Kompas.com - 03/09/2013, 18:55 WIB
Pekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe di proyek percontohan Rumah Tempe Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/12/2012). Rumah Tempe Indonesia yang memperhatikan standar higienis dan aspek lingkungan tersebut kini memproduksi 50 hingga 100 kilogram Kedelai per hari untuk pasar di area Bogor. 
KOMPAS/PRIYOMBODOPekerja mengemas kedelai untuk diproduksi menjadi tempe di proyek percontohan Rumah Tempe Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Selasa (18/12/2012). Rumah Tempe Indonesia yang memperhatikan standar higienis dan aspek lingkungan tersebut kini memproduksi 50 hingga 100 kilogram Kedelai per hari untuk pasar di area Bogor.
|
EditorKistyarini

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Para perajin tempe dan tahu di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta berencana melakukan mogok berproduksi pada  9-11 September mendatang karena harga kedelai yang terus naik.

Mogok selama tiga hari itu sebagai bentuk protes agar pemerintah segera mengambil tindakan terkait dengan melonjaknya harga kedelai sejak sebulan terakhir. ”Sebagian sepakat menyatakan akan berhenti produksi sementara waktu,” kata Muryanto, Ketua Primer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) DI Yogyakarta, Selasa (3/9/2013).

Ia menyatakan, ada beberapa anggotanya yang menolak berhenti berproduksi dengan alasan usaha tempe dan tahu adalah satu-satunya sumber penghasilan.

Ia mengungkapkan, setiap bulan perajin rata-rata membutuhkan 2.600 ton kedelai. Selama ini kebutuhan itu 95 persen dipenuhi pasokan kedelai impor dari Amerika dan Brasil. Stok lokal selama ini tidak dapat memenuhi kebutuhan.

Namun, fluktuasi harga kedelai sejak bulan lalu membuat para perajin kelabakan. Apalagi para produsen tempe dan tahu produsen bergantung pada kedelai impor. ”Ada bahan baku lokal, salah satunya dari Kulon Progo. Tapi, jumlahnya sedikit sekali, seminggu saja sudah habis dipakai untuk produksi,” ujar Muryanto.

Selama ini para perajin tahu dan tempe telah terbebani dengan dihentikannya subsidi kedelai sejak 1998. Pada tahun 2000, subsidi pernah dikucurkan kembali sebesar Rp 1.000 per kilogram. Namun, mekanisme penyalurannya tidak melalui Primkopti, tetapi dari pemerintah ke pedagang kedelai. Setelah tahun 2000, subsidi disetop. Alhasil, banyak perajin yang gulung tikar.

”Dari data Primkopti, sebelum awal tahun 2000 di DI Yogyakarta ada 800-an perajin tempe-tahu. Setelah subsidi dihentikan, tinggal 400-500 perajin yang bertahan,” tuturnya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menyiasati lonjakan harga, perajin cenderung memilih mengecilkan ukuran tahu dan tempe. Sebab, jika harga dinaikkan, para perajin tempe dan tahu khawatir produknya tidak laku.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Covid-19 di Semarang Naik 700 Persen, Walkot Hendi Berlakukan PKM

Kasus Covid-19 di Semarang Naik 700 Persen, Walkot Hendi Berlakukan PKM

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Naik, Walkot Hendi Resmikan RS Darurat

Kasus Covid-19 di Semarang Naik, Walkot Hendi Resmikan RS Darurat

Regional
Akses ke Faskes Sulit, Dompet Dhuafa Sumbangkan Ambulans untuk Warga Desa Tanjung Raya

Akses ke Faskes Sulit, Dompet Dhuafa Sumbangkan Ambulans untuk Warga Desa Tanjung Raya

Regional
Peringati HUT Ke-103 Kota Madiun, Wali Kota Maidi Fokus Stop Covid-19 dan Genjot Ekonomi

Peringati HUT Ke-103 Kota Madiun, Wali Kota Maidi Fokus Stop Covid-19 dan Genjot Ekonomi

Regional
Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Regional
Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Regional
Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Regional
Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Regional
25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Regional
Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Regional
Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Regional
Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Regional
Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Regional
Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X