Australia Bela Keputusan Tinggalkan Mayat Pencari Suaka di Laut

Kompas.com - 11/06/2013, 14:03 WIB
EditorEgidius Patnistik

SYDNEY, KOMPAS.com — Perdana Menteri Australia Julia Gillard, Selasa (11/6/2013), membela keputusan pemerintahnya meninggalkan mayat-mayat para pencari suaka yang tenggelam di samudra menyusul kecaman bahwa pemerintah negara itu akan berupaya lebih keras seandainya yang tenggelam itu warga Australia.

Sebuah pencarian besar-besaran melalui udara dan laut selama tiga hari terhadap sebuah perahu pencari suaka, yang diduga telah terbalik di dekat Christmas Island dengan sedikitnya 55 orang di dalamnya pekan lalu, gagal menemukan korban selamat. Sebanyak 13 mayat terlihat mengambang di air bersama puing-puing kapal dan sejumlah pelampung, tetapi korban selamat tidak ditemukan.

Para petugas bea cukai mengatakan pada Senin bahwa mereka kini sibuk untuk menyelamatkan kapal lain dan menghentikan pencarian mayat yang menjadi korban dari kapal itu.

"Itu adalah keputusan yang sangat sulit, tetapi itu merupakan keputusan operasional," kata Gillard kepada wartawan. "Sebagaimana komando perbatasan telah buat jelas, mereka selalu menempatkan prioritas tertinggi dalam menyelamatkan nyawa (bukan mencari mayat) dan saya pikir kita semua akan mengerti mengapa itu harus menjadi yang pertama dalam tugas atau pekerjaan apa pun yang komando perbatasan lakukan."

Komunitas Tamil Australia mengkritik langkah itu, dengan mengatakan akan ada kemarahan jika mayat korban warga Australia dibiarkan di perairan terpencil di wilayah Samudra Hindia di Christmas Island. "Jika mereka warga Australia, saya yakin bahwa saya akan marah," kata Bala Vigneswaran, pejabat eksekutif Kongres Tamil Australia, kepada ABC. "Saya yakin bahwa semua orang di Australia akan sangat kecewa dan saya tidak berpikir kita akan memperlakukan warga Australia seperti ini."

Ditanya tentang kritik itu, Gillard mengatakan, Australia akan "selalu menempatkan prioritas tertinggi untuk menyelamatkan nyawa (bukan mayat)".

Kapal yang hancur itu adalah salah satu dari beberapa kapal yang tiba selama seminggu terakhir, bersama tujuh kapal yang membawa total sekitar 500 orang yang dicegat sejak Rabu, termasuk satu kapal yang membawa lebih dari 90 orang yang meminta pertolongan di dekat Christmas Island.

"Saya pikir mengganggu hati semua orang kalau melihat hilangnya nyawa. Itulah sebabnya mengapa kami mengirim pesan yang sangat jelas. Jangan mempertaruhkan nyawa Anda, jangan mempertaruhkan nyawa anak-anak Anda, jangan naik ke perahu-perahu itu."

Ratusan pencari suaka, banyak dari mereka melarikan diri dari Afganistan, Iran, Irak, dan Sri Lanka, telah tenggelam dalam perjalanan ke Australia dalam beberapa tahun terakhir. Perahu-perahu yang mereka gunakan dari pusat-pusat transit di tempat-tempat seperti Indonesia sering kali penuh sesak dan tidak laik untuk melaut.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

4 Pegawai Terkonfirmasi Positif Covid-19, Sebuah Puskesmas di Sumba Timur Ditutup

4 Pegawai Terkonfirmasi Positif Covid-19, Sebuah Puskesmas di Sumba Timur Ditutup

Regional
Alasan Siswi Non-Muslim Diwajibkan Pakai Jilbab, Mantan Wali Kota Padang: Ini Kearifan Lokal

Alasan Siswi Non-Muslim Diwajibkan Pakai Jilbab, Mantan Wali Kota Padang: Ini Kearifan Lokal

Regional
Universitas Lampung Tunda Penyelenggaraan KKN Lapangan

Universitas Lampung Tunda Penyelenggaraan KKN Lapangan

Regional
Siswi SMP Diperkosa Saat Belajar Daring dan Mencari Sinyal di Hutan

Siswi SMP Diperkosa Saat Belajar Daring dan Mencari Sinyal di Hutan

Regional
Tabrakan Kapal di Alur Pelayaran Barat Surabaya, 5 ABK Hilang

Tabrakan Kapal di Alur Pelayaran Barat Surabaya, 5 ABK Hilang

Regional
Kesedihan Ibunda Tak Sempat Jawab Telepon Pratu Dedi Hamdani Sebelum Gugur di Papua

Kesedihan Ibunda Tak Sempat Jawab Telepon Pratu Dedi Hamdani Sebelum Gugur di Papua

Regional
5 Terduga Teroris Berencana Melakukan Aksi di Aceh

5 Terduga Teroris Berencana Melakukan Aksi di Aceh

Regional
Densus 88 Tangkap 5 Terduga Teroris di Aceh

Densus 88 Tangkap 5 Terduga Teroris di Aceh

Regional
Sambungan Telepon Itu Membuat Hari Muhdin Jadi Kelabu

Sambungan Telepon Itu Membuat Hari Muhdin Jadi Kelabu

Regional
KPU Tetapkan Wali Kota Terpilih Makassar Hasil Pilkada 2020

KPU Tetapkan Wali Kota Terpilih Makassar Hasil Pilkada 2020

Regional
Soal Siswi Non-Muslim di SMKN 2 Wajib Pakai Jilbab, Ini Tanggapan Mantan Wali Kota Padang

Soal Siswi Non-Muslim di SMKN 2 Wajib Pakai Jilbab, Ini Tanggapan Mantan Wali Kota Padang

Regional
Mengaku Iseng, Seorang Pria Tega Cekoki Bayi 4 Bulan dengan Miras

Mengaku Iseng, Seorang Pria Tega Cekoki Bayi 4 Bulan dengan Miras

Regional
Dua Bulan Lagi Cuti Menikah, Pratu Dedi Gugur Tertembak Saat Kejar KKB ke Hutan

Dua Bulan Lagi Cuti Menikah, Pratu Dedi Gugur Tertembak Saat Kejar KKB ke Hutan

Regional
Video Viral Bayi 4 Bulan Dicekoki Miras Pamannya, Pelaku Ditangkap dan Terancam 10 Tahun Penjara

Video Viral Bayi 4 Bulan Dicekoki Miras Pamannya, Pelaku Ditangkap dan Terancam 10 Tahun Penjara

Regional
Lapangan Migas Tua di Mahakam Didorong Terus Berproduksi

Lapangan Migas Tua di Mahakam Didorong Terus Berproduksi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X