Kompas.com - 28/06/2013, 18:27 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

MAKASSAR, KOMPAS.com - Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Provinsi Sulsel, Rachmat Latif, Jumat (28/06/2013), memanggil empat Direktur Utama (Dirut) rumah sakit yang menolak bayi penderita muntaber Revan Adiyaksa Andi Amir (1 tahun 3 bulan).

Revan ditolak empat rumah sakit di Kota Makassar karena menggunakan jaminan kesehatan daerah (Jamkesda), hingga akhirnya meninggal.

"Saya panggil semua empat Dirut rumah sakit, RSUD Daya, RSUP Wahidin Sudiro Husodo, RS Ibnu Sina dan RS Awal Bross. Saya panggil keempat Dirut di Makassar Golden Hotel (MGH) untuk rapat," ujar Rachmat.

"Tapi tertutup dan belum bisa di-publish. Soalnya, rapat ini untuk menyatukan pembicaraan agar tidak beda-beda. Ini tanggungjawab saya, jadi ke depannya satu bahasa jika ditanyai soal tersebut," sambung Rachmat.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Naisya Asyikin beserta jajarannya menyempatkan diri mengunjungi rumah duka, Jumat siang. Hanya saja, kedatangannya seakan membela empat rumah sakit yang menolak perawatan bayi itu.

"Tiga orang datang tadi, tapi malah membela-bela pihak rumah sakit. Katanya sudah benar tindakan rumah sakit. Padahal sudah jelas menolak perawatan rakyat miskin, karena tidak punya uang. Sempat bikin marah lagi kita pihak keluarga yang berduka," kata Elisabeth, tante almarhum Revan saat ditemui di rumah duka di Jl Hadji Kalla, Makassar.

"Tidak ada semua nurani dan perasaan orang-orang di pemerintahan serta rumah sakit. Masa ngomongnya seperti itu dan bahkan meminta pihak keluarga Revan sudah menyudahi permasalahan ini," sambungnya geram.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Diberitakan sebelumnya, Revan Adiyaksa Andi Amir meninggal dunia, Rabu (26/06/2013) sore akibat penderita penyakit muntaber. Meninggalnya putra keempat pasangan Andi Amir yang berprofesi pengemudi becak motor (bentor) dan Nirmawanti ini, karena ditolak dirawat di empat rumah sakit. Keempat RS itu adalah RSUD Daya, RSUP Wahidin Sudiro Husodo, RS Ibnu Sina dan RS Awal Bross.

Penolakan empat rumah sakit itu, karena Revan menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Adapun alasan rumah sakit, ruang perawatan penuh dan penyakit muntaber Revan sudah tahap kritis.

Revan terakhir dilarikan oleh kedua orangtuanya ke RS Akademis dan mendapat perawatan tim medis dengan mendaftarkan sebagai pasien umum. Meski telah mendapat perawatan, kondisi Revan makin buruk hingga akhirnya meninggal dunia.

Jenazah Revan baru dipulangkan ke rumah duka setelah ayahnya Andi Amir menjaminkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) kepada pihak rumah sakit. Jenazah Revan dikebumikan di pekuburan Islam Panaikang, Kamis (27/06/2013) sekitar pukul 09.00 Wita.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Persentase BOR di Semarang Tinggi, Wali Kota Hendi Tambah 390 Tempat Tidur Pasien Covid-19

Persentase BOR di Semarang Tinggi, Wali Kota Hendi Tambah 390 Tempat Tidur Pasien Covid-19

Regional
Mobilitas Jadi Penyebab Kerumunan, Ganjar Ajak Masyarakat Tetap di Rumah

Mobilitas Jadi Penyebab Kerumunan, Ganjar Ajak Masyarakat Tetap di Rumah

Regional
BERITA FOTO: Tenaga Pikul Beristirahat di Atas Makam Usai Kuburkan Jenazah Pasien Covid-19

BERITA FOTO: Tenaga Pikul Beristirahat di Atas Makam Usai Kuburkan Jenazah Pasien Covid-19

Berita Foto
Kasus Covid-19 di Semarang Naik 700 Persen, Walkot Hendi Berlakukan PKM

Kasus Covid-19 di Semarang Naik 700 Persen, Walkot Hendi Berlakukan PKM

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Naik, Walkot Hendi Resmikan RS Darurat

Kasus Covid-19 di Semarang Naik, Walkot Hendi Resmikan RS Darurat

Regional
Akses ke Faskes Sulit, Dompet Dhuafa Sumbangkan Ambulans untuk Warga Desa Tanjung Raya

Akses ke Faskes Sulit, Dompet Dhuafa Sumbangkan Ambulans untuk Warga Desa Tanjung Raya

Regional
Peringati HUT Ke-103 Kota Madiun, Wali Kota Maidi Fokus Stop Covid-19 dan Genjot Ekonomi

Peringati HUT Ke-103 Kota Madiun, Wali Kota Maidi Fokus Stop Covid-19 dan Genjot Ekonomi

Regional
Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Regional
Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Regional
Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Regional
Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Regional
25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Regional
Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Regional
Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X