Kompas.com - 04/07/2013, 16:55 WIB
Mantan Kepala BIN, AM Hendro Priyono, usai memberikan kuliah umum tentang terorisme kepada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Magelang, Kamis (4/7/2013). KOMPAS.com/Ika FitrianaMantan Kepala BIN, AM Hendro Priyono, usai memberikan kuliah umum tentang terorisme kepada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Magelang, Kamis (4/7/2013).
|
EditorFarid Assifa

MAGELANG, KOMPAS.com — Aksi terorisme belakangan selalu diidentikkan dengan agama tertentu. Padahal pada hakikatnya persoalan terorisme merupakan masalah sosial politik semata.

Demikian ditegaskan AM Hendro Priyono, mantan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN), seusai memberikan kuliah umum tentang penanggulangan terorisme kepada mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM), Kamis (4/7/2013).

Hendro mengatakan, terorisme memang belakangan sering diidentikkan dengan agama Islam. Padahal, menurut Hendro, humanis fundamentalisme bukan hanya Islam. Akan tetapi, kata Hendro, pada kenyataannya memang agama kerap menjadi tudungnya.

"Sejak sebelum ada perbincangan konstelasi politik di Palestina dan sebelum negara Israel berdiri, sudah ada terorisme Yahudi. Belum lama ini di Irlandia terjadi juga terorisme Katolik," ungkap Hendro.

Menurut Hendro, harus ada perspektif yang sama soal terorisme sebelum mengambil langkah-langkah untuk membasmi aksi itu. Oleh karena itu, mentan Menteri Transmigrasi dan PPH RI itu terus aktif memberikan pandangan-pandangan tentang hakikat terorisme kepada mahasiswa dan masyarakat.

"Ya, supaya mereka menghayati betul apa itu hakikat terorisme, jangan sampai terombang-ambing dengan informasi yang simpang siur dari media massa," tandas Hendro.

Dengan begitu, kata Hendro, mereka tidak berperspektif keliru terhadap terorisme. Sebab, jika keliru, maka langkah-langkah yang diambil pun selalu akan salah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kalau sudah salah terorisme tidak akan berhenti," tukasnya.

Membasmi terorisme, menurutnya, selain menggunakan langkah-langkah hukum, juga perlu menegakkan moral. Hendro mengingatkan bahwa sendi dari hukum itu adalah moral.

"Tujuan dari hukum itu sendiri adalah keadilan. Jangan sampai kalau ada ibu yang anaknya tertabrak mobil malah ibunya yang jadi tersangka," contoh Hendro.

Hendro perpandangan bahwa hukum harus menguntungkan pihak yang paling tidak beruntung. Para penegak hukum harus berpegang pada hakikat hukum itu sendiri.

"Demikian pula dalam aksi terorisme; tidak peduli dia pahlawan, pejabat atau penjahat, sekalipun jika dia berbuat sesuatu yang membuat menderita dan merugikan orang lain, maka dia juga disebut teroris," ungkap Hendro.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kontingen Papua Sukses Raih Posisi 10 di Ajang STQHN XXVI

Kontingen Papua Sukses Raih Posisi 10 di Ajang STQHN XXVI

Regional
Apresiasi Film Dokumenter The Mentors, Ganjar: Film Ini Bagus

Apresiasi Film Dokumenter The Mentors, Ganjar: Film Ini Bagus

Regional
Dukung Pembangunan Infrastruktur di Jabar, PT Jasa Sarana Gandeng IIF dan MMI Jadi Mitra Strategis

Dukung Pembangunan Infrastruktur di Jabar, PT Jasa Sarana Gandeng IIF dan MMI Jadi Mitra Strategis

Regional
Jateng 4 Kali Berturut-turut Jadi Provinsi Terbaik Soal Keterbukaan Informasi, Begini Repons Ganjar

Jateng 4 Kali Berturut-turut Jadi Provinsi Terbaik Soal Keterbukaan Informasi, Begini Repons Ganjar

Regional
Dua Pesan Penting Ridwan Kamil untuk BUMD di Jabar

Dua Pesan Penting Ridwan Kamil untuk BUMD di Jabar

Regional
Teori Hati Bidan Eros Mengabdi di Baduy

Teori Hati Bidan Eros Mengabdi di Baduy

Regional
Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Regional
Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Regional
Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Regional
Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Regional
Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Regional
Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Regional
Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Regional
Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Regional
Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.