Demo BBM Berujung Bentrok, Satu Mahasiswa dan Polisi Terluka

Kompas.com - 19/06/2013, 19:42 WIB
|
EditorFarid Assifa

KENDARI, KOMPAS.com - Aksi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM oleh 100 mahasiswa Tehnik Universitas Haluoleo, Kendari, Rabu (19/6/2013) berujung bentrok. Satu mahasiswa dan polisi dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami luka dalam insiden tersebut.

Korban yang luka dari mahasiswa bernama Muhammad Iqbal. Iqbal terluka setelah diinjak-injak petugas polisi. Sementara dari pihak kepolisian, Brigadir Sucipto anggota Provos Polres Kendari terluka bagian dahi akibat lemparan batu mahasiswa.

Kejadian itu berawal saat mahasiswa hendak pulang ke kampus Unhalu seusai demo. Di pertigaan kampus Jalan HEA Mokodompit, mahasiswa melempar pos polisi dengan batu. Spontan polisi mengejar mahasiswa dan melepaskan tembakan gas air mata.

Mahasiswa bertahan hingga di depan kantor BPN kota Kendari, Jalan HEA Mokodompit. Aksi unjuk rasa akhirnya berhenti setelah Kapolresta Kendari AKBP Anjar Wicaksana melakukan negosiasi dengan perwakilan mahasiswa.

Terluka Parah

Sementara itu kondisi Muhammad Iqbal, korban pemukulan dalam bentrok mahasiswa dengan polisi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara pada Rabu ini terluka parah. Korban terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Ismoyo (Korem) Kendari karena RSUD Abunawas tidak memiliki dokter ahli syaraf. Iqbal hanya bisa berbaring di ruang instalasi gawat darurat (IGD) RS Ismoyo Kendari.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Teknik Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari Amirul Mukmin mengatakan, wajah Iqbal lebam setelah diinjak sepatu laras anggota polisi.

"Barusan dia (Iqbal) siuman dan belum bisa diajak komunikasi, hasil visum dokter menyatakan telah terjadi retakan di bagian tengkorak kepalanya. Kami masih menunggu apakah korban akan dioperasi atau tidak, tergantung dokter syaraf," tuturnya dihubungi di RS Ismoyo, Rabu (19/6/2013) malam.

Pihaknya, lanjut Amirul, akan menempuh jalur hukum dengan melapor ke Polda Sultra atas tindakan kebrutalan aparat kepolisian dalam menangani aksi unjuk rasa. Sebab, katanya, Iqbal dipukul dengan menggunakan pentungan yang mempunyai aliran listrik, sehingga dia mengalami kejang-kejang.

"Kami masih mengumpulkan data dalam aksi kekerasan yang dilakukan polisi terhadap rekan kami tadi, setelah itu dilaporkan ke polda," tambahnya.

Sementara itu, Kapolresta Kendari AKBP Anjar Wicaksana mengatakan, pihaknya akan bertanggungjawab atas perawatan Iqbal di rumah sakit. Ia menjelaskan, tidak perlu mencari siapa yang memulai sehingga terjadi kericuhan dalam aksi menolak kenaikan harga BBM yang dilakukan oleh rekan mahasiswa.

"Jadi tidak perlu saling menyalahkan karena dari kedua belah pihak juga ada korban. Saya tegaskan petugas kami tidak dilengkapi dengan alat stik setrum," terangnya di pertigaan kampus Unhalu di Jalan HEA Mokodompit Kendari.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.