Kriminolog: Saksi Pembunuhan Sisca Ogah Ribet

Kompas.com - 21/08/2013, 18:02 WIB
Franciesca Yofie alias Sisca dalam salah satu foto koleksi pribadi yang diunggah di akun jejaring sosial Facebook-nya. Dokumentasi Franciesca Yofie via FacebookFranciesca Yofie alias Sisca dalam salah satu foto koleksi pribadi yang diunggah di akun jejaring sosial Facebook-nya.
|
EditorFarid Assifa

BANDUNG, KOMPAS.com — Kriminolog dari Universitas Padjadjaran, Yesmil Anwar, menilai, banyaknya saksi mata pembunuhan manajer cantik Franciesca Yofie (Sisca) yang lebih memilih memberikan kesaksian ke media massa ketimbang ke pihak kepolisian disebabkan masyarakat tidak mau ribet berhubungan dengan proses hukum.

"Kalau ke polisi (memberikan keterangan) nanti akan jadi riweuh (ribet). Takut jadi masalah," kata Yesmil saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Selasa (21/8/2013).

Padahal, menurut dia, polisi sebenarnya berhak untuk meminta seseorang menjadi saksi dalam penyidikan. "Itu yang seharusnya dilakukan," ucapnya.

Menurut Yesmil, kesaksian dari saksi mata langsung merupakan alat bukti yang sangat penting untuk membongkar suatu kasus yang banyak kejanggalan, seperti kasus pembunuhan Sisca ini, seperti yang telah tertuang dalam Pasal 184 KUHP.

"Kalau dalam Pasal 184 itu, kan, jelas, alat bukti yang sah ialah keterangan saksi ahli, surat-surat, petunjuk, kemudian keterangan terdakwa. Ini penting," ujarnya.

Selain itu, kesaksian tersebut menjadi penting saat untuk menentukan keputusan di pengadilan.

"Kesaksian adalah alat bukti yang dinyatakan saksi dalam sidang pengadilan, bukan di koran," ujarnya.

Yesmil menambahkan, meski hakim di persidangan tidak bisa menutup mata dengan pernyataan saksi di media massa, hal tersebut akan menimbulkan ketimpangan di persidangan.

"Dalam negara hukum, kesaksian itu yang membuktikan di pengadilan. Biasanya, korban dan saksi mata yang bisa menjadi saksi yang memberatkan. Nah, polisi harus bisa menentukan saksi semacam itu," bebernya.

Untuk saat ini, ujar Yesmil, polisi haruslah dapat menentukan dan memilah-milah saksi yang benar-benar memberatkan dan berkompetan di pengadilan. "Termasuk saksi-saksi yang menyatakan kalau polisi tidak terlibat," tuturnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Honda Jazz Remuk Tertabrak Kereta di Grobogan, Terseret 30 Meter lalu Jatuh ke Sawah

Regional
Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Fakta Ayah Setubuhi 2 Anak Tiri hingga Hamil, Terungkap Saat Diinterogasi Keluarga hingga Pelaku Diamuk Warga

Regional
Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Pada 31 Mei, Maluku Tak Ada Kasus Positif Corona Baru

Regional
Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Pemkot Banjarmasin Putuskan Tak Perpanjang PSBB

Regional
Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Penjagaan Ketat Perbatasan yang Didukung Warga, Kunci Lebong Nihil Covid-19

Regional
Empat Wilayah di Sumsel Bersiap 'New Normal', Palembang Tak Masuk

Empat Wilayah di Sumsel Bersiap "New Normal", Palembang Tak Masuk

Regional
Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Petugas Berpakaian APD Diusir dan Nyaris Diamuk Warga, Pejabat Desa: Keluarga Keberatan dan Kurang Nyaman

Regional
Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Kawasan Wisata Lombok Barat Tutup, Ratusan Kendaraan hendak Berkunjung Dipaksa Putar Balik

Regional
Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Usai Periksa Pasien Covid-19, Perawat Diancam hingga Trauma, Ganjar: Jangan Aneh-aneh, Kita Lagi Kondisi Sulit

Regional
Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Dari 62 Kasus Positif Covid-19 di Sukabumi, 59 Pasien dari Klaster Institusi Negara

Regional
3 Warga Ngada NTT Tewas Keracunan Belerang Saat Bakar Sarang Lebah

3 Warga Ngada NTT Tewas Keracunan Belerang Saat Bakar Sarang Lebah

Regional
Perawat Diancam Usai Periksa Pasien Covid-19, Ganjar Minta Pelakunya Diusut

Perawat Diancam Usai Periksa Pasien Covid-19, Ganjar Minta Pelakunya Diusut

Regional
Bayi Kembar Usia 1 Tahun Terpapar Corona dari Klaster Jemaat HOG Batam

Bayi Kembar Usia 1 Tahun Terpapar Corona dari Klaster Jemaat HOG Batam

Regional
Halusinasi Kapolsek Berujung Pemecatan, Tabrak Rumah Warga hingga Tewaskan Balita

Halusinasi Kapolsek Berujung Pemecatan, Tabrak Rumah Warga hingga Tewaskan Balita

Regional
Khofifah: Siswa di Jatim Tetap Belajar di Rumah Meski Masuk Fase New Normal

Khofifah: Siswa di Jatim Tetap Belajar di Rumah Meski Masuk Fase New Normal

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X