Pramugari Dipukul Penumpang

Kompas.com - 07/06/2013, 02:52 WIB
Editor

Batam, Kompas - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Kepulauan Bangka Belitung Zakaria Umar Hadi ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan Nur Febriyani, pramugari Sriwijaya Air. Ia diduga memukul Nur karena tersinggung saat diminta mematikan ponsel dalam kabin pesawat.

Pemukulan terjadi pada Rabu (5/6) malam saat pesawat Sriwijaya Air yang ditumpanginya dari Jakarta mendarat di Bandara Depati Amir, Bangka Tengah.

Kepastian status Zakaria disampaikan Kepala Bagian Operasi Kepolisian Resor Pangkal Pinang Komisaris AB Arifin, Kamis, di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Penetapan status itu menyusul laporan Nur ke Polsek Pangkalan Baru. Kerabat Nur, Shita Destya, mengatakan, Zakaria memukul korban dengan gulungan koran beberapa kali. ”Telinga kakak saya sakit. Bagian belakang kepala memar. Dia masih trauma,” ujarnya, kemarin.

Insiden bermula saat Nur meminta Zakaria mematikan telepon selulernya saat duduk dalam pesawat. Permintaan itu sesuai standar keselamatan penerbangan. Saat itu, pesawat bersiap lepas landas dari Bandara Soekarno- Hatta, Jakarta, menuju Bangka Tengah. Zakaria memang akhirnya mematikan ponsel.

Sekitar sejam kemudian, saat pesawat mendarat, Zakaria mendekati Nur yang berada di dekat pintu keluar pesawat dan memberi salam kepada setiap penumpang. Zakaria, yang termasuk penumpang paling akhir turun, lalu memukulkan gulungan koran ke bagian kepala Nur.

Kuasa hukum Zakaria, Elissa, menolak memberikan keterangan dengan alasan kasusnya masih diselidiki. ”Sebaiknya menunggu penjelasan Dinas Komunikasi dan Informatika Babel,” ujarnya.

Secara terpisah, juru bicara Sriwijaya Air, Agus Soedjono, menyatakan, perusahaan menyiapkan bantuan hukum bagi Nur. ”Menyalakan ponsel di dalam pesawat tidak sesuai dengan aturan internasional soal keselamatan penerbangan,” tuturnya.

Dukung proses hukum

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Babel KA Tajuddin menyatakan sudah mendapat penjelasan dari Zakaria. ”Pak Zakaria paham aturan naik pesawat, seperti mematikan ponsel saat di kabin. Buktinya selama ini tidak pernah terjadi insiden apa-apa saat beliau naik pesawat berkali-kali,” ujarnya.

Namun, lanjut Tajuddin, Zakaria merasa tidak nyaman dengan perlakuan awak kabin Sriwijaya Air saat itu. Zakaria mengakui diingatkan untuk mematikan ponsel. Karena model lama, dibutuhkan beberapa saat sampai ponsel mati total. Setelah ponsel mati, Zakaria menunjukkannya kepada awak kabin. ”Menurut Pak Zakaria, pramugari terlihat tidak senang saat Pak Zakaria menunjukkan ponsel yang sudah mati,” tuturnya.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mendukung proses hukum kasus itu. Menggunakan ponsel di dalam pesawat merupakan pelanggaran, sesuai UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Hal itu membahayakan keselamatan penerbangan. Sanksinya bisa berupa hukuman penjara dua tahun dan denda Rp 200 juta. (RAZ/ARN)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.