Warga Syiah Sampang Minta Pemerintah Kembalikan Hartanya

Kompas.com - 01/06/2013, 21:06 WIB
|
EditorErlangga Djumena

SAMPANG, KOMPAS.com - Tragedi pengusiran warga Syiah Sampang, Jawa Timur dari kampung halamannya di Desa Bluuran, Kecamatan Omben dan Desa Karang Gayam, Kecamatan Karang Penang, akhir Agustus 2012 lalu, masih menyimpan trauma. Mereka banyak kehilangan harta kekayaannya. Rumah mereka dibakar, ternak mereka dicuri, pertanian mereka dibabat habis dan kebebasan mereka dikekang.

Oleh karena itu, 167 penganut Syiah yang saat ini tinggal di pengungsian di gedung tenis indoor menuntut kepada pemerintah, agar kekayaan mereka dikembalikan.

Jamali (50), warga Syiah asal Desa Bluuran mengatakan, surat-surat tanahnya sudah hilang diambil orang yang tidak bertanggung jawab, serta ada yang terbakar saat kejadian pengusiran pada Agustus 2012 lalu.

"Sama sekali surat-surat tanah kami tidak ada. Pemerintah seharusnya membantu kami untuk mendapatkan surat-surat berharga itu kembali," terangnya, saat ditemui di pengungsian, Sabtu (1/6/2013).

Hal senada dikatakan Suprani (45), warga Desa Karang Gayam. Surat-surat tanahnya kini entah kemana. Saat kejadian pengusiran dulu, dirinya tidak sempat menyelamatkannya karena keburu dievakuasi oleh Brimob Polda Jawa Timur, menuju pengungsian.

"Kami khawatir kalau surat-surat tanah kami tidak dipegang kami. Khawatir ada pengalihan kepemilikan dengan cara tidak sah," kata Suprani.

Sementara itu Iklil Al Milal, pimpinan Syiah Sampang mengatakan, kerugian akibat kejadian pengusiran warga Syiah sudah tidak terhitung. Rumah-rumah warga Syiah saat ini sudah tidak berpenghuni dan perlahan mengalami kerusakan. Apalagi pesantren kakak kandungnya, Tajul Muluk, yang menjadi sasaran utama kemarahan warga anti Syiah dengan cara dibakar.

"Membangun kembali rumah-rumah yang sudah habis terbakar dan sudah rusak membutuhkan waktu lama. Apalagi kami tidak diberikan kebebasan untuk bekerja di kampung halaman," ungkap Iklil.

Sementara itu, pemerintah seakan-akan tutup mata dengan kondisi seperti itu. Bahkan pemerintah menawarkan solusi transmigrasi. Tawaran itu menurut Iklil dinilai sebagai bentuk pengusiran secara halus. Sebab transmigrasi bisa dilakukan jika di kampung halamannya sudah tidak ada lahan produktif untuk dikelola dan sudah tidak ada pekerjaan.

"Secara tidak langsung, tramsmigrasi adalah pengusiran secara halus. Kami tidak tahu akan dijadikan apa tanah kami kalau memang niat pemerintah itu diwujudkan," keluhnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

19 Daerah di Jatim Jadi Zona Kuning Covid-19, Ini Pesan Khofifah untuk Warganya...

19 Daerah di Jatim Jadi Zona Kuning Covid-19, Ini Pesan Khofifah untuk Warganya...

Regional
Lokasi Budidaya Ganja di Polybag Ternyata Rumah Orangtua Mantan Wali Kota Serang

Lokasi Budidaya Ganja di Polybag Ternyata Rumah Orangtua Mantan Wali Kota Serang

Regional
Menengok Belajar Tatap Muka di Cianjur, Protokol Covid-19 Diberlakukan Ketat

Menengok Belajar Tatap Muka di Cianjur, Protokol Covid-19 Diberlakukan Ketat

Regional
Tips Nyaman Pakai Masker dalam Waktu Lama dan Bebas Bau Mulut

Tips Nyaman Pakai Masker dalam Waktu Lama dan Bebas Bau Mulut

Regional
Budidaya 45 Batang Ganja di Polybag Bertahun-tahun, Pria Ini Berdalih untuk Penelitian

Budidaya 45 Batang Ganja di Polybag Bertahun-tahun, Pria Ini Berdalih untuk Penelitian

Regional
Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Regional
Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Regional
2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus 'Lockdown'

2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus "Lockdown"

Regional
Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Regional
Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Regional
'Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi'

"Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi"

Regional
[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

Regional
Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Regional
Bawaslu Catat 291 Pertemuan Dilakukan Paslon Pilkada Gunungkidul

Bawaslu Catat 291 Pertemuan Dilakukan Paslon Pilkada Gunungkidul

Regional
Inovatif, Mahasiswa di Semarang Ciptakan Alat Pendeteksi Suhu dan Masker

Inovatif, Mahasiswa di Semarang Ciptakan Alat Pendeteksi Suhu dan Masker

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X