Kompas.com - 19/06/2013, 23:03 WIB
|
EditorFarid Assifa

MAGELANG, KOMPAS.com - Perhelatan akbar Borobudur International Festival (BIF) 2013 memang sudah usai. Namun sejumlah seniman Borobudur menilai bahwa kegiatan empat tahunan itu masih belum mewakili karakter Borobudur.

Ariswara Sutomo, seorang seniman Borobudur, Kabupaten Magelang mengatakan even BIF 2013 ini hanya sebagai objek wisata semata tanpa menonjolkan ruh Borobudur sesungguhnya.

"Even itu hanya memberi kesan Borobudur bersolek, belum menonjolkan eksistensi candi peninggalan Dinasti Syailendra," ujar Ariswara, Rabu (19/6/2013).

Dikatakan Ariswara, kegiatan yang berlangsung dari tanggal 13 - 17 Juni 2013 itu sangat protokoler dan formal. Sehingga, menurut Ariswara, para penampil kesenian hanya sebatas penampil bukan pemberi sesuatu yang bersumber dari penggalian Borobudur itu sendiri.

"Seharusnya even sekelas BIF bisa mengusung unsur pendidikan bagi masyarakat melalui eksplorasi sejarah masa lalu, masa kini, dan sejarah bersambung Candi Borobudur," tukas Ariswara.

Dia menyebutkan, banyak ilmu dan nilai yang terkandung di dalam Borobudur. Antara lain seperti artistik bangunannya, undur sejarah, budaya, pendidikan hingga sosial kemasyarakat.

"Ini yang belum tervisualkan dalam konsep BIF kemarin," tandasnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ariswara juga menyayangkan BIF 2013 tidak melibatkan seniman-seniman yang berkompeten di sekitar Borobudur. Sebab menurutnya, keterlibatan seniman dan masyarakat sekitar menjadi sangat penting untuk bersinergi dengan nilai Borobudur ketimbang formalitas pejabat yang hadir.

"Namun hal itu (seniman kompeten, red) sama sekali tidak ada, seharusnya Borobudur bisa belajar dari festival Bali atau Festival Jogja. Ruh dari Bali dan Jogja sangat kental dan warga banyak yang terlibat," katanya.

Hal senada juga diungkapkan, Wasis, Ketua I Asosiasi Kesenian Rakyat Borobudur (Askrab). Pihaknya berharap BIF tahun depan panitia bisa lebih menggandeng kesenian rakyat Borobudur, dan bisa tampil di panggung utama.

Wasisi menyebutkan, dari sekitar 60 kelompok kesenian yang tergabung dalam Askrab, hanya dua yang dilibatkan untuk tampil dalam BIF 2013, yakni topeng ireng dan musik bambu. Itupun mereka tidak pentas di panggung utama. Padahal, pada BIF 2009 lalu, Askrab berkesempatan mengirimkan 15 kelompok kesenian.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Magelang Dian Setya Dharma mengaku, para seniman yang terlibat di BIF 2013 sudah melalui seleksi yang ketat dan dipilih yang terbaik. Pihaknya juga mengaku sudah melakukan melakukan sosialisasi terkait pelaksanaan BIF tahun ini kepada masyarakat termasuk dengan seniman.

"Sudah kami sosialisasikan kepada masyarakat dan seniman. Bahkan mereka kami libatkan di jajaran kepanitiaan maupun penampil," ujar Dian.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X