Kompas.com - 12/06/2013, 13:46 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

MALANG, KOMPAS.com — Ruben Pata Sambo (27) dan anaknya Markus Pata Sambo, yang divonis dengan hukuman mati terkait kasus pembunuhan, tentu ingin mengungkapkan kronologi pembunuhan yang dituduhkan kepada mereka. Kesempatan itu sebenarnya sudah ada ketika puluhan wartawan mendatangi Lembaga Pemasyarakatan Lowokwaru Malang, Rabu (12/6/2013).

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Ruben dan Markus adalah dua terpidana mati kasus pembunuhan yang ternyata tidak melakukan pembunuhan. Kesimpulan ini muncul setelah ada empat orang di Makassar yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan terhadap sebuah keluarga pada pengujung Desember 2005 silam.

Sayang, pihak Lapas Lowokwaru tak memberikan izin puluhan media bertemu dengan Ruben. Para wartawan tak diizinkan masuk ke dalam Lapas karena Kepala Lapas Lowokwaru Herry Wahyudiono sedang tidak ada di kantor.

"Maaf ya, Bapak (Kalapas) sedang tidak ada di tempat. Kami tidak berani memberikan keterangan karena tidak diberikan wewenang," kata Suliadi, seorang petugas Lapas, kepada puluhan wartawan di pintu Lapas setempat.

Sementara Andreas Nurmandala Sutiono, pembina rohani di Lapas Lowokwaru yang sekaligus pembina rohani Ruben, mengatakan, sejak media menulis kasus Ruben, Ruben mengaku ingin bertemu langsung dengan para wartawan. "Tapi sayang, karena tidak boleh ketemu. Pak Ruben bilang ke saya, ingin sekali ketemu teman-teman wartawan," kata Andreas.

Kamis (13/6/2013) besok, kata Andreas, Ani, putri Ruben, akan mendatangi Ruben di Lapas Lowokwaru. "Sekarang masih mengumpulkan berkas-berkas kasus itu," katanya.

Kepada Andreas, Ruben mengaku, dirinya sudah memaafkan oknum polisi yang pernah memukulinya saat ia ditahan di Mapolres Tana Toraja. "Pak Ruben sudah menerima dan memaafkan semua oknum polisi yang menyiksanya. Begitu juga saat di Lapas di Makassar," katanya.

Sementara itu, selain Ruben, anaknya bernama Markus Pata Sambo, yang juga dihukum mati, kini sedang berada di Lapas Porong Sidoarjo (bukan di Lapas Medaeng). "Untuk bantuan hukum, pihak Kontras sudah menghubungi saya, siap membantu kasus Pak Ruben ini. Saat ini kita hanya berharap, semoga Pak Ruben bisa bebas, tidak dihukum mati. Karena dia tidak terbukti melakukan pembunuhan," kata Andreas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.