Hanacaraka, Berkesenian Sambil Berbagi Ilmu...

Kompas.com - 03/06/2013, 14:53 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

MAGELANG, KOMPAS.com - Riuh tepuk tangan penonton menggema ketika kelompok musik Intuisi Musik Puisi membuka acara Hanacaraka di pelataran sanggar seni WatuJowo Art Studio Desa Ngaran Ngisor, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang Jawa Tengah, akhir pekan kemarin.

Tidak berlebihan, karena aksi mereka yang apik mengkolaborasikan antara musik etnik dan lirik puisi sekaligus aksi teatrikal. Lirik puisi karya Bambang Eka, seniman asal Magelang, berjudul 'Omong Kosong' dan 'Di Negeri Kaya Kita Punya Apa' dibawakan Bambang Eka sendiri.  Sesuai dengan pesan puisi, dia menjelma menjadi seorang calon pemimpin yang suka mengumbar janji.

Dalam acara yang bertajuk Maca Kahanan Jaman (membaca keadaan jaman) itu, bukan hanya Bambang Eka bersama Intuisi Musik Puisi-nya yang tampil malam itu, ada Musik Wani Teater ASA dari Semarang juga blak-blakan dalam mengkritisi keadaan jaman sekarang.

'Aku Kabarkan Kenyataan Padamu, Penyair' dan 'Selamat Datang di Negeri Badut' adalah beberapa judul puisi yang dibacakan Wikha Setiawan, salah satu seniman Musik Wani Teater ASA Semarang.

Dalam pesan yang tersirat dalam puisi itu, mereka mencoba melemparkan kritik, bukan hanya kepada pemerintah, namun kritikan tersebut juga disampaikan kepada pelaku seni. Usai disuguhi penampilan apik kedua kelompok musik tadi, ratusan penonton yang berasal dari Magelang, Semarang dan Yogyakarta itu disuguhi monolog seniman Madura, Timur Budi Raja.

Timur, tampil sendiri membaca puisi 'Sihir Debu' dan 'Orang-Orang Sunyi'. Performance Timur semakin apik dengan iringan gitar akustik. Acara dilanjutkan dengan dialog kebudayaan oleh dua dua budayawan yakni Nundang Rundagi dan Ariswara Sutomo.

Dalam sesi dialog itu, Nundang menuturkan bahwa melestarikan bahasa daerah merupakan wujud menjaga negara bisa dari hal yang sederhana. Sebab, fenomena saat ini banyak masyarakat khususnya generasi muda yang enggan menggunakan bahasa sendiri.

Kebanyakan mereka lebih merasa trendi dengan bahasa serapan dari bahasa asing. "Misalnya saja, istilah herbal. Herbal itu jamu. Tapi karena herbal lebih familiar maka banyak orang yang lantas meninggalkan produk-produk lokal atau jamu itu sendiri. Ini bisa jadi menggerus perekonomian bangsa," tutur Aris mencontohkan.

Sementara Ariswara Sutomo juga berkisah sekilas tentang Wiji Thukul, seorang penyai asal Solo yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya. Dia bercerita bahwa seorang Wiji Thukul pernah bersembunyi di rumahnya. Kepada Ariswara, Wiji Thukul bercerita banyak hal tentang cita-cita bangsa Indonesia ke depan.  "Pelaku seni seyogyanya juga mampu memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa dan Negara," harapnya.

Diakhir acara, kelompok musik asal Yogyakarta, Adakalanya, menampilkan aksi yang tidak kalah memukau penonton.

Sementara itu, menurut Andri Topo, Koordinator acara tersebut mengatakan bahwa kegiatan seni dalam bentuk apapun sebaiknya juga menyelipkan nilai pesan moral dan pengetahuan. Seperti kegiatan yang ia gagas ini, yang merupakan wahana pengetahuan bagi masyarakat melalui kesenian.

"Selama ini, orang menonton kesenian hanya bisa komentar indah dan tidak indah, atau bagus dan biasa saja. Tapi, dengan kegiatan ini, penonton juga bisa mendapatkan pengetahuan baru," ungkap Andri.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X