Kompas.com - 12/06/2013, 11:15 WIB
|
EditorKistyarini

MAKASSAR, KOMPAS.com — Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Polda Sulselbar) akan menyelidiki perkara pembunuhan yang berujung pada dijatuhkannya vonis mati untuk Ruben Pata Sambo dan anaknya Markus.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulselbar Komisaris Besar (Kombes) Endi Sutendi yang dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (12/6/2013), mengaku tidak mengetahui persis perkara pembunuhan yang terjadi di Tana Toraja tersebut.

"Saya tidak tahu persis itu kasusnya, sebab sudah lama sekali, pada tahun 2005. Tapi dari informasi ini, saya memerintahkan Direktorat Intelijen Polda Sulselbar melakukan penyelidikan. Selain itu, saya akan konfirmasi ke Kapolres Tana Toraja. Yang jelas, Kapolres Tana Toraja berbeda orangnya dengan yang dulu," kata Endi.

Meskipun demikian, Endi menjelaskan, upaya pembebasan Ruben dan Markus bukan merupakan kewenangan kepolisian karena kasusnya sudah disidangkan dan telah berkekuatan hukum tetap dari pengadilan. Dia berharap kasus salah tangkap ini dilaporkan ke Propam Polda Sulselbar untuk ditindaklanjuti.

"Kepolisian tidak mempunyai kewenangan lagi membebaskan korban salah tangkap, sebab sudah divonis oleh pengadilan. Apakah kasus salah tangkap ini sudah dilaporkan? Saya sih berharapnya telah dilaporkan supaya kasusnya ditindaklanjuti. Jika telah divonis oleh pengadilan, terpidana berhak mengajukan peninjauan kembali (PK). Apalagi sudah tertangkap empat pelaku sebenarnya terhadap sekeluarga di Tana Toraja," jelasnya.

Ruben Pata Sambo dan anaknya Markus divonis mati oleh pengadilan dan kini ditahan di Lapas Klas 1 Malang, Jawa Timur. Ayah dan anak ini dituduh melakukan pembunuhan berencana terhadap empat orang keluarga Andrias di Tana Toraja pada Desember 2005 lalu.

Ruben dan Markus ditangkap anggota Polres Tana Toraja dan dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya. Bahkan, keduanya mengaku kerap mendapat penyiksaan dari aparat kepolisian dan ditelanjangi di Markas Polres Tana Toraja. Selama ditahan di Lapas Klas 1 Malang, Ruben menjadi pemuka agama dan disegani di tempat hukumannya. Ruben pun disegani oleh semua tahanan dan petugas Lapas karena perilakunya yang baik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.