Kompas.com - 03/06/2013, 20:14 WIB
|
EditorFarid Assifa

KENDARI, KOMPAS.com - Raut wajah sedih terpancar di wajah Rahmawati (36), warga Lingkungan Latsitarda, Kelurahan Lamangga, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Pasalnya, Hairun, anaknya yang masih berumur enam bulan hasil pernikahannya dengan Asmono (29) mengidap tumor pembuluh darah pada mata bagian kirinya. Tumor yang diderita balita ini kian hari semakin membesar.

Rahmawati menceritakan, saat anaknya masih berumur sekitar 20 hari, muncul bintik merah di bagian kelopak matanya. Saat itu, sang ibu tidak merasa panik karena bintik merah yang muncul di kira gigitan nyamuk, sebab tidak terdapat benjolan. Karena sudah beberapa hari bintik merah tersebut tidak hilang, Rahmawati kemudian berinisiatif untuk membawa anaknya ke dokter untuk diperiksa. Kemudian Hairun diberikan obat. Namun, obat habis bintik merah tersebut tak kunjung hilang, justru bintik merah mulai berubah menjadi benjolan kecil.

"Karena obat sudah habis saya kembali ke dokter karena sudah mulai muncul benjolan kecil. Setelah dokter periksa ternyata tumor pembuluh darah," tuturnya, Senin (3/6/2013).

Selanjutnya dokter menyarankan kepada Rahmawati untuk segera merujuk Hairun ke RSUD Palagimata untuk pemeriksaan lebih lanjut. Di RSUD Palagimata, Hairun hanya diberikan obat tetes mata dan surat rujukan ke Rumah Sakit Makassar diobati. Obat tetes mata tersebut juga habis digunakan, tetapi benjolan justru terus bertambah besar. Sementara untuk melakukan pengobatan di Makassar butuh biaya yang besar.

"Untuk dirawat di RSUD Palagimata saja saya tidak punya biaya, apalagi mau berobat ke Makassar," tambahnya.

Jika hanya berharap dari penghasilan bekerja tidak cukup. Rahmawati sendiri hanya berstatus sebagai ibu rumah tangga. Sementara sang suami, Asmono bekerja sebagai buruh harian lepas di pabrik tahu. Penghasilan Asmono sendiri hanya sebesar Rp 30.000 per hari. Jadwal kerjanya juga tidak setiap hari karena harus bergilir dengan pekerja lepas lainnya.

Tak mau berputus asa demi si buah hati, berbagai upaya terus dilakukanRahmawati. Dirinya kemudian meminta bantuan ke Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Sosial dengan harapan dapat diberi bantuan biaya pengobatan. Tetapi apa yang diharapkan Rahmawati justru berbanding terbalik. Dari Dinas Sosial melalui salah seorang stafnya mengatakan bahwa untuk bantuan seperti ini (pengobatan tumor) tidak ada pos anggarannya.

"Katanya orang di Dinas Sosial tidak ada pos anggarannya. Sementara saya sudah berusaha untuk bertemu pak wali kota tapi tidak pernah berhasil karena pak wali kota selalu tidak berada di tempat. Kalau di Dinas Kesehatan katanya sedang urus Jamkesmas nasional," pungkasnya.

Rahmawati mulai pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Selain berharap bantuan dari para dermawan, ia juga masih tetap berharap bantuan pemerintah. Surat rujukan yang diberikan oleh RSUD Palagimata bukannya dibawa pulang untuk menjadi pegangan, dia justru menyimpannya di kantor wali kota. Hal itu dilakukan dengan harapan agar Wali Kota Baubau AS Thamrin dapat membantu biaya pengobatan putra ketiganya tersebut.

Menurut Rahma, perhitungan dokter di RSUD Palagimata, biaya yang harus dikeluarkan untuk merujuk bayinya ke Makassar dan dioperasi berkisar sampai Rp 20 juta. Biaya tersebut terbilang sangat besar untuk keluarga Asmono, sementara operasi harus segera dilakukan mengingat tumor tersebut semakin hari semakin membesar hingga nyaris mendekati matanya bagian kanan.

"Kata dokter biaya yang diperlukan untuk operasi sekitar 20 juta rupiah. Kita mau ambil uang sebanyak itu dari mana? Sementara tumornya terus bertambah besar," tutupnya dengan sesekali menyeka air matanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.