Arswendo: Menangani Persoalan Napi Tidak Bisa Satu Kali

Kompas.com - 13/07/2013, 12:44 WIB
Kantor Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta, Medan, terbakar, Kamis (11/7/2013) malam. Lapas diduga dibakar sekelompok narapidana akibat adanya pemadaman listrik dan matinya air PDAM dalam Lapas. Diduga sekitar 300 napi berhasil kabur akibat kebakaran tersebut.  TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI Kantor Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tanjung Gusta, Medan, terbakar, Kamis (11/7/2013) malam. Lapas diduga dibakar sekelompok narapidana akibat adanya pemadaman listrik dan matinya air PDAM dalam Lapas. Diduga sekitar 300 napi berhasil kabur akibat kebakaran tersebut.
Penulis Dani Prabowo
|
EditorFarid Assifa

JAKARTA, KOMPAS.com — Menangani persoalan narapidana di dalam lembaga pemasyarakatan tidak dapat hanya dilakukan satu kali. Budaya kekerasan di dalam penjara kerap menjadi faktor pemicu terjadinya sejumlah insiden, seperti yang terjadi di LP Tanjung Gusta, Medan, beberapa waktu lalu.

Perlu pembinaan berkelanjutan yang diberikan pemerintah terhadap para warga binaan. "Menangani napi ini tidak bisa satu kali. Sekarang oke, tapi nanti belum tentu. Nanti bisa saja muncul lagi, muncul lagi," kata budayawan Arswendo Artowiloto dalam diskusi polemik dengan tema "Gelap Mata di Tanjung Gusta", di Rumah Makan Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (13/7/2013).

Menurut Arswendo, pemerintah harus sabar dalam menghadapi para narapidana. Sebab, menurutnya, narapidana memiliki andil dalam membentuk sebuah pemerintahan, yaitu pada saat pemilihan umum, baik legislatif maupun presiden.

"LP itu seperti usus buntu. Jika tak ada masalah tidak meletus, ada masalah baru meletus. Tapi, napi itu sewaktu-waktu bisa meletus," katanya.

"Jadi, sabar-sabarlah Pak Menteri (Menkum dan HAM Amir Syamsuddin) harus sabar-sabar. Tidak bisa dikerasin banget, dilonggarin juga tidak bisa," ujarnya.

Seperti diberitakan, kerusuhan di Lapas Tanjung Gusta pada Kamis (11/7/2013) bermula saat pasokan listrik dan air di lapas terhenti. Para napi kemudian melakukan provokasi hingga timbul kerusuhan di lapas yang akhirnya berujung pada pembakaran.

Di saat situasi kacau inilah, ratusan warga binaan itu menggunakan kesempatan kabur setelah sebelumnya menyandera 15 petugas lapas. Sekitar 176 napi melarikan diri, termasuk beberapa napi kasus terorisme. Kepolisian hingga saat ini masih melakukan pencarian ratusan napi yang kabur.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X