Pekerja Tambang yang Tertimbun Akhirnya Meninggal

Kompas.com - 01/06/2013, 22:11 WIB
|
EditorEgidius Patnistik

TIMIKA, KOMPAS.com - PT Freeport Indonesia kembali berduka. Seorang pekerja tambang yang Jumat kemarin tertimbun material bijih basah di tambang bawah tanah Deep Ore Zone (DOZ), pada Sabtu ini sekitar pukul 18.29 WIT akhirnya meninggal dunia di Rumah Sakit International SOS Tembagapura.

PT Freeport Indonesia dalam siaran persnya Sabtu (1/6/2013) malam, menyatakan Herman Wahid meninggal setelah sempat menjalani perawatan di ruang ICU Rumah Sakit ISOS Tembagapura.

Rencananya jenasah Herman akan dikirim ke kampung halamannya di Sulawesi Selatan Minggu pagi. Dalam siaran pers tersebut, Presiden Direktur PT Freeeport Indonesia, Rozik B. Soetjipto menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan orang-orang terdekatnya. Menurutnya, Herman sudah bekerja di perusahaan tambang ini selama 9 tahun dan meninggalkan seorang istri dan 3 orang anak.

"Kami akan melakukan segala hal yang bisa kami lakukan untuk membantu keluarganya dalam menghadapi situasi dan cobaan ini," jelasnya. Rozik juga menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan investigasi terkait insiden itu karena area di sekitar lokasi insiden dalam keadaaan yang tidak sesuai dengan protokol keselamatan yang disahkan PT Freeport Indonesia dalam menangani lumpur basah.

Terkait insiden itu, PT Freeport Indonesia menegaskan dalam siaran persnya bahwa tidak ada keterkaitan dengan insiden runtuhnya terowongan Big Gossan yang berjarak sekitar 2 kilometer dari tempat kejadian. Seperti yang diberitakan sebelumnya, Jumat kemarin, sekitar pukul 13.40 WIT, Herman Wahid yang mengemudikan truk tambang tertimbun material bijih basah (wet muck) di loading point 1 charlie west, tambang bawah tanah DOZ, Mil 74, Distrik Tembagapura.

Kepala Kepolisian Sektor Tembagapura, AKP Sudirman yang dihubungi melalui telepon selulernya malam ini menyatakan sudah melakukan olah tempat kejadian perkara, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari mulut terowongan DOZ. Menurutnya, kepolisian tetap akan melakukan penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi serta pihak lain yang terkait. "Saya sudah sampai di TKP dan disana dilakukan kegiatan perawatan tambang bawah tanah karena banyak material yang tertinggal di dalam dan berpotensi bahaya kalau tidak dikeluarkan,"jelasnya.

Pada 14 Mei lalu, terjadi insiden di tambang bawah tanah Big Gossan, ketika ruang kelas 11 Quality Manajement Services (QMS) Underground tertimbun runtuhan batuan atap tambang seberat 500 ton yang mengakibatkan 28 orang pekerja meninggal dunia, dan 10 orang lainnya mengalami cedera berat dan ringan.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X