Bupati: Puluhan Lembaga Cuma Bisa Kritik Kasus Syiah Sampang

Kompas.com - 03/06/2013, 12:44 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

SAMPANG, KOMPAS.com — Berdasarkan perhitungan Pemerintah Kabupaten Sampang, selama sembilan bulan ini sudah ada 40 lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang datang ke lokasi pengungsian penganut Syiah Sampang di gedung tenis indoor Sampang, Jawa Timur.

Termasuk di dalamnya adalah Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) beberapa waktu lalu. Namun, kedatangan mereka bukan memberikan solusi, melainkan sekadar kunjungan biasa. Bahkan, ada hal yang mengecewakan Bupati Sampang, Fannan Hasib, bahwa Wantimpres menilai Kabupaten Sampang termasuk daerah yang tidak merespons imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal toleransi agama.

"Saya kecewa jika Sampang disebut-sebut sebagai daerah yang kurang respons terhadap toleransi beragama. Padahal, Pemerintah Kabupaten Sampang sudah memberi keleluasaan terhadap pelaksanaan keagamaan," kata Fannan, Senin (3/6/2013), melalui sambungan telepon.

Terkait kerusuhan antara penganut Syiah dan anti-Syiah di Sampang pada Agustus 2012 lalu, kata Fannan, pihaknya tidak tinggal diam dan masih mencari langkah pemecahan yang dapat diterima oleh kedua kelompok. Selama ini, upaya yang ditawarkan belum mendapatkan tanggapan positif baik dari pengungsi Syiah maupun warga Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran.

"Kami menjadi bingung mencarikan solusi, apalagi Wantimpres dan beberapa lembaga lain yang jumlahnya lebih dari 40 lembaga itu hanya datang ke Sampang dan setelah itu mereka hanya bisa melontarkan penilaian dan kritikan, bukan memberi masukan apa yang harus kami lakukan," tandas Fannan.

Diakui Fannan, kondisi intoleransi keagamaan di Sampang sudah disampaikan di hadapan pimpinan DPR RI beberapa waktu lalu. Penyampaian itu sebagai argumentasi bahwa konflik tersebut bukan karena salahnya kebijakan Pemkab Sampang.

"Penanganan Syiah dan anti-Syiah di Sampang bukan hanya tugas Pemkab Sampang, tetapi tugas semua pihak," tegasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lokasi Budidaya Ganja di Polybag Ternyata Rumah Orangtua Mantan Wali Kota Serang

Lokasi Budidaya Ganja di Polybag Ternyata Rumah Orangtua Mantan Wali Kota Serang

Regional
Menengok Belajar Tatap Muka di Cianjur, Protokol Covid-19 Diberlakukan Ketat

Menengok Belajar Tatap Muka di Cianjur, Protokol Covid-19 Diberlakukan Ketat

Regional
Tips Nyaman Pakai Masker dalam Waktu Lama dan Bebas Bau Mulut

Tips Nyaman Pakai Masker dalam Waktu Lama dan Bebas Bau Mulut

Regional
Budidaya 45 Batang Ganja di Polybag Bertahun-tahun, Pria Ini Berdalih untuk Penelitian

Budidaya 45 Batang Ganja di Polybag Bertahun-tahun, Pria Ini Berdalih untuk Penelitian

Regional
Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Regional
Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Regional
2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus 'Lockdown'

2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus "Lockdown"

Regional
Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Regional
Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Regional
'Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi'

"Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi"

Regional
[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

Regional
Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Regional
Bawaslu Catat 291 Pertemuan Dilakukan Paslon Pilkada Gunungkidul

Bawaslu Catat 291 Pertemuan Dilakukan Paslon Pilkada Gunungkidul

Regional
Inovatif, Mahasiswa di Semarang Ciptakan Alat Pendeteksi Suhu dan Masker

Inovatif, Mahasiswa di Semarang Ciptakan Alat Pendeteksi Suhu dan Masker

Regional
Kronologi Demo Berujung Ricuh, Gas Air Mata ke Permukiman Membuat Warga Marah

Kronologi Demo Berujung Ricuh, Gas Air Mata ke Permukiman Membuat Warga Marah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X