Kompas.com - 10/06/2013, 08:30 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dipastikan hadir sebagai saksi pada sidang gugatan praperadilan yang diajukan mantan Ketua KPK Antasari Azhar terhadap Polri di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (10/6/2013). Anas sudah mengonfirmasi kehadirannya pukul 10.00 WIB.

"Ya, jam 10.00 sudah konfirm. Semoga tidak ada halangan," ujar kuasa hukum Antasari, Boyamin Saiman, di Jakarta, Senin.

Anas dihadirkan sebagai saksi terkait gugatan Antasari atas tidak adanya kejelasan kasus SMS gelap pada bos PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen. Ia merupakan salah satu teman Nasrudin yang sempat bertemu korban dua hari sebelum penembakan. Saat pertemuan itu, Nasrudin tidak menunjukkan kegelisahan setelah menerima SMS ancaman.

"Waktu bertemu Anas, Nasrudin ceria saja. Tidak resah atau takut seperti orang yang telah terima SMS ancaman. Anas juga tidak ditunjukkan SMS itu," terang Boyamin.

Selain Anas, sidang selanjutnya akan menghadirkan adik dari Nasrudin, Andi Syamsuddin Zulkarnaen; anggota tim kuasa hukum Antasari, Masayu Donny Kertapati; Kombes (Purn) Alfon Lemau; serta ahli IT ITB, Agung Harsoyo.

Antasari pernah membuat laporan kasus SMS gelap ke Polri LP/555/VIII/2011/Bareskrim tanggal 25 Agustus 2011. Namun, hingga saat ini belum ada kejelasan atas penanganan kasus itu. Antasari mengaku tidak pernah mengirim SMS ancaman kepada Nasrudin. Dalam persidangan, SMS itu juga tak dapat dibuktikan sehingga kasus itu disebut SMS gelap.

SMS itu disebut dikirim Antasari setelah Nasrudin memergoki Antasari berduaan dengan Rani Juliani di Hotel Gran Mahakam, Jakarta. Adapun SMS yang disebut dikirim oleh Antasari itu berisi, "Maaf mas, masalah ini cukup kita berdua saja yang tahu. Kalau sampai ter-blow up, tahu konsekuensinya."

Antasari dihukum 18 tahun penjara atas kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Pengusutan kasus SMS gelap ini diharapkan dapat dijadikan bukti baru atau novum.

Pihak kepolisian menyatakan, kasus itu telah dilimpahkan ke Polda Metro Jaya. Kuasa hukum Mabes Polri AKBP W Marbun menegaskan, kasus itu masih dalam tahap penyelidikan dan belum pernah dikeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3). Penyidik mengaku kesulitan karena tidak ada alat bukti yang cukup untuk melakukan penyelidikan. Sebab, bukti berupa ponsel jenis Nokia Comunicator tipe E90 warna hitam milik Nasrudin diduga masih dipegang oleh Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Anggota Komisi III Dorong Polri Sampaikan Motif Sambo Bunuh Yosua Agar Tidak Jadi Liar

    Anggota Komisi III Dorong Polri Sampaikan Motif Sambo Bunuh Yosua Agar Tidak Jadi Liar

    Nasional
    Mahfud Pastikan Pemerintah Terus Kawal Kasus Pembunuhan Brigadir J

    Mahfud Pastikan Pemerintah Terus Kawal Kasus Pembunuhan Brigadir J

    Nasional
    Teka-teki Motif di Balik Skenario Mematikan Sang Jenderal untuk Brigadir J

    Teka-teki Motif di Balik Skenario Mematikan Sang Jenderal untuk Brigadir J

    Nasional
    Pilpres 2024: Berebut Narasi Ruang Publik

    Pilpres 2024: Berebut Narasi Ruang Publik

    Nasional
    Status Irjen Ferdy Sambo di Polri Akan Diputuskan Dalam Sidang Etik

    Status Irjen Ferdy Sambo di Polri Akan Diputuskan Dalam Sidang Etik

    Nasional
    Ferdy Sambo dan Kasus Brigadir J, dari Belasungkawa Berujung Tersangka

    Ferdy Sambo dan Kasus Brigadir J, dari Belasungkawa Berujung Tersangka

    Nasional
    Datangkan Orangtua, Cara Timsus Bikin Bharada E Ungkap Fakta Penembakan Brigadir J

    Datangkan Orangtua, Cara Timsus Bikin Bharada E Ungkap Fakta Penembakan Brigadir J

    Nasional
    Peneliti UGM: KPK Tertinggal dari Kejaksaan Terkait Penindakan

    Peneliti UGM: KPK Tertinggal dari Kejaksaan Terkait Penindakan

    Nasional
    Mahfud kepada Keluarga Brigadir J: Mohon Bersabar dan Percaya Penegak Hukum

    Mahfud kepada Keluarga Brigadir J: Mohon Bersabar dan Percaya Penegak Hukum

    Nasional
    Golkar, PPP, PAN, dan PSI Daftar ke KPU Jadi Calon Peserta Pemilu Hari Ini

    Golkar, PPP, PAN, dan PSI Daftar ke KPU Jadi Calon Peserta Pemilu Hari Ini

    Nasional
    Cerita Ketua RT Ikut Polisi Geledah Rumah yang Ditempati Brigadir J...

    Cerita Ketua RT Ikut Polisi Geledah Rumah yang Ditempati Brigadir J...

    Nasional
    4 Kali Ultimatum Presiden Jokowi Tuntaskan Kasus Brigadir J

    4 Kali Ultimatum Presiden Jokowi Tuntaskan Kasus Brigadir J

    Nasional
    Komnas HAM Harap Bisa Periksa Ferdy Sambo meski Berstatus Tersangka

    Komnas HAM Harap Bisa Periksa Ferdy Sambo meski Berstatus Tersangka

    Nasional
    Mahfud Sebut Motif Sambo Bunuh Brigadir J Sensitif, Hanya Boleh Didengar Orang Dewasa

    Mahfud Sebut Motif Sambo Bunuh Brigadir J Sensitif, Hanya Boleh Didengar Orang Dewasa

    Nasional
    Jejak Ferdy Sambo di Kasus Brigadir J: Dinonaktifkan dari Kadiv Propam, Dicopot, lalu Jadi Tersangka

    Jejak Ferdy Sambo di Kasus Brigadir J: Dinonaktifkan dari Kadiv Propam, Dicopot, lalu Jadi Tersangka

    Nasional
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.