Bantuan "Pugar" ke Lahan PT Garam Disoroti Wakil Rakyat

Kompas.com - 26/08/2013, 09:56 WIB
Petani garam di Pamekasan, sedang mengemas hasil panen tahun lalu untuk dijual. KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMANPetani garam di Pamekasan, sedang mengemas hasil panen tahun lalu untuk dijual.
|
EditorGlori K. Wadrianto
PAMEKASAN, KOMPAS.com — Penyaluran bantuan Program Usaha Garam Rakyat (Pugar) tahun 2013 ke beberapa kelompok petani garam yang menempati lahan milik PT Garam, di Desa Pandan, Kecamatan Galis, Pamekasan, Jawa Timur, disorot anggota DPRD setempat.

Pasalnya, DPRD menduga kebijakan itu tidak berdasarkan petunjuk teknis penyaluran bantuan Pugar, tetapi hanya kebijakan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Pamekasan. Hal itu dikatakan Ketua Komisi B, DPRD Pamekasan, Hosnan Ahmadi.

Pihaknya akan mempelajari ulang terkait mekanisme penyaluran Pugar itu. Karena menurutnya, bantuan Pugar harus diprioritaskan kepada petani garam yang menempati lahan pribadi, bukan lahan yang disewa kepada PT Garam.

“Pugar itu kan program pemerintah untuk menopang usaha garam rakyat. Namun, apakah boleh dan dibenarkan lahan milik PT Garam menerima Pugar sekalipun disewa oleh petani garam,” kata Hosnan, Senin (26/8/2013).

Hosnan sendiri sudah menerima laporan dari para petani garam tentang rencana penyaluran Pugar ke lahan PT Garam. Bahkan pihaknya juga mendengar kabar bahwa ada salah satu kelompok tani yang merasa diperlakukan tidak adil dalam penyaluran Pugar.

Apalagi, lahan garam di daerah Pandan masih disengketakan oleh warga. "Ada dua kelompok tani yakni Komunitas Petani Garam (Kompag) dan Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) yang sama-sama menempati lahan garam milik PT Garam. Namun, salah satunya bisa menerima dan ada yang tidak menerima. Ini kan aneh," ungkap Hosnan dengan nada heran.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Kelautan, Dinas Kelautan, dan Perikanan Pamekasan Muhammad Istamam saat dikonfirmasi mengatakan, tidak berani memberikan bantuan pugar kepada petani garam yang tergabung dalam HMPG, sebab persyaratan yang diajukan tidak lengkap dan tidak sesuai dengan petunjuk teknis (Juknis) pemberian bantuan Pugar.

“HMPG itu sudah kami mintai surat keterangan kepemilikan lahan. Tetapi mereka jengkel tidak mau menyerahkan. Surat keterangan kepemilikan itu bisa berbentuk sewa lahan kepada PT Garam seperti yang dimiliki oleh Kompag,” katanya.

Lebih lanjut, Istamam menyatakan bukti yang diajukan HMPG berupa hak kelola dari PT Garam tidak ada dalam petunjuk teknis pugar sehingga meskipun proposal pengajuan sudah dikirim ke DPK, pihaknya tidak berani untuk menyampaikan sosialisasi, sebab jika disosialisasikan kepada HMPG, khawatir berharap mendapatkan bantuan Pugar.

Koordinator HMPG Pamekasan Agus Sumantri mengatakan sampai kapan pun masyarakat petani garam yang tergabung dalam HMPG tidak akan menyewa lahan kepada PT Garam karena lahan itu milik petani sendiri, yang direbut oleh PT Garam.

Tanah itu sampai saat ini statusnya masih dalam sengketa antara petani garam dan PT Garam. “Sebagai persyaratan untuk mendapatkan Pugar, kami lampirkan bukti keterangan swakelola lahan dari PT Garam sejak tahun 2014 lalu kepada petani. Kami anggap itu sudah cukup dan kelompok kami layak untuk menerimanya,” kata Agus.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemuda 19 Tahun Tewas dengan Tubuh Penuh Luka, Diduga Dianiaya Sejumlah Temannya

Pemuda 19 Tahun Tewas dengan Tubuh Penuh Luka, Diduga Dianiaya Sejumlah Temannya

Regional
Kisah Dalang Jenggleng, Gunakan Cara Abnormal hingga Kuis Berhadiah

Kisah Dalang Jenggleng, Gunakan Cara Abnormal hingga Kuis Berhadiah

Regional
Ini Sosok di Balik Heboh Pasutri di Cianjur Bayar Persalinan Pakai Uang Koin

Ini Sosok di Balik Heboh Pasutri di Cianjur Bayar Persalinan Pakai Uang Koin

Regional
Reklamasi Laut di Bangka, Ada Sarang untuk Cumi Bertelur

Reklamasi Laut di Bangka, Ada Sarang untuk Cumi Bertelur

Regional
Polisi Bisa Identifikasi Kerangka Manusia di Rumah Kosong Bandung, Asal...

Polisi Bisa Identifikasi Kerangka Manusia di Rumah Kosong Bandung, Asal...

Regional
Kerangka Manusia Ditemukan Duduk di Sofa, Tetangga: Harusnya Ada Lalat dan Bau

Kerangka Manusia Ditemukan Duduk di Sofa, Tetangga: Harusnya Ada Lalat dan Bau

Regional
Melacak Jejak Pembalakan Liar Hutan Lindung Sendiki yang Mulai Gundul

Melacak Jejak Pembalakan Liar Hutan Lindung Sendiki yang Mulai Gundul

Regional
PHRI Manggarai Barat Dukung Rencana Jokowi soal G20 di Labuan Bajo

PHRI Manggarai Barat Dukung Rencana Jokowi soal G20 di Labuan Bajo

Regional
Cerita Ganjar Soal Deklarasi Keraton Agung Sejagat: Kena Hukum Alam Kalau Tak Dukung, Wah, Ini Nakut-Nakutin

Cerita Ganjar Soal Deklarasi Keraton Agung Sejagat: Kena Hukum Alam Kalau Tak Dukung, Wah, Ini Nakut-Nakutin

Regional
Jokowi Akan Serahkan 2.500 Sertifikat Tanah untuk Warga Manggarai Barat

Jokowi Akan Serahkan 2.500 Sertifikat Tanah untuk Warga Manggarai Barat

Regional
2 Pekan Tak Hujan, Lahan Padi di Jember Retak karena Kekeringan

2 Pekan Tak Hujan, Lahan Padi di Jember Retak karena Kekeringan

Regional
29 Pemuda Satu Kampung Diamankan Polisi, 19 Orang Positif Narkoba dan 10 Orang Beli Sabu

29 Pemuda Satu Kampung Diamankan Polisi, 19 Orang Positif Narkoba dan 10 Orang Beli Sabu

Regional
Wali Kota Hendi Berikan Penghargaan kepada 2 Dalang Wayang Potehi

Wali Kota Hendi Berikan Penghargaan kepada 2 Dalang Wayang Potehi

Regional
Situs PN Kepanjen Diretas, Isinya Protes Kasus Pelajar yang Bunuh Begal

Situs PN Kepanjen Diretas, Isinya Protes Kasus Pelajar yang Bunuh Begal

Regional
BKSDA Terima Owa Langka dari Warga, Pemilik Mengaku Tidak Tega

BKSDA Terima Owa Langka dari Warga, Pemilik Mengaku Tidak Tega

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X