Erupsi Gunung Ile Lewotolok Direlokasi

Regional
Diterjang Puting Beliung, 23 Rumah Warga di Kalsel Porak-poranda

Diterjang Puting Beliung, 23 Rumah Warga di Kalsel Porak-poranda

Regional
BNPB: Jalur Evakuasi di Gunung Semeru Harus Segera Dibangun

BNPB: Jalur Evakuasi di Gunung Semeru Harus Segera Dibangun

Regional
Bupati Positif Covid-19, Puluhan Pejabat Pemkab Bantaeng Jalani 'Swab Test'

Bupati Positif Covid-19, Puluhan Pejabat Pemkab Bantaeng Jalani "Swab Test"

Regional
Bayi Laki-laki Ditemukan Tewas Terbungkus Plastik di Pinggir Jalan

Bayi Laki-laki Ditemukan Tewas Terbungkus Plastik di Pinggir Jalan

Regional
Strategi Paslon Majukan Daerah, Gibran Fokus Pemulihan Ekonomi, Bajo Gandeng Koalisi Rakyat

Strategi Paslon Majukan Daerah, Gibran Fokus Pemulihan Ekonomi, Bajo Gandeng Koalisi Rakyat

Regional
8 Demonstran Terlibat Ricuh di Depan KPU Sulsel Dikenakan Wajib Lapor

8 Demonstran Terlibat Ricuh di Depan KPU Sulsel Dikenakan Wajib Lapor

Regional
Satgas Sebut Pemerintah Pusat Keliru Sampaikan Data Covid-19 di Papua karena Masalah Sistem

Satgas Sebut Pemerintah Pusat Keliru Sampaikan Data Covid-19 di Papua karena Masalah Sistem

Regional
Imbas Kerumunan Penonton Sepak Bola di Serang, Seorang Kapolsek Dicopot

Imbas Kerumunan Penonton Sepak Bola di Serang, Seorang Kapolsek Dicopot

Regional
7 Kabupaten yang Gelar Pilkada di NTT Kekurangan Surat Suara

7 Kabupaten yang Gelar Pilkada di NTT Kekurangan Surat Suara

Regional
Video Viral Sebuah Bus Lawah Arah Saat Macet, Sopir Akhirnya Kabur karena Dipukuli Massa

Video Viral Sebuah Bus Lawah Arah Saat Macet, Sopir Akhirnya Kabur karena Dipukuli Massa

Regional
22 Nakes Positif Covid-19, Poli Rawat Jalan RSUD dr Moh Saleh Tutup 2 Hari

22 Nakes Positif Covid-19, Poli Rawat Jalan RSUD dr Moh Saleh Tutup 2 Hari

Regional
Menkopolhukam Perintahkan Aparat Tangkap Ali Kalora dan Pengikutnya Sebelum Natal

Menkopolhukam Perintahkan Aparat Tangkap Ali Kalora dan Pengikutnya Sebelum Natal

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X