Kompas.com - 16/06/2013, 14:31 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

MANADO, KOMPAS.com - Halaman rumah keluarga Teresia Siti Rohma di Lingkungan 10, Kelurahan Malalayang Satu, Kecamatan Malalayang, Manado mendadak menarik perhatian. Pasalnya, sebuah bunga berukuran besar tiba-tiba muncul dari permukaan tanah.

"Tiga tahun lalu saya menanam sebuah bongkol umbi-umbian yang saya bawa dari Sapa, Minahasa tanpa saya tahu itu apa. Lalu saya tanam di halaman rumah," ujar Teresia ketika ditemui Kompas.com di rumahnya, Minggu (16/6/2013).

Selama tiga tahun sejak bongkol itu ditanam, yang keluar adalah tunas. Tunas itu tumbuh menjadi sejenis pohon perdu setinggi rata-rata 1,5 meter. Batangnya berwarna hijau muda dengan ranting-ranting lunak yang berdaun.

"Pohon itu sering mati, tetapi keluar lagi tunas baru dan hidup seperti pohon sebelumnya," jelas Teresia.

Teresia kaget ketika pada tanggal 3 Juni lalu, tiba-tiba dari bongkol yang sama keluar semacam kelopak bunga. Awalnya mereka tidak memperhatikan kemunculan bunga tersebut. Tetapi setelah tiga hari bau busuk menyebar. "Setelah kami cari tahu, ternyata bau busuk tersebut berasal dari bunga yang berwarna merah maron itu," kata Teresia.

Dengan menyebarnya bau busuk tersebut mereka baru sadar bahwa bunga setinggi 40 centimeter dengan diameter lebih kurang 80 centimeter tersebut adalah sejenis bunga bangkai. "Kami heran, bongkol itu ternyata merupakan bunga bangkai," ujar Teresia.

Menurut Kepala Laboratorium Konservasi Biodiversity Universitas Sam Ratulangi Manado, John Tasirin bunga tersebut merupakan jenis Amorphophallus paeoniifolius.

Tasirin menjelaskan, ada 189 jenis Amorphophallus di seluruh dunia. "Di Sulawesi bisa ditemukan tiga jenis. Amorphophallus paeoniifolius yang sebenarnya bisa ditemukan mulai dari Madagaskar, Indonesia, pesisir utara Australia, PNG terus sampai ke Polynesia," ujar Tasirin.

Di Indonesia sendiri ada 24 jenis Amorphopahallus, dua jenis diantaranya dilindungi undang-undang, yakni bunga bangkai raksasa (A. titanum) dan bunga bangkai jangkung (A. decussilvae). Jenis yang tumbuh di pekarangan rumah Teresia, umbinya bisa mencapai diameter 30 cm dengan tebal 20 cm.

Tunas keluar dari umbi utama terjadi setiap tahun sepanjang 10 cm dan diameter 4 cm. "Jenis ini biasanya ditemukan di hutan sekunder atau lahan terganggu baik di tanah yang ternaungi maupun yang terbuka di pesisir pantai sampai pada ketinggian 700 meter dari permukaan laut," jelas Tasirin. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.