Kompas.com - 20/06/2013, 14:11 WIB
Salah satu terpidana pembunuh keluarga Andarias, Agustinus Sambo alias Markus Herman yang merupakan rekan Ruben Pata Sambo di tahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1, Makassar. KOMPAS.com/Hendra CiptoSalah satu terpidana pembunuh keluarga Andarias, Agustinus Sambo alias Markus Herman yang merupakan rekan Ruben Pata Sambo di tahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1, Makassar.
|
EditorKistyarini

MAKASSAR, KOMPAS.com - Tiga terpidana kasus pembunuhan yang merupakan rekan Ruben Pata Sambo, yakni Agustinus Sambo alias Markus Herman, Julianus Maraya alias Ateng, dan Juni Sambo alias Juni mengaku disiksa. Mereka juga menuduh penyidik Polres Tana Toraja merekayasa kasus pembunuhan keluarga Andarias Pandin.

Pengakuan tersebut diungkapkan ketiga terpidana saat ditemui Kompas.com di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (20/6/2013).

Ditemui di salah satu ruangan di Lapas Kelas I Makassar, Agustinus mengakui telah membunuh Andarias (38), istri Martina La'biran (33) dan anaknya, Israel (8) di Kampung Getengan, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, pada tanggal 23 Desember 2005 lalu.

KOMPAS.com/Hendra Cipto Salah satu terpidana pembunuh keluarga Andarias, Yulianus Maraya alias Ateng yang merupakan rekan Ruben Pata Sambo di tahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1, Makassar.

Namun, kata Agustinus, Berita Acara Pemeriksaan (BAP) direkayasa oleh penyidik Polres Tana Toraja dan dia juga sering mendapat penyiksaan oleh polisi selama tujuh bulan di tahanan.

"Saya memang membunuh dan bukan saya sendiri. Sejak ditangkap polisi, saya disiksa selama tujuh bulan lamanya. Tapi saya bantah, tidak ada pemerkosaan terhadap Martina, istri Andarias," tutur Agustinus.

"Kalau yang menggorok leher Martina adalah Markus. Jadi semua itu rekayasa polisi dalam BAP, sampai kami dihukum berat dan dianggap pembunuh sadis," akunya.

Hal senada diungkapkan Julianus. Lelaki yang akrab dipanggil Ateng itu juga membantah membunuh keluarga Andarias. Dia mengaku ditangkap dan disiksa polisi selama tujuh bulan dalam tahanan Polres Tana Toraja.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya tidak kenal semua terpidana. Yang jelas, saya tidak membunuh. Saya dipaksa mengakui perbuatan tidak kulakukan dan sering dipukuli. Kata polisi, jika saya mengakui perbuatan itu. Maka siksaan dan pukulan dihentikan. Tapi kenyataannya, eh... malah tambah disiksa polisi. Kalau mengenai BAP, penyidik saja yang rekayasa kasus," papar Ateng.

Juni pun mengaku demikian, dirinya saat itu masih berusia 18 tahun ditangkap polisi tanpa dia ketahui masalah. Selama ditahan di Polres Tana Toraja tujuh bulan, dirinya disiksa dan BAP direkayasa oleh penyidik. "Saya tidak mengaku, tapi disiksa terus untuk mengakuinya. Jadi terpaksa diakui dan ditandatangani. Jadi penyidik itu semua bohong," ungkapnya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

    Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

    Regional
    Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

    Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

    Regional
    Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

    Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

    Regional
    Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

    Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

    Regional
    Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

    Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

    Regional
    Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

    Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

    Regional
    Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

    Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

    Regional
    Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

    Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

    Regional
    Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

    Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

    Regional
    Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

    Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

    Regional
    Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

    Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

    Regional
    Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

    Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

    Regional
    AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

    AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

    Regional
    Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

    Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

    Regional
    9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

    9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

    Regional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.