Cuaca Buruk, Apel Batu Terserang Cacar

Kompas.com - 03/09/2013, 20:52 WIB
Seorang petani nampak tengah merawat tanaman apel yang buahnya tengah mencapai umur 3,5 bulan di daerah berhawa dingin, di Batu, Jawa Timur, Sabtu (11/5/2013). Saat ini harga apel asal Batu tengah naik cukup tinggi dibanding beberapa bulan sebelumnya. salah satu penyebabnya adalah buah tahunan yang biasanya menjadi pesaing, saat ini sedang tidak musim dan memenuhi pasaran. KOMPAS/DEFRI WERDIONOSeorang petani nampak tengah merawat tanaman apel yang buahnya tengah mencapai umur 3,5 bulan di daerah berhawa dingin, di Batu, Jawa Timur, Sabtu (11/5/2013). Saat ini harga apel asal Batu tengah naik cukup tinggi dibanding beberapa bulan sebelumnya. salah satu penyebabnya adalah buah tahunan yang biasanya menjadi pesaing, saat ini sedang tidak musim dan memenuhi pasaran.
EditorKistyarini

BATU, KOMPAS.com - Cuaca buruk yang melanda Kota Batu beberapa bulan ini membuat petani apel merugi hingga ratusan juta. Akibat cuaca buruk, apel di Kota Batu sebagian besar terserang cacar dan nyawo sehingga tidak bisa dijual.

Seorang petani apel bernama Elis (35), warga Jalan Nurhadi Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, harus menanggung kerugian hingga Rp 55 juta. Buah apel yang ada di lahan seluas 2 hektare gagal dipanen. Sekitar 10 ton apel kena cacar harus dibuang percuma.

Elis mengaku, lahan apelnya tersebar di Desa Giripurno seluas 6.000 meter persegi, Desa Bumiaji 3.000 meter persegi, serta 1 ha di Desa Bulukerto. Sekarang lahan di Bumiaji akan disewakan ke orang lain, sedangkan yang di Giripurno akan dijual untuk membayar utang.

“Bulan Oktober nanti kami harus membayar utang. Untuk mengurangi biaya perawatan sekarang kami fokus mengurus 1 hektare saja,” ujar Elis saat ditemui di rumahnya, Selasa (3/9).

Penyakit cacar menyerang menjelang Lebaran lalu. Melihat kondisi apel tidak baik, para tengkulak mau membeli Rp 2.000 per kilogram, harusnya kalau kondisi apel normal bisa mencapai antara Rp 6.000-Rp 7.000 per kilogram.

“Saya buang saja. Kalau dijual rugi membayar kulinya, lha satu kuli saja Rp 50.000 per hari. Lahan seluas itu harus empat kuli,” ceritanya.

Pernyataan Elis itu diiyakan oleh suaminya, Sugeng. Kata Sugeng, bukan hanya dia yang kena musibah itu, ada sekitar 500 hektare lahan apel milik petani di Kota Batu mengalami nasib sama.

“Ini disebabkan kabut malam hari dan gerimis akibat cuaca tak menentu. Untuk mengatasi itu, obatnya harus dobel. Biasanya biaya obat Rp 30 juta per hektare, sekarang bisa Rp 50 juta,” keluhnya.

Petani apel laiinya di Desa Bumiaji, Darmanto juga mengeluhkan kondisi sama. Darmanto gagal memanen dari kebun apelnya yang mencapai 1 hektare. Kerugian puluhan juta pun ia tanggung. “Sekarang tidak kuat merawat apel. Biayanya mahal,” kata Darmanto.

Ia mengungkapkan, sebagian petani apel di Batu merugi, tapi yang mempunyai modal besar untuk beli obat masih bisa bertahan. “Kondisi ini tidak mesti, sekarang cuacanya ganti-ganti, kadang panas, kadang hujan. Kalau dulu bisa diprediksi,” katanya. (Iksan Fauzi)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gaet Investor Asing, Jawa Barat Tawarkan Sejumlah Proyek Strategis

Gaet Investor Asing, Jawa Barat Tawarkan Sejumlah Proyek Strategis

Regional
Posting Status Nyinyir tentang Penusukan Wiranto, Dosen Untidar Magelang Diperiksa

Posting Status Nyinyir tentang Penusukan Wiranto, Dosen Untidar Magelang Diperiksa

Regional
Tol Palindra Diselimuti Kabut Asap Tebal, Pengendara Diminta Waspada

Tol Palindra Diselimuti Kabut Asap Tebal, Pengendara Diminta Waspada

Regional
Diguyur Hujan 4 Hari, Karhutla di Gunung Kanaga Bogor Akhirnya Padam

Diguyur Hujan 4 Hari, Karhutla di Gunung Kanaga Bogor Akhirnya Padam

Regional
RS, Pelajar SD Korban Bullying, Kini Bisa Tersenyum dan Berniat Umrahkan Ibu

RS, Pelajar SD Korban Bullying, Kini Bisa Tersenyum dan Berniat Umrahkan Ibu

Regional
Gubernur Daerah Ini Ancam Tarik Semua Bantuan jika Penerima Merokok, Pengadu Diberi Rp 500.000

Gubernur Daerah Ini Ancam Tarik Semua Bantuan jika Penerima Merokok, Pengadu Diberi Rp 500.000

Regional
Tuturangiana Andala, Tradisi Warga Pulau Makassar Mengetuk Pintu Rezeki di Laut

Tuturangiana Andala, Tradisi Warga Pulau Makassar Mengetuk Pintu Rezeki di Laut

Regional
Fakta Baru Pembunuhan “Debt Collector”, Pelaku Berniat Santet Korban

Fakta Baru Pembunuhan “Debt Collector”, Pelaku Berniat Santet Korban

Regional
Fakta Kasus Suami Tembak Pria yang Diduga Selingkuhan Istri, Sakit Hati hingga Terancam 5 Tahun Penjara

Fakta Kasus Suami Tembak Pria yang Diduga Selingkuhan Istri, Sakit Hati hingga Terancam 5 Tahun Penjara

Regional
Siswa SMP di Kupang Bunuh Diri Karena Tak Bisa Bunuh Ayahnya

Siswa SMP di Kupang Bunuh Diri Karena Tak Bisa Bunuh Ayahnya

Regional
Densus 88 Geledah Rumah Mewah dan Kontrakan di Bandung

Densus 88 Geledah Rumah Mewah dan Kontrakan di Bandung

Regional
Cerita Siswa-siswi SD di Flores Pikul Air 5 Km Tiap Hari untuk Siram Toilet Sekolah

Cerita Siswa-siswi SD di Flores Pikul Air 5 Km Tiap Hari untuk Siram Toilet Sekolah

Regional
Kronologi Kaburnya 7 Napi Setelah Bobol Tahanan Polsek Peusangan Bireuen

Kronologi Kaburnya 7 Napi Setelah Bobol Tahanan Polsek Peusangan Bireuen

Regional
Di Balik Kisah Pernikahan Rp 5,6 Juta dan Cincin Kawin Meteorit, Mimpi yang Tercapai

Di Balik Kisah Pernikahan Rp 5,6 Juta dan Cincin Kawin Meteorit, Mimpi yang Tercapai

Regional
13 Korban Masih di RS, Polisi Kesulitan Usut Kasus Tabrakan Rombongan Pengantin di Aceh

13 Korban Masih di RS, Polisi Kesulitan Usut Kasus Tabrakan Rombongan Pengantin di Aceh

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X